Perusahaan asal Korea Selatan, Sphere Corp, telah mengambil langkah strategis dengan mengumumkan akuisisi 10% saham di proyek Excelsior Nickel Cobalt (ENC), sebuah smelter nikel berteknologi high pressure acid leach (HPAL) terkemuka di Indonesia. Akuisisi ini menandai investasi signifikan dalam sektor nikel Tanah Air, mengingat valuasi proyek yang mencapai US$2,4 miliar atau setara dengan sekitar Rp40,17 triliun (berdasarkan asumsi kurs Rp16.715 per US$).
Proyek Excelsior Nickel Cobalt ini berlokasi strategis di Morowali Industrial Park (IMIP), Sulawesi Tengah. Saat ini, kepemilikan sahamnya dipegang oleh Nickel Industries Limited, perusahaan yang terdaftar di bursa Australia dan berafiliasi dengan PT United Tractors Tbk (UNTR), serta perusahaan asal Hong Kong, Decent Resource. Berdasarkan pengumuman resmi dari Nickel Industries pada Jumat, 2 Januari 2026, Sphere Corp akan mengakuisisi 10% saham tersebut dari Decent Resource, sementara Nickel Industries akan mempertahankan kepemilikan sebesar 44% di proyek yang menjanjikan ini.
Sphere Corp, yang dikenal sebagai salah satu pemasok paduan logam khusus bagi perusahaan kedirgantaraan milik Elon Musk, SpaceX, tidak hanya mengakuisisi saham, tetapi juga akan mengambil porsi 10% kepemilikan nikelnya dalam bentuk material katoda. Komitmen mereka diperkuat dengan penandatanganan perjanjian offtake untuk pembelian volume tambahan di luar porsi kepemilikan tersebut, yang akan dilakukan dengan harga pasar. Ini menunjukkan kepercayaan tinggi Sphere terhadap kualitas dan potensi pasar produk nikel dari ENC.
Managing Director Nickel Industries, Justin Werner, menyambut baik transaksi ini. “Kami sangat senang dapat mengumumkan transaksi ini dengan Sphere Corp terkait akuisisi 10% kepemilikan di ENC, serta perjanjian offtake nikel katoda yang menyertainya,” ujarnya. Werner juga menekankan, “Fakta bahwa Sphere, sebagai salah satu pemasok terakreditasi utama bagi SpaceX, memilih untuk berinvestasi di ENC menunjukkan kualitas katoda ENC, keterlacakan produk, serta visi kami untuk menjadikan ENC sebagai etalase global produsen nikel berkualitas tinggi yang berkelanjutan dan berada pada kelompok biaya terendah.”
Kesepakatan ini memiliki arti penting karena menandai perjanjian pembelian material ENC pertama yang menembus pasar Barat. Melalui kerja sama ini, proyek Excelsior Nickel Cobalt akan membuka pintu masuk yang signifikan bagi produknya ke pasar aeronautika dan kedirgantaraan Amerika Utara. Werner lebih lanjut menggarisbawahi potensi besar sektor ini, yang “menuntut standar kualitas produk tertinggi dan diproyeksikan tumbuh sekitar 8% CAGR hingga 2030.”
Proyek ENC, yang saat ini dalam tahap pembangunan di Sulawesi Tengah, diproyeksikan akan menjadi proyek HPAL pertama di dunia yang mampu memproduksi tiga produk nikel kelas 1 secara bersamaan. Produk-produk tersebut meliputi mixed hydroxide precipitate (MHP), nikel sulfat, dan katoda nikel. Dengan target rampungnya pendanaan transaksi akuisisi pada awal kuartal I/2026, investasi ini menegaskan posisi Indonesia sebagai pemain kunci dalam rantai pasok nikel global.