Harga saham sederet emiten terafiliasi konglomerat terkemuka di Tanah Air menunjukkan kebangkitan yang signifikan menjelang penutupan perdagangan Kamis (29/1) kemarin. Fenomena ini menarik perhatian lantaran pada sesi pertama, saham-saham tersebut sempat terpuruk dalam, bahkan ada yang menyentuh batas bawah atau Auto Rejection Bawah (ARB).
Koreksi tajam yang dialami Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebelumnya dipicu oleh pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI). Lembaga indeks global tersebut menyampaikan hasil konsultasi terkait perubahan metodologi perhitungan porsi saham publik atau free float, sembari menyoroti data pemegang saham yang diserahkan oleh otoritas pasar modal Indonesia.
Di antara berbagai saham konglomerat yang terpukul, gerak pemulihan paling mencolok ditunjukkan oleh emiten Prajogo Pangestu. Setelah dihantam tekanan jual selama dua hari berturut-turut, saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) misalnya, ditutup melonjak tajam 18,59% ke level Rp1.850. Padahal, pada sesi pertama perdagangan kemarin, harga saham CUAN sempat anjlok hingga 13,14%.
Tidak hanya CUAN, beberapa saham lain di bawah bendera konglomerasi juga kembali menunjukkan performa positif. PT Petrosea Tbk (PTRO) berhasil menguat 2,74% ke level Rp7.500, diikuti PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) yang naik 3,78% ke level Rp1.235, serta PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang tumbuh 4,52% ke level Rp8.675.
Menanggapi dinamika ini, pengamat pasar modal Reydi Octa menilai bahwa kecepatan pemulihan saham-saham konglomerasi dan berkapitalisasi besar mengindikasikan bahwa tekanan pasar sebelumnya lebih bersifat sentimen jangka pendek. Menurutnya, koreksi tajam justru dimanfaatkan oleh investor untuk melakukan akumulasi pembelian.
“Saham konglomerasi memang memiliki karakteristik rebound yang lebih cepat. Karena itu, saham seperti CUAN, PTRO, SSIA, dan lainnya yang cepat pulih turut menstabilkan pergerakan IHSG secara keseluruhan,” ungkap Reydi kepada Katadata.co.id, Kamis (29/1).
Reydi menambahkan bahwa pasar mulai menganggap isu MSCI dan trading halt telah mereda, sehingga risiko lanjutan cenderung terbatas. Investor masih menaruh kepercayaan pada saham yang memiliki fundamental kuat dan berskala besar. Ke depan, pemulihan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan tetap akan dipimpin oleh saham-saham big cap dan konglomerasi, meskipun volatilitas jangka pendek masih berpotensi terjadi.
Senada dengan Reydi, Head of Research Korea Investment Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi, berpandangan bahwa kebangkitan saham konglomerasi juga turut didorong oleh respons cepat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam menyikapi isu MSCI. Respons ini penting untuk menjaga kepercayaan pasar.
“Ini memberikan sinyal confidence ke pasar. Namun, perlu diingat bahwa isu ini belum sepenuhnya selesai. Masih ada ketidakpastian, dan sampai isu ini benar-benar tuntas, pasar masih akan volatil,” terang Wafi.
Naik turunnya harga saham para konglomerat memang menjadi sorotan utama bagi para pelaku pasar. Pasalnya, sejumlah saham konglomerasi tersebut merupakan penopang utama kenaikan IHSG dalam satu tahun terakhir. Oleh karena itu, tidak mengherankan ketika sederet saham tersebut ambruk, IHSG langsung rontok lebih dari 8% selama dua hari berturut-turut. Bahkan, pada perdagangan hari ini, Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat kembali menghentikan perdagangan saham secara sementara (trading halt) untuk beberapa waktu.
Di sisi lain, selain Prajogo Pangestu, terdapat pula nama-nama konglomerat lain yang sering disebut-sebut investor karena gerak sahamnya yang melesat signifikan dalam beberapa bulan terakhir, seperti saham yang dipegang Happy Hapsoro, Grup Bakrie, Grup Hary Tanoesoedibjo, hingga Grup Garibaldi Thohir alias Boy Thohir. Namun, hingga penutupan perdagangan kemarin, harga saham emiten-emiten konglomerat tersebut masih berada di zona merah, belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan seperti beberapa lainnya.
3 Poin Respons OJK-SRO terkait Pengumuman MSCI
Lebih jauh mengenai kebangkitan saham konglomerasi, menurut Wafi, hal ini juga ditopang oleh pengumuman penting dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI). Dalam pengumuman yang disampaikan kemarin, OJK bersama jajaran Self-Regulatory Organization (SRO) pasar modal membeberkan tindakan lanjutan usai pengumuman MSCI yang menangguhkan rebalancing indeks saham Indonesia untuk Februari 2026.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, menyatakan pihaknya menerima penjelasan tersebut sebagai masukan yang konstruktif. Ia menekankan bahwa MSCI tetap berkeinginan untuk memasukkan saham-saham emiten Indonesia ke dalam indeks global. Lebih lanjut, Mahendra menegaskan bahwa pasar modal Indonesia masih sangat potensial dan investable bagi investor internasional.
Dalam menyikapi kondisi ini, OJK bersama SRO telah menyiapkan sejumlah langkah strategis. Pertama, OJK dan SRO menindaklanjuti proposal atau penyesuaian yang telah dilakukan oleh BEI dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan sudah dipublikasikan. Mahendra menjelaskan bahwa saat ini proposal tersebut masih dipelajari oleh MSCI untuk memastikan kesesuaiannya dengan kebutuhan mereka.
Penyesuaian yang dimaksud antara lain mengecualikan investor dalam kategori korporasi dan lainnya dalam perhitungan free float. Selain itu, juga akan dipublikasikan kepemilikan saham di atas dan di bawah 5% untuk masing-masing kategori kepemilikan. “Nah, seperti saya katakan bahwa penyesuaian tadi itu sedang dikaji lebih jauh oleh MSCI,” jelas Mahendra dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (29/1).
Kedua, SRO akan segera menerbitkan aturan mengenai kewajiban free float minimal 15% dalam waktu dekat, dengan tingkat transparansi yang baik. Mahendra menegaskan, emiten atau perusahaan publik yang dalam jangka waktu tertentu, sebagaimana diatur, tidak dapat memenuhi ketentuan tersebut, akan dikenakan kebijakan keluar (exit policy) melalui proses pengawasan yang ketat.
Sementara itu, langkah ketiga adalah pemerintah akan menerbitkan peraturan terkait demutualisasi bursa yang diharapkan tuntas pada kuartal pertama tahun ini. Langkah-langkah ini menunjukkan komitmen kuat dari otoritas untuk meningkatkan kualitas dan kepercayaan di pasar modal Indonesia.