Trump berang usai kanselir Jerman anggap Iran unggul dibanding AS

Ketegangan diplomatik antara Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump dan Kanselir Jerman Friedrich Merz memanas akibat perbedaan pandangan tajam terkait konflik berkepanjangan dengan Iran. Perselisihan ini mencuat setelah Merz secara terbuka mengkritik strategi Amerika Serikat yang dianggapnya tidak memiliki arah jelas serta minim rencana keluar yang konkret.

Advertisements

Dalam pernyataannya, Merz menuding Amerika Serikat tengah dipermalukan oleh Iran. Ia menilai posisi Iran kini jauh lebih unggul, baik dari segi kekuatan militer maupun kecakapan diplomatik, dibandingkan dengan posisi Amerika Serikat saat ini. Kritik ini disampaikan Merz di tengah meningkatnya skeptisisme para pemimpin Eropa terhadap kebijakan luar negeri Washington.

Menanggapi kritik keras tersebut, Trump melontarkan bantahan tajam melalui platform media sosial miliknya, Truth Social. Trump menegaskan bahwa pandangan Merz tidak berdasar. Ia memperingatkan bahwa kepemilikan senjata nuklir oleh Iran akan menjadikan dunia sebagai sandera. Trump bahkan menyentil kondisi domestik Jerman dengan menyatakan, “Pantas saja Jerman terpuruk, baik dari segi ekonomi maupun hal lainnya.”

Ketegangan ini terjadi di tengah dinamika hubungan transatlantik yang sedang diuji. Meski Merz sempat melakukan kunjungan ke Gedung Putih bulan lalu untuk membangun jalur komunikasi yang produktif dengan Trump, perbedaan kepentingan ekonomi kini tampak menjadi celah pemisah. Sejak Amerika Serikat dan Israel memulai serangan terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026, Merz secara konsisten menyuarakan kekhawatirannya akan dampak ekonomi, terutama lonjakan harga minyak dunia yang membebani Jerman.

Advertisements

Merz juga menyesalkan kurangnya koordinasi antara Washington dengan para pemimpin Eropa sebelum keputusan penyerangan diambil. Ia menegaskan bahwa jika dirinya mengetahui perang akan berlangsung berlarut-larut—memasuki pekan kelima atau keenam dengan eskalasi yang kian memburuk—ia akan menyampaikan keberatannya dengan jauh lebih keras.

Belajar dari pengalaman agresi di Afghanistan dan Irak di masa lalu, Merz menyoroti bahwa tantangan terbesar dalam intervensi militer adalah penyelesaian konflik yang tuntas. Ia mengaku pesimistis perang akan segera berakhir dalam waktu dekat. Menurutnya, Iran terbukti lebih kuat dari perkiraan awal Amerika Serikat, sementara pihak AS sendiri dinilai gagal menyodorkan strategi negosiasi yang meyakinkan.

Sebagai penutup, Merz menekankan urgensi penghentian perang demi stabilitas ekonomi global. “Perang terhadap Iran ini telah berdampak langsung pada performa ekonomi kami. Karena itu, konflik ini harus diakhiri secepat mungkin,” pungkasnya.

Ringkasan

Ketegangan diplomatik antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Kanselir Jerman Friedrich Merz memanas setelah Merz menilai Iran kini lebih unggul daripada AS dalam hal kekuatan militer dan diplomasi. Merz mengkritik kurangnya strategi yang jelas serta minimnya koordinasi Washington dengan pemimpin Eropa terkait konflik yang telah berdampak buruk pada ekonomi Jerman. Akibatnya, Merz mendesak agar perang segera diakhiri demi stabilitas ekonomi global.

Menanggapi kritik tersebut, Trump membantah keras pandangan Merz melalui media sosial dan balik menyindir kondisi ekonomi Jerman yang dianggapnya sedang terpuruk. Trump menegaskan bahwa ancaman nuklir Iran merupakan isu krusial bagi dunia, di tengah keraguan Merz terhadap kemampuan AS dalam menyelesaikan konflik tersebut secara tuntas. Perbedaan pandangan ini semakin memperuncing dinamika hubungan transatlantik di tengah eskalasi militer yang terus berlangsung.

Advertisements