Dalam sebuah operasi militer yang mengejutkan, militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, pada Sabtu (3/1) dinihari. Penangkapan dramatis ini segera diikuti dengan pernyataan dari Presiden AS Donald Trump yang mengumumkan bahwa Negeri Paman Sam akan memimpin Venezuela untuk sementara waktu dan berencana untuk memanfaatkan cadangan minyak melimpah yang dimiliki negara Amerika Latin tersebut.
Beberapa jam setelah penangkapan Maduro, Presiden Trump berbicara kepada wartawan. Ia mengungkapkan secara spesifik rencananya untuk segera menjual sejumlah besar minyak Venezuela ke negara-negara lain. Dalam konferensi pers di Mar-a-Lago pada Sabtu (4/1), seperti dikutip dari Associated Press, Trump menegaskan, “Kami akan menjalankan negara ini sampai saatnya dapat melakukan transisi yang aman, tepat, dan bijaksana.” Pernyataan ini menggarisbawahi komitmen AS untuk mengambil alih kendali sementara demi stabilitas di Venezuela.
Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, yang ditangkap dari kediaman mereka semalam, kini telah dibawa ke atas kapal perang AS, USS Iwo Jima. Penangkapan ini merupakan langkah lanjutan dari dakwaan serius yang dilayangkan oleh Departemen Kehakiman AS. Sejak tahun 2020, Departemen Kehakiman AS telah menuduh pasangan tersebut terlibat dalam jaringan terorisme narkoba, sebuah tuduhan yang kembali diperbarui dengan dakwaan baru yang menggambarkan rezim Maduro sebagai pemerintahan yang korup dan tidak sah. AS sendiri telah lama tidak mengakui Maduro sebagai pemimpin sah negara tersebut.
Operasi penangkapan ini merupakan puncak dari upaya berbulan-bulan yang dilakukan pemerintahan Trump untuk menekan pemimpin Venezuela tersebut. Selama periode ini, AS telah mengerahkan pasukannya di perairan lepas pantai Amerika Selatan, serta melancarkan serangan terhadap kapal-kapal di Pasifik timur dan Karibia yang diduga kuat terlibat dalam aktivitas penyelundupan narkoba.
Eskalasi terbaru terlihat pekan lalu ketika CIA melancarkan serangan pesawat tak berawak di area dermaga yang diyakini digunakan oleh kartel narkoba Venezuela. Operasi ini menandai serangan langsung pertama di wilayah Venezuela sejak AS memulai serangannya pada bulan September 2025, menunjukkan peningkatan signifikan dalam strategi penekanan AS.
Jenderal Dan Caine, Kepala Staf Gabungan AS, mengungkapkan bahwa pasukan AS telah menjalani latihan manuver gabungan yang intensif selama berbulan-bulan. Persiapan ini tidak hanya mencakup strategi militer, tetapi juga studi mendalam tentang pribadi Maduro, mulai dari makanan kegemarannya hingga detail pakaian dan hewan peliharaannya. “Bukan untuk melakukannya dengan benar, tetapi untuk memastikan kami tidak dapat melakukan kesalahan,” kata Caine, menekankan tingkat presisi dan kehati-hatian dalam perencanaan operasi.
Serangan AS yang berlangsung kurang dari 30 menit tersebut memicu ledakan-ledakan yang membuat warga Ibu Kota Venezuela, Caracas, berhamburan ke jalanan. Wakil Presiden Venezuela, Delcy Rodriguez, melaporkan bahwa sejumlah warga sipil dan personel militer tewas dalam aksi militer AS tersebut, menyoroti dampak serius operasi ini terhadap situasi kemanusiaan di lapangan.