
OpenAI, perusahaan pelopor teknologi kecerdasan buatan (AI), secara resmi menjalin kemitraan strategis dengan Pentagon. Kesepakatan ini memungkinkan OpenAI untuk memasok teknologi AI mutakhirnya ke jaringan rahasia militer Amerika Serikat (AS), menandai langkah signifikan dalam keterlibatan sektor teknologi dengan pertahanan nasional. Pentagon sendiri dikenal sebagai markas besar angkatan bersenjata AS.
Pengumuman penting ini disampaikan langsung oleh CEO OpenAI, Sam Altman, hanya berselang beberapa jam setelah Presiden AS, Donald Trump, mengeluarkan perintah tegas kepada seluruh lembaga federal untuk menghentikan penggunaan layanan dari pesaing utama OpenAI, Anthropic.
Keputusan kontroversial dari pemerintah AS tersebut berakar dari kebuntuan negosiasi antara Anthropic, pengembang sistem AI terkemuka bernama Claude, dengan Pentagon. Anthropic mengajukan persyaratan krusial: jaminan bahwa teknologinya tidak akan disalahgunakan untuk pengawasan massal domestik maupun pengembangan sistem senjata otonom yang mampu melenyapkan nyawa tanpa campur tangan manusia. Namun, kedua belah pihak gagal mencapai titik temu terkait klausul fundamental ini.
Menurut laporan dari Guardian, melalui platform media sosial Truth Social miliknya, Presiden Trump pada Minggu (1/3) menyatakan bahwa pemerintah AS akan segera menghentikan semua penggunaan teknologi Anthropic. Trump bahkan menuding perusahaan tersebut mencoba memaksakan ketentuan layanannya di atas kepentingan konstitusional negara.
Baca juga:
- Grab Kembangkan AI, Gandeng OpenAI ChatGPT dan Anthropic
- OpenAI ChatGPT Disebut Akan Produksi HP, Speaker Pintar hingga Kacamata Pintar
- OpenAI ChatGPT Tantang Google, Luncurkan Fitur Pesaing Chrome dan Translate
Dalam pernyataannya, Altman menekankan bahwa kesepakatan OpenAI dengan Pentagon tetap teguh memegang prinsip keselamatan utama perusahaan. “Dua prinsip keselamatan terpenting kami adalah larangan pengawasan massal domestik dan tanggung jawab manusia atas penggunaan kekuatan, termasuk untuk sistem senjata otonom,” tegas Altman, menggarisbawahi komitmen etis perusahaannya.
Altman lebih lanjut menjelaskan bahwa Pentagon telah menyetujui prinsip-prinsip tersebut dan mengintegrasikannya ke dalam kerangka hukum, kebijakan, serta kontrak kerja sama. Ia juga menyuarakan harapannya agar persyaratan serupa dapat diterapkan secara menyeluruh kepada seluruh perusahaan AI, guna mencegah fragmentasi atau perbedaan tekanan hukum yang dapat menghambat inovasi industri.
“Ini adalah cara efektif untuk mengurangi ketegangan akibat tindakan hukum dan pemerintah, menuju kesepakatan yang lebih masuk akal dan adil,” ujar Altman, menunjukkan visi untuk standardisasi etika dalam industri AI.
Industri AI Terbelah
Langkah pemerintah AS yang menghentikan kerja sama dengan Anthropic sontak memicu gelombang solidaritas di antara perusahaan teknologi AI. Hampir 500 karyawan dari OpenAI dan Google dilaporkan menandatangani surat terbuka. Surat tersebut dengan jelas menyatakan penolakan mereka terhadap upaya pemecahbelahan industri AI akibat tekanan kontrak pertahanan.
Surat terbuka itu menuding Pentagon berupaya menekan sejumlah perusahaan untuk menyetujui ketentuan-ketentuan yang sebelumnya telah ditolak tegas oleh Anthropic. “Mereka mencoba memecah belah masing-masing perusahaan karena takut yang lain akan menyerah,” demikian kutipan menohok dari isi surat tersebut, menggambarkan kekhawatiran akan taktik negosiasi pemerintah.
Di tengah dinamika ini, Anthropic kembali menegaskan posisinya yang tidak akan goyah terkait penolakan terhadap pengawasan domestik massal dan sistem senjata otonom penuh. “Tidak ada intimidasi atau hukuman dari Pentagon yang akan mengubah posisi kami tentang pengawasan domestik massal atau senjata otonom sepenuhnya,” demikian pernyataan tertulis Anthropic, menunjukkan keteguhan pada prinsip-prinsip etisnya.
Bagi OpenAI, kesepakatan dengan Pentagon ini menjadi langkah strategis yang vital di tengah laju ekspansi bisnisnya yang ambisius. Pada hari yang sama, perusahaan juga mengumumkan rencana untuk menghimpun dana segar hingga US$110 miliar, setara dengan Rp1.845,7 triliun (dengan kurs Rp16.779 per dolar AS). Inisiatif penggalangan dana ini berpotensi meroketkan valuasi OpenAI hingga sekitar US$840 miliar, atau setara dengan Rp14.094 triliun.