UOB Kay Hian punya saham di 66 emiten, ada PTRO, DADA, hingga INRU

UOB Kay Hian Private Limited kini menempati posisi terdepan sebagai entitas dengan portofolio kepemilikan saham di atas 1% terbanyak di Bursa Efek Indonesia (BEI). Berdasarkan data terkini BEI per 27 Februari 2026, perusahaan sekuritas raksasa yang berbasis di Singapura ini secara mengesankan tercatat memiliki saham di 66 emiten berbeda.

Advertisements

Dalam analisis data kepemilikan saham perusahaan terbuka di atas 1%, terlihat bahwa UOB Kay Hian menyebarkan investasinya dengan porsi di bawah 5% pada berbagai emiten. Contoh signifikan dari investasi minoritas ini termasuk PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dengan 1,37%, PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA) sebesar 1,08%, PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) dengan 4,69%, serta PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) yang mencapai 4,97%. Diversifikasi ini menunjukkan strategi investasi yang terukur namun luas.

Tidak hanya itu, portofolio UOB Kay Hian juga diwarnai oleh kepemilikan saham dengan porsi yang jauh lebih substansial, bahkan dominan di beberapa perusahaan. Sebagai contoh menonjol, kepemilikan di PT Capri Nusa Satu Properti Tbk (CPRI) mencapai 71,20%, PT Soho Global Health Tbk (SOHO) sebesar 40,03%, serta PT Jasnita Telekomindo Tbk (JAST) dengan 29,95%. Selain itu, investasi signifikan lainnya meliputi PT Citatah Tbk (CTTH) sebesar 18,90%, PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) 16,86%, dan PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU) 15,84%. Angka-angka ini menegaskan pengaruh signifikan UOB Kay Hian di sektor-sektor tertentu.

Untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai jejak investasi yang luas ini, berikut adalah daftar lengkap 66 emiten di mana UOB Kay Hian Private Limited menggenggam porsi kepemilikan saham di atas 1%:

