Menerka arah IHSG di tengah fenomena sell in May
Fenomena sell in May menjadi sorotan di tengah rapuhnya sentimen global dan domestik, dengan IHSG berpotensi bergerak dalam kisaran 6.800 hingga 7.300.
Fenomena sell in May menjadi sorotan di tengah rapuhnya sentimen global dan domestik, dengan IHSG berpotensi bergerak dalam kisaran 6.800 hingga 7.300.
IHSG menguat 1,46% ke 7.609 pada 14 April 2026, didorong saham BREN, BBCA, dan TPIA. Penguatan didukung data ekonomi positif dan sentimen pasar.
Dana asing masuk ke pasar saham Indonesia, Babaumma buy Rp3,84 triliun pada 10-14 November 2025. Saham BREN dan INET jadi incaran utama.
Saham BREN dan BRMS jadi incaran asing usai masuk indeks MSCI, mendorong inflow dana asing ke pasar saham Indonesia. Faktor global dan domestik mendukung tren ini.
Investor asing memburu saham EMAS hingga BRMS Babaumma buy Rp5,09 triliun, didorong oleh penurunan suku bunga dan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kuat.
Indeks LQ45 yang terkoreksi 2,16% sepanjang 2025 dinilai berpeluang rebound berkat penurunan suku bunga BI dan prospek pemulihan kredit perbankan.
IHSG turun 3,31% ke 7.571 pada Senin (1/9) akibat ketidakpastian politik domestik dan global. Investor waspada, fokus pada demo dan kebijakan otoritas.