Mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, menegaskan krusialnya adaptasi dan inovasi bagi setiap perusahaan di tengah laju perubahan yang kini serba cepat. Ia menyoroti kisah dua raksasa teknologi, Nokia dan BlackBerry, sebagai studi kasus penting dalam dinamika bisnis. Sandiaga menceritakan bagaimana Nokia sempat tertantang dengan kemunculan BlackBerry yang revolusioner. “Dulu, email harus diinput secara manual. Lalu BlackBerry hadir dengan fitur push email, sebuah inovasi yang membuat semua orang, termasuk (mantan) Presiden AS Obama, mengandalkan perangkat tersebut,” ujar Sandiaga dalam acara IDE Katadata Future Forum 2026, Rabu (15/4). Namun, ironisnya, ia menambahkan, “Mereka pada akhirnya gagal beradaptasi.”
Melacak jejaknya dari Historydraft, Nokia memulai perjalanannya pada tahun 1865 sebagai pabrik pulp dan kertas di Finlandia. Seiring dekade, perusahaan ini menunjukkan kelihaian dalam diversifikasi, merambah sektor karet dan kabel pada pertengahan abad ke-20, sebelum akhirnya mengukuhkan diri di ranah elektronik dan telekomunikasi pada era 1980-an. Puncak transformasinya terjadi ketika Nokia gencar mengembangkan jaringan seluler dan memproduksi ponsel, menobatkannya sebagai produsen ponsel terbesar di dunia dari akhir 1990-an hingga awal 2000-an. Namun, ketika gelombang smartphone melanda, Nokia gagal mempertahankan dominasinya, berujung pada penjualan divisi ponselnya kepada Microsoft pada tahun 2014. Sejak sekitar tahun 2016, Nokia bangkit kembali dengan fokus baru sebagai perusahaan teknologi yang bergerak di infrastruktur jaringan telekomunikasi seperti 4G dan 5G, serta lisensi paten, menandai pergeseran strategis dari bisnis konsumen ke teknologi berbasis jaringan.
Di sisi lain, kisah BlackBerry Limited, yang bersumber dari Mobile Phone Research, dimulai pada dekade 1990-an sebagai Research In Motion (RIM), pengembang pager dua arah untuk komunikasi nirkabel. Pada tahun 1999, perusahaan ini meluncurkan perangkat BlackBerry yang segera meroket popularitasnya berkat fitur push email, menjadikannya ikon komunikasi bisnis dan profesional sepanjang era 2000-an. BlackBerry sempat merajai pasar smartphone, namun kejayaannya runtuh pada awal 2010-an. Kelambanan dalam beradaptasi dengan tren layar sentuh dan ekosistem aplikasi yang kian berkembang menjadi bumerang, menyebabkannya kalah saing dari iPhone dan perangkat berbasis Android. Kini, sejak sekitar tahun 2016, BlackBerry telah menghentikan produksi ponsel dan mengalihkan fokusnya secara total ke bisnis perangkat lunak, khususnya keamanan siber dan sistem otomotif, sebagai langkah strategis untuk bertahan di tengah gejolak industri teknologi.
Dari potret kegagalan tersebut, Sandiaga Uno kembali menegaskan esensi adaptasi dan inovasi. Ia kemudian menyodorkan Apple sebagai antitesis, sebuah contoh perusahaan yang berhasil. “Mereka secara proaktif menentukan apa yang diinginkan oleh pasar, alih-alih membiarkan pasar mendikte produk yang harus mereka miliki,” ungkapnya. Menurut Sandiaga, kelangsungan sebuah korporasi hingga saat ini adalah buah dari inovasi tiada henti. Ia memperingatkan bahwa kemunduran fatal suatu organisasi seringkali bermula saat memasuki ‘zona nyaman’, di mana spirit inovasi meredup, membuatnya rentan dan pada akhirnya tak sanggup bertahan.
Dinamika ini tercermin jelas dari deretan perusahaan besar dalam daftar Fortune 500; Sandiaga menyebut, “Dalam kurun waktu sepuluh tahun, separuh dari daftar itu telah berganti.” Untuk mempertahankan eksistensi dan posisi kompetitif, pengusaha, menurut Sandiaga Uno, harus menguasai tiga pilar utama: pertama, berinovasi secara berkelanjutan; kedua, berani mengambil risiko yang terukur; dan ketiga, bersikap proaktif dalam menjalin kolaborasi.
Lebih lanjut, ia menggarisbawahi bahwa kemunduran eksistensi perusahaan seringkali dipicu oleh rasa percaya diri yang berlebihan. Oleh karena itu, kemampuan membaca dan merespons perilaku pasar adalah kunci vital. Sandiaga Uno menutup dengan pesan kuat: “Inovasi tidak lagi bisa ditunda atau menunggu waktu yang tepat. Kita wajib berinovasi, bahkan jika itu dimulai dari skala terkecil sekalipun.”