Saham-saham di sektor energi Amerika Serikat (AS) dan Eropa menunjukkan pelemahan serempak pada Rabu (8/4). Kondisi ini dipicu oleh pemberlakuan gencatan senjata di Timur Tengah, yang secara signifikan meredakan kecemasan pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak melalui Selat Hormuz. Akibatnya, harga komoditas vital ini mengalami tekanan jual yang kuat.
Mengutip laporan Reuters, harga minyak anjlok hingga di bawah USD 100 per barel. Penurunan drastis ini terjadi setelah Presiden AS, Donald Trump, pada Selasa (7/4) malam menyetujui penangguhan serangan terhadap Iran selama dua pekan, dengan syarat utama pembukaan kembali jalur pelayaran minyak yang aman dan segera.
Achilleas Georgolopoulos, Analis Pasar Senior dari XM, menyoroti bahwa respons awal pasar terhadap berita ini cukup substansial. Namun, ia mengingatkan bahwa sentimen pasar ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan berita terbaru. Georgolopoulos menambahkan, setiap indikasi rapuhnya perjanjian gencatan senjata dapat dengan cepat membalikkan optimisme, dan harga minyak akan menjadi indikator pertama yang bereaksi.
Kontrak berjangka Brent bahkan sempat menyentuh level terendah dalam hampir satu bulan, yakni USD 90,40 per barel. Penurunan ini kontras dengan kondisi sebelumnya di bulan Maret, ketika Brent mencatat kenaikan bulanan yang signifikan akibat gangguan pasokan minyak terkait konflik di kawasan tersebut.
Sejak akhir Februari hingga 7 April, harga Brent dan West Texas Intermediate (WTI) memang telah menunjukkan kenaikan luar biasa, masing-masing melonjak 50,8 persen dan 68,5 persen. Lonjakan harga ini merupakan dampak langsung dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mengancam stabilitas jalur distribusi minyak global.
Matthew Ryan, Kepala Strategi Pasar di perusahaan jasa keuangan global Ebury, memproyeksikan bahwa volatilitas pasar kemungkinan besar akan tetap tinggi. Pelaku pasar akan terus memantau dengan saksama perkembangan negosiasi gencatan senjata dan dinamika aktivitas pengiriman energi.
Penurunan harga minyak ini turut menyeret kinerja saham-saham energi yang sebelumnya mencatat penguatan tajam. Saham perusahaan raksasa seperti Exxon Mobil dan Chevron masing-masing merosot lebih dari 5 persen. Sementara itu, emiten lain seperti Occidental Petroleum, Devon Energy, Diamondback Energy, dan ConocoPhillips melemah antara 5,1 persen hingga 7,5 persen. Sektor jasa ladang minyak dan kilang pun mengalami koreksi luas.
Analis dari Capital One Securities menilai bahwa kondisi ini akan menjadi tekanan signifikan bagi perusahaan eksplorasi dan produksi (E&P) serta emiten terkait energi lainnya. Para eksportir gas alam cair (LNG), yang sebelumnya diuntungkan dari lonjakan harga selama konflik, juga tidak luput dari tekanan. Saham Venture Global dan Cheniere Energy masing-masing anjlok 12 persen dan 5,9 persen.
Koreksi ini datang setelah kinerja sektor energi yang mengesankan pada kuartal pertama. Lonjakan harga minyak kala itu berhasil mendorong indeks energi S&P 500 naik lebih dari 37 persen, menjadikannya sektor dengan kinerja terbaik. Ironisnya, pada periode yang sama, indeks S&P 500 secara keseluruhan justru turun sekitar 4,6 persen.
Ashley Kelty, seorang analis dari Panmure Liberum, berpendapat bahwa jeda konflik ini memberikan kesempatan bagi pasar untuk mencerna dampak kerusakan pada fasilitas energi. Selain itu, ini juga memberi waktu untuk menilai kebutuhan dan proses peningkatan kembali produksi minyak.
Di pasar Eropa, saham-saham perusahaan energi besar turut tertekan. TotalEnergies, Shell, BP, Eni, dan Repsol masing-masing turun antara 4,6 persen hingga 7,7 persen. Perusahaan Norwegia, Equinor, bahkan anjlok 8,7 persen, sementara Var Energi dan Aker BP melemah masing-masing 11,8 persen dan 9,9 persen.
Secara keseluruhan, sektor minyak dan gas Eropa menjadi yang berkinerja terburuk dengan penurunan 2,6 persen. Ini berpotensi mencatat pelemahan harian terbesar sejak April 2025, meskipun secara komulatif sektor ini masih menguat hampir 30 persen sepanjang 2026.
Namun, di sisi lain, penurunan harga minyak justru menjadi angin segar bagi saham-saham maskapai penerbangan. United Airlines, Delta Air Lines, dan American Airlines masing-masing melonjak lebih dari 7 persen, menghadirkan kelegaan setelah sebelumnya terbebani oleh tingginya biaya bahan bakar.