Update rencana buyback saham BNI (BBNI), maksimal Rp905,48 miliar
BNI memangkas rencana buyback saham menjadi Rp905,48 miliar dari Rp1,50 triliun. Buyback ini bertujuan meredam tekanan jual akibat ketidakpastian global.
BNI memangkas rencana buyback saham menjadi Rp905,48 miliar dari Rp1,50 triliun. Buyback ini bertujuan meredam tekanan jual akibat ketidakpastian global.
OJK imbau investor ritel tidak panic selling meski IHSG turun akibat konflik AS-Iran. Stabilitas pasar dijaga dengan mekanisme seperti buyback dan trading halt.
Dividen jumbo emiten blue chip belum cukup menahan arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia, meski prospek fundamental tetap solid di 2025.
Investor asing masih wait and see di pasar saham Indonesia, meski emiten besar seperti BBCA, BMRI, dan TPIA melakukan buyback saham.
Emiten di Indonesia ramai-ramai melakukan buyback saham setelah valuasi jatuh akibat pembekuan MSCI, meski ini bertentangan dengan upaya meningkatkan free float.
BEI akan menaikkan free float saham big caps seperti BREN dan PGEO. Ini dapat meningkatkan likuiditas, namun buyback oleh BREN dan TPIA bisa mempengaruhi harga.
OJK menaikkan batas free float saham dari 7,5% ke 15% mulai 2026, namun emiten justru melakukan buyback, mengurangi saham beredar dan free float.
BNI (BBNI) berencana buyback saham senilai Rp1,50 triliun untuk meredam tekanan jual dan menunjukkan harga saham tidak mencerminkan fundamental. RUPST dijadwalkan 9 Maret 2026.
BCA berencana buyback saham hingga Rp5 triliun setelah saham turun 6%. Rencana ini akan dibahas dalam RUPST pada 12 Maret 2026 dan berlangsung 12 bulan.
BRI (BBRI) melakukan buyback saham senilai Rp512,8 miliar sepanjang 2025, dengan target maksimal Rp3 triliun, sesuai persetujuan RUPST.