
Babaumma – JAKARTA – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) siap menginisiasi aksi pembelian kembali saham perseroan atau buyback sebagai strategi proaktif di tengah gejolak pasar modal. Keputusan fundamental ini diambil tidak hanya untuk meredam potensi tekanan jual akibat volatilitas yang tinggi, tetapi juga untuk mengirimkan sinyal kuat kepada para investor bahwa valuasi harga saham BBNI saat ini dianggap belum merefleksikan nilai intrinsik dan fundamental perusahaan yang sebenarnya.
Melalui Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo, disampaikan bahwa nilai transaksi buyback saham BBNI ini diperkirakan mencapai sebesar-besarnya Rp1,50 triliun. Angka tersebut sudah mencakup seluruh biaya terkait, seperti biaya transaksi, biaya penyimpanan, dan commitment fee yang diperkirakan sekitar 0,32% dari total nilai eksekusi buyback, dengan asumsi implementasi penuh. Rencana ambisius ini telah diumumkan dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Minggu (1/2/2026).
Okki menambahkan bahwa nilai perkiraan transaksi buyback tersebut tidak akan melampaui 10% dari jumlah modal ditempatkan perseroan. Pendanaan untuk aksi korporasi strategis ini akan bersumber dari arus kas bebas (free cash flow) perusahaan, khususnya dari saldo laba yang belum dialokasikan penggunaannya.
Tahun 2025 menjadi periode penuh tantangan bagi saham perbankan Indonesia. Tekanan jual tak terhindarkan, terutama akibat dinamika global seperti risiko geopolitik yang memanas dan ancaman perang tarif yang berpotensi memicu ketidakpastian ekonomi. Di sisi domestik, sektor perbankan nasional juga dihadapkan pada kendala likuiditas dan perlambatan permintaan kredit (loan demand). Kondisi ini, seperti disampaikan Okki, membuat saham-saham perbankan di Indonesia mengalami tekanan yang lebih mendalam dibanding rekan-rekan mereka di kawasan regional.
Meskipun harga saham BBNI pada 31 Desember 2025 mencatatkan kenaikan tipis 0,5% secara tahunan (year on year/YoY) – sebuah capaian yang sedikit lebih baik dibandingkan bank-bank domestik sejenis – performanya masih tertinggal jika dibandingkan dengan bank-bank regional lain. Hal ini mengindikasikan bahwa potensi pertumbuhan BBNI belum sepenuhnya teroptimalisasi di tengah perbandingan regional.
Pemulihan pasar saham domestik di akhir 2025, yang ditandai dengan kembalinya optimisme investor asing dan mulai masuknya kembali arus dana asing, belum sepenuhnya stabil. Manajemen BNI mengindikasikan bahwa para investor tetap menahan diri dan bersikap hati-hati dalam menyikapi potensi dampak ketidakpastian global yang diperkirakan meningkat kembali di awal 2026. Sentimen negatif ini dipicu oleh berbagai faktor, antara lain eskalasi tensi geopolitik dan ancaman perang tarif dari Amerika Serikat.
Lebih lanjut, ketidakstabilan geopolitik global juga turut menekan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS, bahkan sempat menyentuh level Rp16.985 per dolar AS. Angka ini menandai pelemahan nilai tukar yang lebih rendah dari periode krusial krisis moneter tahun 1998, menambah kompleksitas tantangan di pasar finansial.
Dalam menghadapi kondisi pasar modal yang fluktuatif dan penuh ketidakpastian ini, aksi buyback menjadi langkah strategis BBNI untuk secara efektif mengurangi tekanan jual yang terjadi di pasar. Lebih dari itu, tindakan ini sekaligus menegaskan kembali keyakinan manajemen bahwa harga saham BBNI yang ada saat ini jauh di bawah potensi fundamental sebenarnya, memberikan dorongan kepercayaan kepada para investor.
Rencana buyback signifikan ini akan dibahas lebih lanjut dan dimintakan persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang dijadwalkan akan digelar pada 9 Maret 2026. Persetujuan RUPST akan menjadi penentu bagi kelanjutan eksekusi strategi ini.
Berikut perkiraan jadwal buyback saham BBNI:
1. Pengumuman RUPST dan Keterbukaan Informasi mengenai Rencana Buyback: 29 Januari 2026
2. Perkiraan Tanggal RUPST (yang akan memberikan persetujuan atas rencana buyback): 9 Maret 2026
3. Perkiraan Periode Buyback: 9 Maret 2026 sampai dengan 8 Maret 2026
——————
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.