Sinyal dividen jumbo bluechips, mampukah jadi magnet investor asing?
Dividen jumbo emiten blue chip belum cukup menahan arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia, meski prospek fundamental tetap solid di 2025.
Dividen jumbo emiten blue chip belum cukup menahan arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia, meski prospek fundamental tetap solid di 2025.
Investor asing masih wait and see di pasar saham Indonesia, meski emiten besar seperti BBCA, BMRI, dan TPIA melakukan buyback saham.
Emiten di Indonesia ramai-ramai melakukan buyback saham setelah valuasi jatuh akibat pembekuan MSCI, meski ini bertentangan dengan upaya meningkatkan free float.
BEI akan menaikkan free float saham big caps seperti BREN dan PGEO. Ini dapat meningkatkan likuiditas, namun buyback oleh BREN dan TPIA bisa mempengaruhi harga.
OJK menaikkan batas free float saham dari 7,5% ke 15% mulai 2026, namun emiten justru melakukan buyback, mengurangi saham beredar dan free float.
BNI (BBNI) berencana buyback saham senilai Rp1,50 triliun untuk meredam tekanan jual dan menunjukkan harga saham tidak mencerminkan fundamental. RUPST dijadwalkan 9 Maret 2026.
BCA berencana buyback saham hingga Rp5 triliun setelah saham turun 6%. Rencana ini akan dibahas dalam RUPST pada 12 Maret 2026 dan berlangsung 12 bulan.
BRI (BBRI) melakukan buyback saham senilai Rp512,8 miliar sepanjang 2025, dengan target maksimal Rp3 triliun, sesuai persetujuan RUPST.
United Tractors (UNTR) mengakhiri program buyback saham setelah menghabiskan Rp1,99 triliun dari alokasi Rp2 triliun, tanpa dampak material pada operasional.
Investor asing mengalirkan dana Rp3,9 triliun ke pasar saham Indonesia, dengan saham BMRI dan BBCA menjadi incaran utama. IHSG naik 0,52% pekan ini.