
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa para pejabat AS telah menjalin kontak dengan tokoh-tokoh senior dalam kepemimpinan Iran, untuk mengakhiri perang.
Berbicara kepada wartawan pada Senin (23/3), Trump menyatakan bahwa para pejabat Amerika telah mengadakan apa yang ia sebut sebagai ‘pembicaraan yang kuat’ dengan perwakilan Iran dan bahwa kedua belah pihak tampaknya bersedia untuk mengejar hasil melalui negosiasi.
“Kami telah berbicara dengan pimpinan tertinggi. Kami telah berbicara dengan seorang pemimpin Iran yang sangat dihormati,” kata Trump dikutip dari TRTWorld, Selasa (24/3), sambil menambahkan bahwa ia belum menerima komunikasi apa pun dari Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei dan tidak menganggapnya sebagai pemimpin negara tersebut.
Trump juga mengomentari keselamatan Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei. “Saya tidak ingin dia dibunuh,” katanya, sambil juga mencatat ketidakpastian tentang situasi saat ini di kalangan kepemimpinan Iran.
Ia mengatakan Washington telah mencapai poin-poin kesepakatan utama dalam diskusi dengan Iran.
“Kami telah melakukan pembicaraan yang intens dengan Iran. Kita lihat saja ke mana pembicaraan ini akan mengarah,” kata Trump, menambahkan bahwa diskusi telah berlangsung selama akhir pekan dan berlanjut hingga Minggu malam.
Menurut presiden AS, pembicaraan tersebut melibatkan tokoh-tokoh senior yang terkait dengan pemerintahan, termasuk Steve Witkoff dan Jared Kushner, yang dilaporkan melakukan kontak dengan para perantara Iran sebagai bagian dari upaya diplomatik.
Trump menyatakan bahwa kemajuan telah dicapai pada beberapa isu inti, dengan mengklaim ada ’15 poin kesepakatan’ antara kedua pihak.
Meskipun ia tidak memberikan rincian spesifik, ia menekankan bahwa mencegah Iran memperoleh senjata nuklir tetap menjadi tujuan utama posisi Washington.
“Mereka telah sepakat untuk tidak memiliki senjata nuklir,” kata Trump. “Kami menginginkan tidak adanya senjata nuklir dan perdamaian di Timur Tengah.”
Presiden mengindikasikan bahwa komunikasi lebih lanjut antara kedua pihak dapat segera dilakukan. “Kita akan berbicara hari ini, mungkin melalui telepon,” katanya. “Saya berharap bisa segera bertemu. Saya berharap kita bisa menyelesaikan ini.”
Dua sumber di Timur Tengah mengatakan kepada CNN Internasional, bahwa AS telah membagikan daftar 15 poin harapan kepada Iran melalui Pakistan, tetapi tidak jelas apakah Iran telah menyetujui salah satu persyaratan tersebut.
Salah satu sumber mengatakan, beberapa poin akan ‘hampir mustahil’ untuk diterima Iran. Sumber lainnya mengatakan, kesepakatan yang disebut Trump mencerminkan poin-poin yang diajukan AS dengan Iran dalam diskusi tahun lalu.
Iran Bantah Ada Negosiasi dengan AS
Teheran membantah adanya pembicaraan apa pun dan mengklaim Trump telah menarik kembali ancamannya menghantam pembangkit listrik Iran, karena takut akan pembalasan.
“Tidak ada negosiasi yang dilakukan dengan AS,” tulis Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, yang dikabarkan sebagai pejabat yang dimaksud Trump, di X.
Ghalibaf menuduh bahwa laporan tentang pembicaraan itu merupakan ‘berita palsu’. “Itu berita palsu yang bertujuan memanipulasi pasar keuangan dan minyak,” katanya.
Ia mengatakan penundaan serangan pembangkit listrik oleh AS dimaksudkan untuk ‘keluar dari rawa tempat AS dan Israel terjebak’.
