Seberapa tinggi reli IHSG didorong pengumuman FTSE dan gencatan senjata di Iran

Babaumma JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa yang menggeliat, memberikan respons positif terhadap dua kabar penting. Pertama, pengumuman dari FTSE Russell yang mempertahankan status Indonesia sebagai Secondary Emerging Market. Kedua, pengumuman gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang meredakan ketegangan geopolitik global.

Advertisements

Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG berhasil ditutup menguat signifikan sebesar 4,42% atau setara 308,18 poin, mencapai level 7.279,21 pada perdagangan Rabu (8/4/2026). Kendati mencatatkan kenaikan impresif ini, kinerja IHSG sejak awal tahun masih menunjukkan koreksi yang cukup dalam, yakni sebesar 15,82% secara year to date (YtD), sebuah kondisi yang sejalan dengan masifnya arus keluar modal asing (outflow) dari pasar modal domestik.

Maximilianus Nico, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, berpandangan bahwa saat ini IHSG membutuhkan lebih dari sekadar dorongan stimulus dari pengumuman FTSE. Hal ini mengingat bayangan ketidakpastian konflik global, khususnya perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, masih membayangi sentimen pasar.

“Terutama bagaimana keputusan Amerika, apakah akan menyerang kembali Iran atau tidak. Seperti yang Trump katakan, dia akan memutuskan apakah akan meningkatkan eskalasi atau tidak. Apabila eskalasi mengalami kenaikkan, maka IHSG tetap akan mengalami koreksi besok [hari ini 8/4] meskipun FTSE memberikan kabar baik,” ujar Nico kepada Bisnis, dikutip Rabu (8/4/2026), menekankan urgensi keputusan AS terhadap arah pasar.

Advertisements

IHSG Melonjak 4,42% Usai Redanya Konflik AS-Iran, Saham BREN hingga AMMN Kompak Hijau

Kabar baik datang pada Selasa (7/4) malam waktu Amerika Serikat, ketika Presiden Trump mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan. Pemimpin nomor satu AS itu juga menyatakan bahwa Iran telah menyetujui pembukaan kembali Selat Hormuz, sebuah jalur perdagangan energi global vital yang sempat ditutup akibat memanasnya konflik, dan menjadi pemicu krisis di berbagai negara.

Nico menambahkan, di tengah gejolak ketidakpastian global, fundamental ekonomi Indonesia tetap memiliki daya tarik kuat untuk menarik capital inflow ke pasar modal. Hal ini semakin diperkuat oleh status Indonesia di FTSE Russell yang tetap bertahan di kelas Secondary Emerging Market. Namun, ia juga mengingatkan bahwa kemampuan menyerap dana asing ini memiliki batasan, sebab tensi geopolitik yang ada cenderung membuat pelaku pasar dan investor bersikap sangat hati-hati.

Dalam rilis resminya, FTSE Russell mengonfirmasi kabar menggembirakan bahwa Indonesia tidak masuk dalam Watch List atau daftar pemantauan, daftar yang biasanya diisi oleh negara-negara dengan risiko penurunan status. Status sebagai Secondary Emerging Market pun tetap dipertahankan, sambil menunggu progres lanjutan dari reformasi pasar modal yang sedang berjalan di Indonesia.

“Setelah penundaan tinjauan indeks bulan Maret 2026 untuk Indonesia, FTSE Russell sedang mengevaluasi kemajuan berbagai langkah reformasi yang dirancang untuk memperkuat transparansi, integritas, dan tata kelola pasar secara keseluruhan,” demikian bunyi dokumen yang dirilis oleh FTSE Russell.

Dalam kondisi pasar yang cenderung wait and see ini, lanjut Nico, daya tarik pasar modal Indonesia akan sangat bergantung pada kapasitas pemerintah dalam menjaga ketahanan fiskal nasional di tengah krisis global. Dari sisi pasar, percepatan reformasi pasar modal yang diinisiasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) juga menjadi landasan krusial bagi penguatan pasar yang lebih berkelanjutan.

OJK dan BEI telah meluncurkan empat inisiatif percepatan reformasi pasar modal yang signifikan, meliputi pembukaan data kepemilikan investor lebih dari 1%, peningkatan granularitas data investor dari 9 tipe menjadi 39 tipe, pembukaan data daftar saham terkonsentrasi atau high shareholder concentration (HSC), serta penyesuaian aturan free float menjadi 15%.

“Hasilnya tidak bisa cepat memang, namun sudah menunjukkan kemajuan bahwa reformasi mulai berjalan. Hal ini penting untuk menunjukkan komitmen, bahwa transparansi dan akutabilitas menjadi salah satu bagian penting untuk meningkatkan kepercayaan di pasar modal,” jelas Nico, optimis terhadap dampak jangka panjang dari reformasi ini.

Di sisi lain, Direktur Panin Asset Management, Rudiyanto, menilai bahwa reformasi pasar modal yang digencarkan oleh otoritas saat ini masih berada di tahap awal dan belum menunjukkan hasil nyata yang signifikan.

Adapun, empat inisiasi yang diluncurkan oleh OJK-BEI tersebut mendapatkan apresiasi dari FTSE Russell dan akan menjadi pertimbangan penting dalam peninjauan indeks saham Indonesia yang dijadwalkan pada Juni 2026 mendatang.

Menurut Rudiyanto, klasifikasi yang diberikan oleh FTSE Russell bukan sekadar soal pamor pasar modal Indonesia di kancah global. Lebih dari itu, klasifikasi tersebut mencerminkan sejauh mana proposal perbaikan yang diajukan oleh BEI kepada FTSE dapat diterima dan bagaimana inisiatif-inisiasi tersebut dieksekusi dengan baik, yang pada akhirnya dapat kembali menarik minat investor asing dan mendorong penguatan IHSG.

Dengan pandangan yang lebih pragmatis, Rudiyanto berpendapat bahwa selama klasifikasi Indonesia tidak turun kasta ke kelas frontier market, dampaknya terhadap laju IHSG cenderung nihil.

“Klasifikasi negara itu selama tidak di-downgrade, tidak ada efeknya,” pungkasnya.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Advertisements