Serangan ke Iran bayangi petani sawit, bisa ganggu harga pupuk dan ekspor

Konflik yang kembali memanas di kawasan Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi besar memicu lonjakan harga pupuk dan mengganggu stabilitas ekspor minyak sawit mentah (CPO) Indonesia. Gejolak geopolitik ini menghadirkan tantangan signifikan bagi sektor pertanian, khususnya para petani kelapa sawit di Tanah Air.

Advertisements

Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Rino Afrino, menjelaskan bahwa gangguan distribusi minyak dari kawasan Teluk akibat konflik tersebut diperkirakan akan mendorong kenaikan harga minyak mentah global secara drastis. Situasi ini tentu akan berdampak langsung pada negara-negara net importir minyak seperti Indonesia dan India, memengaruhi berbagai sektor ekonomi vital.

“Yang paling menakutkan bagi kami, para petani sawit, adalah kenaikan harga pupuk, sebab pupuk ini sepenuhnya bergantung pada impor. Kenaikan harga minyak bumi secara langsung berkorelasi dengan biaya pupuk yang harus kami tanggung,” tegas Rino dalam Diskusi Publik Sawit Setara di Kementerian Pertanian pada Senin (2/3). Pernyataan ini menyoroti kerentanan petani terhadap fluktuasi pasar komoditas global.

Menurut Rino, lonjakan harga minyak tidak hanya akan meningkatkan biaya produksi di tingkat kebun, tetapi juga berpotensi menekan daya beli negara-negara tujuan ekspor CPO. Jika pembeli global menahan diri karena harga terlalu tinggi, Indonesia akan menghadapi masalah serius dalam mendistribusikan produk utamanya. “Kalau pembeli menahan karena terlalu mahal, kita punya masalah,” tambahnya.

Advertisements

Saat ini, sekitar 60 persen dari total produksi CPO Indonesia diserap oleh pasar ekspor. Apabila negara pembeli memutuskan untuk menahan impor, stok CPO berisiko menumpuk di tangki penyimpanan pabrik kelapa sawit (PKS). Imbasnya, pembelian tandan buah segar (TBS) dari para petani akan melambat, menciptakan tekanan ekonomi yang signifikan pada mereka.

Perbedaan ketahanan antara petani dan pabrik juga menjadi sorotan. “PKS punya tangki, bisa bertahan sebulan dua bulan. Kami petani hanya punya napas 1×24 jam,” ungkap Rino, menggambarkan urgensi bagi petani untuk segera menjual hasil panen mereka demi kelangsungan hidup.

Rino juga mengingatkan bahwa kondisi ini bisa menyerupai periode pembatasan ekspor yang pernah terjadi sebelumnya. Saat itu, meskipun harga global berada di level tinggi, harga TBS di tingkat petani justru merosot tajam akibat lemahnya daya tawar dan kelebihan pasokan di pasar domestik.

Mengantisipasi potensi gejolak global ini, Apkasindo telah mengimbau seluruh petani kelapa sawit untuk lebih cermat dalam membaca perkembangan pasar. Langkah proaktif yang disarankan termasuk mempertimbangkan pembelian pupuk lebih awal dan menekan biaya operasional yang tidak mendesak demi menjaga stabilitas keuangan mereka.

“Kami percaya situasi ini tidak akan berkepanjangan, namun antisipasi adalah kunci untuk menghadapi ketidakpastian,” ujar Rino, menyerukan kewaspadaan di tengah optimisme yang hati-hati.

Menurut Rino, ketahanan petani sawit Indonesia memang dikenal cukup kuat dalam menghadapi berbagai tantangan. Namun, kemampuan bertahan mereka sangat bergantung pada durasi gejolak global berlangsung, terlebih menjelang periode Lebaran yang biasanya meningkatkan kebutuhan konsumsi domestik. Ini menambah kompleksitas dalam dinamika pasar dan harga di tingkat lokal.

Advertisements