
TBS Energi Utama (TOBA) mulai mengembangkan beberapa sumber pendapatan baru di tengah upaya beralih dari bisnis batu bara. Perseroan kini mendorong tiga pilar bisnis utama, yakni kendaraan listrik, energi baru terbarukan, hingga pengelolaan limbah.
SVP Corporate Finance & Investor Relations TBS Energi Utama Mirza Hippy mengatakan, pada sektor kendaraan listrik, perusahaan tidak hanya menyediakan armada, tetapi juga membangun rantai nilai yang mencakup infrastruktur baterai hingga stasiun penukaran baterai.
Perusahaan membentuk usaha patungan dengan GOTO Group pada 2021 untuk membangun ekosistem kendaraan listrik. Setelah melalui proses uji coba dan pengembangan selama sekitar dua tahun, perusahaan meluncurkan produk kendaraan listrik pertamanya, Electrum H5 pada November 2023.
Saat ini, jumlah kendaraan listrik yang telah beroperasi sekitar 7.500 unit, dengan lebih dari 350 stasiun penukaran baterai yang tersebar di Jakarta dan kawasan Jabodetabek serta Surabaya.
Demi mendukung pengembangan bisnis EV, perusahaan juga memperoleh pembiayaan blended concessional financing dari Asian Development Bank yang bekerja sama dengan Australia Climate Fund Partnership serta DBS Indonesia. Dana ini akan digunakan untuk pengembangan bisnis kendaraan listrik, termasuk penyediaan armada dan infrastruktur baterai ke depan.
“Proceed-nya itu hanya boleh digunakan untuk pengembangan all EV business termasuk penyediaan fleet dan juga untuk battery infrastructure kami ke depan,” kata Mirza di Jakarta, Senin (9/3).
TBS Energi Utama juga mulai mengalihkan fokus dari bisnis lama seperti batu bara dan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang kini telah sepenuhnya didivestasi. Perusahaan berhasil menekan emisi karbon setelah melepas dua unit PLTU yang sebelumnya menyumbang sekitar 86% emisi portofolio pembangkit, atau setara 1,4 juta ton CO2 per tahun berdasarkan profil emisi 2024.
Pada pilar energi baru terbarukan, TBS Energi Utama memiliki satu pembangkit listrik tenaga mini hidro di Lampung dengan kapasitas 6 megawatt (MW) yang mulai beroperasi secara komersial atau commercial operation date (COD) pada Januari 2025.
Selain itu, melalui anak usahanya, perseroan tengah membangun proyek pembangkit listrik tenaga surya terapung (PLTS) di Batam dengan kapasitas 46 MWp. Proyek tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal keempat tahun ini.
TBS Energi Utama juga memasuki sektor waste management pada Agustus 2023, melalui akuisisi Asia Medical Environment Services (AMES) yang bergerak di pengelolaan limbah medis. Selain itu, perusahaan mengakuisisi Arah Environmental Indonesia pada Desember 2023 untuk memperkuat lini bisnis pengelolaan limbah di dalam negeri.
Mirza mengatakan langkah ekspansi berlanjut pada Maret 2025, ketika perseroan menuntaskan akuisisi Sembcorp Environment, yang kemudian diubah namanya menjadi Cora Environment. Perusahaan ini merupakan salah satu pemain besar di bisnis pengelolaan limbah domestik di Singapura.
Melalui bisnis itu, perseroan mengembangkan konsep energy from waste, yakni mengolah limbah menjadi energi berupa uap (steam) yang kemudian dijual ke kawasan industri di Singapura melalui kontrak jangka panjang.
“Ini mungkin tiga pilar bisnis baru, saat ini kami harusnya bisa out track untuk mencapai target karbon netralitas pada 2030,” katanya.
Sepanjang 2025, TOBA mencatatkan EBITDA disesuaikan US$ 47,2 juta. Perseroan juga menjaga posisi kas US$ 102,3 juta, meningkat 15% dibandingkan 2024.
Segmen pengelolaan limbah menyumbang US$ 155,4 juta atau sekitar 41% dari total pendapatan perseroan. Sementara itu, segmen pertambangan dan perdagangan batu bara mencatat pendapatan US$ 194,6 juta atau 51% dari total pendapatan, turun dari kontribusi 81% pada tahun sebelumnya.
Meski demikian, perseroan membukukan rugi bersih US$ 162 juta, yang dipengaruhi oleh penurunan harga batu bara global sepanjang 2025 serta kerugian non-kas dan tidak berulang dari divestasi aset PLTU sebesar US$ 97 juta sebagai bagian dari transformasi menuju bisnis rendah karbon.
“Nanti akan terlihat kedua faktor ini, PLTU divestasi dan juga batu bara ini merupakan dua faktor yang cukup mempengaruhi kondisi keuangan perseroan di full year 2025,” kata Mirza.