Membuka pekan pertama tahun baru, Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat (AS) menunjukkan pergerakan yang bervariasi pada perdagangan saham Jumat (2/1). Di tengah sentimen yang beragam, indeks S&P 500 berhasil ditutup menguat tipis 0,19% mencapai level 6.858,47, didorong oleh performa cemerlang dari saham-saham sektor semikonduktor.
Tidak hanya S&P 500, Dow Jones Industrial Average juga mencatat lonjakan signifikan sebesar 319,10 poin atau 0,66%, mengukuhkan posisinya di level 48.382,39. Sebaliknya, indeks berbasis teknologi Nasdaq harus rela turun tipis 0,03%, berakhir di posisi 23.235,63, mencerminkan divergensi dalam pergerakan pasar.
Dominasi penguatan pasar pada hari itu tak lepas dari kinerja impresif saham-saham produsen chip. Raksasa teknologi Nvidia melonjak lebih dari 1%, sementara Micron Technology bahkan melesat lebih dari 10%. Kedua emiten yang erat kaitannya dengan kecerdasan buatan (AI) ini memang telah menunjukkan performa luar biasa sepanjang tahun 2025; Nvidia mencatat kenaikan sekitar 39% dan Micron Technology memimpin dengan lonjakan lebih dari 240%.
Namun, euforia di sektor chip tidak menular ke seluruh sektor teknologi. Saham-saham perangkat lunak justru mengalami tekanan jual. Terbukti, Salesforce merosot lebih dari 4% dan CrowdStrike anjlok lebih dari 3%. Beberapa nama besar lainnya seperti Palantir Technologies dan Microsoft juga ikut terpaksa mengakhiri perdagangan di zona merah.
Kabar kurang menyenangkan juga datang dari produsen kendaraan listrik, Tesla, yang sahamnya terkoreksi lebih dari 2%. Penurunan ini terjadi setelah perusahaan melaporkan angka pengiriman kuartal keempat yang berada di bawah ekspektasi para analis. Kendati demikian, secara keseluruhan, pasar saham AS tetap menorehkan kinerja yang solid sepanjang tahun 2025.
Tahun 2025 menjadi saksi bisu keperkasaan pasar saham AS. Indeks S&P 500 melonjak lebih dari 16%, Nasdaq melesat lebih dari 20%, dan Dow Jones menguat sekitar 13%. Ketiga indeks utama ini bahkan berhasil mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarahnya, menandai periode pertumbuhan yang luar biasa.
Menyikapi dinamika pasar ke depan, CEO Infrastructure Capital Advisors, Jay Hatfield, menyampaikan pandangannya bahwa pasar akan terus mengalami rotasi antara sektor teknologi dan non-teknologi. Meskipun demikian, tren kenaikan secara keseluruhan diperkirakan akan tetap berlanjut. Hatfield bahkan memproyeksikan S&P 500 berpotensi menembus level 8.000 pada akhir tahun ini.
Menurut Hatfield, reli pasar yang akan datang kemungkinan besar akan berjalan lebih seimbang, tidak hanya didominasi oleh teknologi. Ia secara spesifik menilai bahwa saham-saham bank regional memiliki peluang besar untuk mengungguli pasar, sementara saham teknologi dengan valuasi tinggi, seperti Tesla, justru berpotensi tertinggal.
“Ada tema-tema selain teknologi yang sangat mungkin berhasil tahun ini,” tegas Hatfield, seperti dikutip dari CNBC, Senin (5/1), menggarisbawahi potensi diversifikasi investasi di luar sektor yang sedang menjadi primadona.
Pandangan positif terhadap prospek pasar saham Amerika Serikat juga diamini oleh para strategis Wall Street. Survei Strategis Pasar CNBC mengungkapkan bahwa target rata-rata Indeks S&P 500 untuk tahun 2026 diproyeksikan berada di level 7.629, yang mengindikasikan potensi kenaikan sekitar 11,4% dari posisi saat ini.
Di samping kinerja indeks, perdagangan Jumat juga diwarnai oleh sentimen positif lainnya. Saham Wayfair melonjak sekitar 6% dan RH naik sekitar 8%. Penguatan ini dipicu oleh keputusan Presiden AS Donald Trump yang menunda kenaikan tarif atas furnitur berlapis kain, lemari dapur, dan wastafel selama satu tahun penuh.
Keputusan yang diumumkan pada Malam Tahun Baru tersebut secara konkret menunda penerapan tarif 30% untuk furnitur berlapis kain serta bea masuk 50% untuk lemari dapur dan wastafel. Meski demikian, Trump tetap mempertahankan tarif 25% yang telah diberlakukan sejak September sebelumnya, menunjukkan pendekatan yang tetap hati-hati terhadap kebijakan perdagangan.