  1. PT Anugerah Spareparts Sejahtera Tbk (AEGS) 4,38%.
  2. PT Arthavest Tbk (ARTA) 1,33%.
  3. PT Agro Yasa Lestari Tbk (AYLS) 1,41%.
  4. PT Bank Ganesha Tbk (BGTG) 5,79%.
  5. PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) 16,86%.
  6. PT BISI International Tbk (BISI) 1,47%.
  7. PT Bank QNB Indonesia Tbk (BKSW) 3,06%.
  8. PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) 8,47%.
  9. PT Bali Bintang Sejahtera Tbk (BOLA) 2,09%.
  10. PT Garuda Metalindo Tbk (BOLT) 5,92%.
  11. PT Woori Finance Indonesia Tbk (BPFI) 4,09%.
  12. PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk (BPII) 4,94%.
  13. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) 1,37%.
  14. PT Bintang Samudera Mandiri Lines Tbk (BSML) 1,86%.
  15. PT Budi Starch & Sweetener Tbk (BUDI) 7,73%.
  16. PT Cashlez Worldwide Indonesia Tbk (CASH) 1,98%.
  17. PT Cahaya Aero Services Tbk (CASS) 1,60%.
  18. PT Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk (CENT) 4,00%.
  19. PT Clipan Finance Indonesia Tbk (CFIN) 2,57%.
  20. PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) 2,93%.
  21. PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) 3,13%.
  22. PT Capri Nusa Satu Properti Tbk (CPRI) 71,20%.
  23. PT Central Proteinaprima Tbk (CPRO) 4,87%.
  24. PT Citatah Tbk (CTTH) 18,90%.
  25. PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA) 1,08%.
  26. PT Duta Intidaya Tbk (DAYA) 2,89%.
  27. PT Intiland Development Tbk (DILD) 1,76%.
  28. PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) 4,69%.
  29. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) 3,74%.
  30. PT Electronic City Indonesia Tbk (ECII) 1,04%.
  31. PT Envy Technologies Indonesia Tbk (ENVY) 2,24%.
  32. PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) 4,98%.
  33. PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE) 2,98%.
  34. PT Globe Kita Terang Tbk (GLOB) 4,15%.
  35. PT Galva Technologies Tbk (GLVA) 4,69%.
  36. PT Jaya Trishindo Tbk (HELI) 10,18%.
  37. PT Bank Artha Graha Internasional Tbk (INPC) 1,67%.
  38. PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP) 7,80%.
  39. PT Toba Pulp Lestari Tbk (INRU) 2,27%.
  40. PT Era Graharealty Tbk (IPAC) 4,84%.
  41. PT Jasnita Telekomindo Tbk (JAST) 29,95%.
  42. PT Kino Indonesia Tbk (KINO) 3,55%.
  43. PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN) 3,42%.
  44. PT MAP Boga Adiperkasa Tbk (MAPB) 3,18%.
  45. PT Bank Multiarta Sentosa Tbk (MASB) 4,51%.
  46. PT Bank China Construction Bank Indonesia Tbk (MCOR) 8,21%.
  47. PT Multi Indocitra Tbk (MICE) 3,09%.
  48. PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) 4,97%.
  49. PT Malacca Trust Wuwungan Insurance Tbk (MTWI) 1,49%.
  50. PT Paramita Bangun Sarana Tbk (PBSA) 1,67%.
  51. PT Nusantara Pelabuhan Handal Tbk (PORT) 4,98%.
  52. PT Tripar Multivision Plus Tbk (RAAM) 2,21%.
  53. PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE) 2,36%.
  54. PT Sinergi Multi Lestarindo Tbk (SMLE) 3,80%.
  55. PT Soho Global Health Tbk (SOHO) 40,03%.
  56. PT Tunas Alfin Tbk (TALF) 4,82%.
  57. PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) 4,24%.
  58. PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) 1,12%.
  59. PT Totalindo Eka Persada Tbk (TOPS) 1,61%.
  60. PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (TRIM) 3,63%.
  61. PT Trikomsel Oke Tbk (TRIO) 12,97%.
  62. PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU) 15,84%.
  63. PT Uni-Charm Indonesia Tbk (UCID) 1,22%.
  64. PT Wicaksana Overseas International Tbk (WICO) 2,60%.
  65. PT Hatten Bali Tbk (WINE) 7,25%.
  66. PT Mega Perintis Tbk (ZONE) 4,82%.
Advertisements

Dominasi kepemilikan saham oleh UOB Kay Hian di puluhan emiten ini secara jelas menggarisbawahi peran krusial dan aktif investor institusi asing dalam membentuk struktur kepemilikan perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hal ini juga mencerminkan kepercayaan terhadap potensi pasar modal Indonesia.

Namun, di balik capaian investasi yang mengesankan ini, UOB Kay Hian juga sempat menghadapi perhatian dari regulator. Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengeluarkan perintah kepada UOB Kay Hian untuk segera melakukan pengkinian formulir pembukaan rekening efek. Perintah ini wajib dipatuhi dalam kurun waktu 10 hari sejak penetapan surat sanksi, sejalan dengan aturan terbaru mengenai penerapan program antipencucian uang dan pencegahan pendanaan terorisme (APUPPT).

Perintah OJK tersebut merupakan tindak lanjut dari sanksi yang lebih berat, yakni pembekuan izin usaha PT UOB Kay Hian Sekuritas sebagai penjamin emisi efek selama satu tahun penuh. Sanksi tegas ini dijatuhkan menyusul terkuaknya pelanggaran prosedur penjatahan saham yang terjadi selama proses penawaran umum perdana (IPO) PT Repower Asia Indonesia Tbk (REAL). Kasus ini menyoroti pentingnya kepatuhan terhadap regulasi di pasar modal.

Advertisements