Rupiah melemah pagi ini, hasil pertemuan BEI-OJK dengan MSCI disebut jadi faktor

Nilai tukar rupiah menunjukkan tren pelemahan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (dolar AS) pada Rabu (4/2) pagi. Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.32 WIB, kurs rupiah tercatat berada di level Rp 16.767 per dolar AS, melemah 13 poin atau setara 0,08% dibandingkan penutupan sesi sebelumnya.

Advertisements

Pelemahan ini, menurut Fikri C Permana, Senior Economist KB Valbury Sekuritas, dipengaruhi oleh serangkaian faktor baik dari ranah domestik maupun global. Dari sisi domestik, salah satu pemicunya adalah hasil pertemuan antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI). “Sentimen hasil keputusan BEI dan OJK di pagi ini,” ujar Fikri kepada Katadata, Rabu (4/2), menjelaskan salah satu faktor krusial dalam pergerakan mata uang garuda.

Selain itu, lanjut Fikri, angka Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia juga turut berkontribusi terhadap tekanan pada rupiah. Sementara itu, dari arena internasional, sentimen pelemahan rupiah diperparah oleh peningkatan Indeks Harga Produsen (PPI) Amerika Serikat pada Desember sebelumnya. Faktor global lain yang tak kalah penting adalah ekspektasi atas sikap relatif hawkish dari Kevin Warsh, yang memberikan tekanan tambahan pada pasar keuangan global dan berdampak pada rupiah.

Di tengah dinamika pasar ini, sorotan juga tertuju pada pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Sebelumnya, Purbaya menyatakan keyakinannya bahwa ia tidak akan menemui kesulitan untuk membawa nilai tukar rupiah ke level Rp 15.000 per dolar AS, andai saja ia memegang kendali di Bank Indonesia (BI). “Saya pikir, (rupiah) bergerak menuju Rp 15.000 per US$ tidak akan sulit, jika saya berada di posisi mereka (bank sentral),” kata Purbaya dalam acara Indonesia Economic Summit (IES) yang baru saja berlangsung di Jakarta, Selasa (3/2).

Advertisements

Purbaya menekankan bahwa peran utama BI adalah menjaga stabilitas mata uang. Ia mengamati bahwa level rupiah saat ini dinilai terlalu rendah jika dibandingkan dengan fundamental ekonominya. “Anda harus tanya gubernur BI. Namun menurut saya, level (rupiah) terlalu rendah dibandingkan fundamentalnya. Mata uang regional lain menguat terhadap dolar AS, sementara rupiah melemah,” tegasnya, menyuarakan keprihatinan atas tren yang berlawanan dengan mata uang regional lainnya di Asia.

Kekhawatiran Purbaya semakin mendalam melihat pergerakan rupiah yang mendekati ambang Rp 17.000 per dolar AS. Meski demikian, ia meyakini bahwa depresiasi saat ini tidak akan memicu krisis ekonomi parah seperti yang terjadi pada periode 1997-1998. Sebagai Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Purbaya memastikan bahwa pihaknya akan secara proaktif mengantisipasi dan mengelola risiko pelemahan rupiah yang lebih dalam, demi menjaga stabilitas sistem keuangan nasional dan kepercayaan investor.

Advertisements