Saham BMRI, BMRI Cs Dibuka Loyo saat IHSG Menguat

Pada awal perdagangan hari ini, Senin, 29 September 2025, lantai bursa menyaksikan fenomena kontras: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka dengan optimisme, namun saham-saham perbankan pelat merah justru tak berdaya, berguguran ke zona merah. Pelemahan ini sontak menjadi sorotan di tengah geliat pasar yang seharusnya positif.

Advertisements

Emiten-emiten raksasa perbankan milik negara tak luput dari tekanan. Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) terpantau melemah tipis 0,23% menuju level Rp4.410 per saham. Tak jauh berbeda, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencatatkan pelemahan lebih signifikan sebesar 1,24% atau 50 poin, sehingga harga sahamnya berada di Rp3.990. Demikian pula dengan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang terkoreksi 0,96% atau 40 poin ke Rp4.140 per saham. Sementara itu, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) turut merasakan dampak, melemah 0,38% ke Rp1.295 per saham, dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) merosot 1,12% ke level Rp2.640 per saham.

Kontras dengan lesunya saham-saham perbankan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru menunjukkan performa yang menjanjikan. Menurut data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG berhasil menguat 0,45% atau 36,27 poin, mencapai posisi 8.135,61 hingga pukul 09.02 WIB. Sepanjang pagi ini, IHSG bergerak di rentang 8.133,92 hingga 8.149,46. Optimisme pasar juga tercermin dari jumlah saham yang menguat, yakni 307 saham, berbanding 123 saham yang terkoreksi dan 200 saham yang stagnan. Total kapitalisasi pasar atau market cap pun mengesankan, mencapai Rp14.996,28 triliun.

Namun, di balik kegairahan IHSG, investor nampaknya mencermati sebuah isu fundamental yang memicu pelemahan saham-saham Himbara: rencana kebijakan kenaikan bunga deposito valuta asing (valas) dolar AS menjadi 4% oleh bank-bank tersebut. Kebijakan ini, yang memantik diskusi sengit mengenai likuiditas dan implikasi pasar, menjadi bayangan yang membayangi kinerja saham perbankan BUMN.

Advertisements

Pengumuman kontroversial ini datang pada Rabu, 24 September 2025, ketika lima bank besar – BRI, Bank Mandiri, BNI, BTN, dan BSI – serentak menaikkan suku bunga deposito valas dalam bentuk dolar AS menjadi 4,00% per tahun. Kenaikan drastis ini berlaku untuk semua tenor dan tiering, jauh melampaui rentang sebelumnya yang hanya berkisar 0,20% hingga 2,5% per tahun. Rencananya, kebijakan baru ini akan mulai berlaku efektif pada 5 November 2025. Yang menarik, suku bunga 4% ini melampaui tingkat bunga penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk simpanan valas, yang saat ini 2,25% dan bahkan akan turun menjadi 2,00% mulai 1 Oktober 2025 hingga 31 Januari 2026.

Isu kenaikan bunga deposito valas ini semakin memanas dengan berhembusnya kabar bahwa kebijakan tersebut bukan murni keputusan bisnis, melainkan arahan langsung dari pemerintah. Namun, tudingan ini dibantah keras oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Terlepas dari kebenarannya, langkah ini telah memicu kekhawatiran akan konsekuensi di pasar keuangan, terutama potensi tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Mengutip data Bloomberg pada Minggu, 28 September 2025, nilai tukar rupiah tercatat telah mencapai Rp16.738 per dolar Amerika Serikat (AS), menunjukkan kerentanan yang ada.

Dalam klarifikasinya, Purbaya menegaskan bahwa Kementerian Keuangan tidak pernah memberikan arahan kepada Danantara maupun bank-bank BUMN untuk menaikkan bunga deposito valas AS. Ia juga telah melakukan konfirmasi kepada Bank Indonesia dan Danantara, yang mana keduanya juga menyatakan tidak ada arahan serupa. Purbaya mengakui memang pernah ada diskusi mengenai insentif bagi pemegang valas agar memindahkan dananya dari Singapura ke Indonesia. “Cuma itu masih belum selesai, masih ada risiko yang mesti dihitung,” ujarnya di Kantor Kemenkeu di Jakarta, Jumat, 26 September 2025. Ia bahkan menambahkan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan timnya untuk melakukan perhitungan risiko menyeluruh dari kebijakan tersebut dalam dua pekan. Purbaya lantas menyatakan kebingungannya atas keputusan bank-bank BUMN yang sudah menaikkan bunga valas, mengingat hasil laporan tim perhitungan risiko baru akan masuk pada Jumat, 3 Oktober 2025. Ini menunjukkan adanya disonansi antara rencana strategis pemerintah dengan implementasi kebijakan di lapangan, yang pada akhirnya turut memengaruhi sentimen pasar terhadap saham perbankan Himbara.

Ringkasan

Pada tanggal 29 September 2025, perdagangan saham menunjukkan kontraksi, di mana IHSG menguat sementara saham-saham perbankan BUMN (BMRI, BBRI, BBNI, BBTN, BRIS) justru melemah. Pelemahan saham Himbara ini terjadi meskipun IHSG menunjukkan performa positif dengan kenaikan sebesar 0,45%.

Pemicu utama pelemahan saham perbankan BUMN diduga kuat terkait dengan rencana kenaikan bunga deposito valuta asing (valas) dolar AS menjadi 4%. Kebijakan ini menimbulkan kekhawatiran akan implikasi pasar, termasuk potensi tekanan terhadap nilai tukar rupiah, meskipun Menteri Keuangan membantah adanya arahan dari pemerintah terkait kebijakan tersebut.

Advertisements