Sektor saham yang untung dan buntung di tengah gejolak perang Iran–Israel

Babaumma – , JAKARTA – Eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran kembali menempatkan pasar energi global dalam mode waspada. Implikasinya berlanjut sampai ke pasar modal, membuat indeks harga saham gabungan (IHSG) melemah lebih dari 4% di sesi I perdagangan Rabu (4/3/2026).

Advertisements

Tim Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia menjelaskan, ancaman terhadap Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20% perdagangan minyak dunia langsung memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan risiko inflasi energi global. Dalam kondisi ini, sekuritas menilai sektor saham yang berpotensi diuntungkan adalah sektor energi, yaitu minyak dan batu bara.

“Emiten migas seperti APEX, ENRG, ELSA, MEDC serta batu bara seperti AADI, ADRO, ITMG, PTBA berpotensi mendapat sentimen positif jika harga energi global naik,” tulis riset tersebut, Rabu (4/3/2026).

: IHSG Sesi I Turun 4,32%, Semua Indeks Sektoral Kompak Merah

Advertisements

Kemudian, saham emiten komoditas juga diuntungkan dengan lonjakan harga energi yang biasanya ikut mendorong inflasi komoditas dan memperkuat sentimen sektor resources.

Di sisi lain, Kiwoom Sekuritas memperkirakan ada sektor yang berisiko tertekan, yakni sektor transportasi dan logistik, di mana sektor ini untuk biaya bahan bakar menjadi komponen besar dalam struktur biaya operasional.

: : IHSG Tersungkur 4,32% Sesi I, Dihantam Perang AS-Iran dan Kejutan Transparansi Saham?

Kedua adalah industri manufaktur karena kenaikan harga energi meningkatkan biaya produksi dan dapat menekan margin. Terakhir, ada sektor konsumer karena jika kenaikan energi memicu inflasi, daya beli masyarakat berpotensi tertekan.

Menilik situasi di Indonesia saat ini, sekuritas mencatat bahwa cadangan BBM Indonesia diperkirakan hanya cukup sekitar 20 hari. Jika konflik berlangsung lebih lama, Indonesia kemungkinan harus membeli minyak impor dengan harga yang lebih mahal dibandingkan sebelum konflik.

: : BEI Ungkap Penyebab IHSG Turun hingga 4% Saat Sesi I Hari Ini (4/3)

Sementara itu, harga minyak sudah mulai bereaksi terhadap eskalasi konflik. Brent melonjak sekitar 6,7% menjadi US$77,74 per barel setelah muncul ancaman terhadap tanker minyak di kawasan Teluk Persia.

“Selama harga minyak masih di bawah US$90, dampaknya ke pasar biasanya masih berupa volatilitas sentimen. Namun, jika Brent menembus US$100 disertai gangguan distribusi fisik, risiko bisa berubah menjadi shock energi yang berpotensi menekan inflasi, rupiah, dan IHSG secara lebih luas,” tandasnya.

Adapun, IHSG pada sesi I perdagangan Rabu (4/3) melemah 4,32% ke 7.596. Saham-saham big caps penggerak utama bobot indeks kompak melemah, seperti misalnya PT Bariro Renewables Energy Tbk. (BREN) yang turun 5,94% ke Rp7.125, saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) turun 1,77% ke Rp6.950, hingga saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) yang melemah 2,93% ke Rp76.200.

Seluruh indeks sektoral juga berada di zona merah, tak terkecuali sektor energi (IDXENERGY) yang turun 4,82%, saham sektor konsumer non siklikal (IDXNONCYC) turun 3,62%, saham sektor konsumer siklikal (IDXCYCLIC) turun 5,60%, sampai saham sektor basic materials (IDXBASIC) yang turun 8,03% hingga sesi I perdagangan.

_______

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Advertisements