Meskipun demikian, bantahan tersebut dirumuskan dengan hati-hati dan tidak menyangkal bahwa pesan telah disampaikan bolak-balik untuk menjajaki kemungkinan dimulainya kembali pembicaraan.
Ada Banyak Perantara Antara AS dan Iran.
Sejumlah negara kini secara aktif berupaya menengahi kesepakatan antara AS dan Iran, karena dampak perang masih terasa di seluruh dunia, demikian menurut lima sumber yang mengetahui masalah dikutip dari CNN Internasional, Selasa (24/3).
Sumber-sumber tersebut tidak mengetahui adanya negosiasi langsung antara AS dan Iran sejak pecahnya perang, terlepas dari klaim Trump.
Gedung Putih menolak memberikan rincian lebih lanjut tentang diskusi tersebut, yang menurut Trump dipimpin oleh utusannya, Steve Witkoff dan Jared Kushner.
“Ini adalah diskusi diplomatik yang sensitif dan AS tidak akan bernegosiasi melalui pers. Ini adalah situasi yang dinamis, dan spekulasi tentang pertemuan tidak boleh dianggap sebagai hal yang final sampai diumumkan secara resmi oleh Gedung Putih,” kata sekretaris pers Karoline Leavitt dalam pernyataan pers.
Pakistan, Turki, Mesir, dan Oman terlibat dalam upaya negosiasi, kata sumber yang mengetahui situasi tersebut. Upaya diplomatik itu bertujuan mencapai gencatan senjata dan mengamankan jalur aman bagi kapal-kapal melalui Selat Hormuz.
Pihak Pakistan sedang mengupayakan proposal dan upaya mediasi, dan pihak Oman juga telah mengirimkan pesan bolak-balik antara AS dan Iran mengenai Selat Hormuz, kata sumber. Pihak Mesir juga terlibat dalam apa yang digambarkan oleh sumber sebagai upaya diplomatik aktif, kata sumber tersebut.
Pakistan telah mengembangkan hubungan yang kuat dengan pemerintahan Trump selama setahun terakhir, dan telah lama menjalin diskusi dengan rezim Iran. Negara ini memiliki perbatasan yang panjang dengan Iran dan mendapatkan sekitar 90% minyaknya melalui Selat Hormuz, sehingga konflik berdampak langsung pada negara itu, menurut salah satu sumber.
Di pihak Pakistan, Kepala Intelijen Letnan Jenderal Asim Malik adalah salah satu pejabat yang saat ini berdialog dengan Witkoff dan Kushner, kata sebuah sumber.
“Jika kedua belah pihak setuju, Pakistan selalu siap menjadi tuan rumah pembicaraan,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Tahir Hussain Andrabi dikutip dari CNN Internasional.
Sumber lainnya mengatakan, telah terjadi serangkaian panggilan telepon antara Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan dan para mitranya, termasuk Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty. Fidan juga berbicara dengan Witkoff pada Minggu (22/3).
Salah satu sumber regional berteori bahwa pemerintah AS menjangkau Iran melalui berbagai negara untuk memastikan pesan-pesannya diterima oleh semua tokoh terkait di Teheran. Ada pemahaman, kata sumber ini, bahwa pengakhiran perang secara berkelanjutan kemungkinan akan menjadi proses yang lebih panjang.
“Diplomasi sedang berlangsung saat ini, ada beberapa proposal yang sedang dibahas. Sifat diplomasi adalah diskusi yang mengalir bebas,” kata sumber yang mengetahui diskusi tersebut. “Tidak satu pun dari proposal yang dibahas telah mencapai tahap kematangan atau penerimaan umum.”
Pemerintah negara lain mengatakan mereka mengetahui adanya pembicaraan yang sedang berlangsung. “Kami, Inggris, mengetahui bahwa hal itu sedang terjadi,” kata Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, yang berbicara melalui telepon dengan Trump pada Minggu malam, sehari kemudian.