Trump beri Iran 48 jam buka Selat Hormuz, ancam hancurkan pembangkit listrik

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memicu ketegangan diplomatik dengan ancaman kerasnya terhadap Iran. Dalam pernyataan terbarunya, Trump mengancam akan melancarkan serangan terhadap pembangkit listrik Iran jika Teheran tidak segera membuka kembali Selat Hormuz untuk lalu lintas kapal komersial. Ancaman serius ini muncul di tengah kian lumpuhnya pengiriman minyak dan gas melalui jalur maritim yang sangat strategis tersebut.

Advertisements

Melalui unggahan di platform Truth Social pada Sabtu (21/3) malam waktu setempat, Trump secara eksplisit menyatakan bahwa AS akan “menghantam dan menghancurkan” pembangkit listrik Iran, dimulai dari yang terbesar, jika selat vital tersebut tidak dapat diakses dalam kurun waktu 48 jam. Pernyataan ini menegaskan tingginya eskalasi konflik di kawasan tersebut.

Ancaman eksplisit ini menandai sebuah peningkatan yang kian tajam dalam retorika AS terhadap Iran. Sehari sebelumnya, Trump masih sempat menyebut bahwa ia tengah mempertimbangkan untuk mengurangi operasi militer dan mendorong negara-negara pengguna jalur energi tersebut untuk mengambil peran lebih besar dalam pengamanan Selat Hormuz. Perubahan sikap ini menunjukkan perubahan drastis dalam strategi Washington.

Dampak dari ketegangan yang memanas ini langsung terasa pada perdagangan energi global. Mengutip laporan dari Bloomberg, situasi tegang menyebabkan macetnya pengiriman komoditas penting melalui Selat Hormuz, sebuah jalur krusial yang dilalui sekitar 20% dari total pasokan minyak dan gas dunia. Kondisi ini secara langsung mendorong lonjakan harga minyak mentah. Harga Brent, misalnya, ditutup di level US$112,19 per barel pada Jumat, bahkan sempat menyentuh US$117 per barel pada 9 Maret lalu.

Advertisements

Di tengah kondisi yang memanas ini, beberapa negara tetap berupaya mencari jalur aman. India, misalnya, berhasil mengirimkan kargo gas alam cair (LNG) dengan pengawalan Angkatan Laut Iran setelah melakukan pendekatan diplomatik yang intensif dengan Teheran. Namun, di sisi lain, pejabat Iran belum menunjukkan sinyal sedikit pun akan membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu dekat, seiring dengan masih berlangsungnya konflik yang rumit.

Berbeda dengan potensi serangan terhadap ladang minyak dan gas yang berdampak langsung pada pasokan energi, serangan ke sektor kelistrikan Iran dinilai tidak akan memiliki efek langsung terhadap pasokan energi global. Iran tercatat memiliki sekitar 98 pembangkit listrik yang berbasis gas, termasuk fasilitas besar seperti Damavand di tenggara Teheran dan Ramin di utara Ahvaz. Meski demikian, ancaman Trump juga dinilai berpotensi mengarah pada fasilitas strategis lain, termasuk pembangkit nuklir Bushehr, yang tentu akan memiliki konsekuensi jauh lebih luas.

Baca juga:

  • Rudal Iran Hantam Dua Kota Dekat Fasilitas Nuklir Israel, 95 Orang Terluka
  • Putin Disebut Siap Stop Pertukaran Intelijen dengan Iran, asal AS Lakukan Ini

Advertisements