Wall Street nilai pasar saham AS masih bisa naik meski khawatirkan AI

Pasar saham Amerika Serikat terus menunjukkan ketangguhannya, bercokol di dekat level puncaknya sepanjang masa, meskipun desas-desus mengenai potensi bubble atau gelembung di sektor kecerdasan buatan (AI) kian santer. Sejumlah pakar strategi investasi di Wall Street justru berpendapat bahwa reli saham saat ini belum mengindikasikan gelembung spekulatif yang berlebihan. Indeks S&P 500, salah satu tolok ukur utama pasar saham AS, diproyeksikan menutup tahun dengan kenaikan lebih dari 17 persen, berkat dorongan signifikan dari sektor teknologi yang melesat 26 persen sepanjang tahun. Kinerja impresif ini menjadi fondasi kuat bagi banyak analis untuk menolak pandangan bahwa pasar telah memasuki fase gelembung berbahaya.

Advertisements

Para Ahli Strategi Investasi: Gelembung Pasar Belum Terjadi, tapi Menuju ke Sana
Pandangan bahwa gelembung spekulatif belum melanda pasar saham Amerika Serikat ini digaungkan oleh Mary Ann Bartels, Kepala Strategi Investasi Sanctuary Wealth. Bartels menegaskan bahwa ia belum melihat tanda-tanda gelembung saat ini, meski tidak menutup kemungkinan risiko tersebut akan muncul di kemudian hari. “Saya sama sekali tidak melihat adanya bubble. Namun, saya percaya kita akan menuju ke arah bubble,” ungkap Bartels, seperti dikutip dari Yahoo Finance. Ia membandingkan dinamika pasar saham AS saat ini dengan periode gelembung historis, termasuk akhir tahun 1920-an dan era gelembung dot-com. Menurutnya, pola pergerakan pasar menunjukkan kemiripan yang mencolok dengan periode-periode tersebut. “Pergerakannya cukup mirip. Bahkan, agak terasa janggal bagaimana kita mengikuti pola tersebut,” tambahnya. Bartels memperkirakan bahwa gelembung mungkin baru akan terjadi sekitar tahun 2029 hingga 2030. Meskipun demikian, Sanctuary Wealth tetap optimis, memproyeksikan saham teknologi akan terus memimpin kenaikan pasar hingga akhir dekade ini, dengan target S&P 500 mencapai 10.000 hingga 13.000 pada tahun 2030. Oleh karena itu, tahun 2026 disebut sebagai “tahun untuk tidak takut” karena potensi kenaikan signifikan di pasar, khususnya pada sektor teknologi, masih sangat terbuka lebar.

Dominasi Saham Semikonduktor sebagai Pendorong Utama Reli Pasar
Optimisme pasar juga didorong kuat oleh performa gemilang saham semikonduktor. Sektor yang dulunya kerap dianggap komoditas biasa ini kini telah bertransformasi menjadi tulang punggung pertumbuhan, dengan Nvidia berdiri sebagai pionir yang mengubah lanskap industri chip secara fundamental. Produsen chip AI terkemuka ini telah mencetak kenaikan saham lebih dari 40 persen sepanjang tahun ini, melambungkan kapitalisasi pasarnya hingga sekitar 4,6 triliun dolar AS dan menjadikannya perusahaan publik paling bernilai di dunia. Penguatan saham Nvidia terus berlanjut, didukung oleh kesepakatan lisensi senilai 20 miliar dolar AS dengan pembuat chip khusus Groq yang diumumkan pada Jumat (26/12/2025) lalu. Persaingan di industri chip juga memanas, terlihat dari langkah Alphabet melalui Google yang memperkenalkan chip khusus pelanggan, Tensor Processing Units (TPUs). Pergerakan ini turut mendorong saham Alphabet melonjak sekitar 65 persen sepanjang tahun berjalan.

UBS dan Goldman Sachs: Kenaikan Pasar Ditopang Fundamental, Bukan Gelembung Valuasi
Senada dengan pandangan Bartels, UBS Global Wealth Management juga memproyeksikan keberlanjutan reli pasar saham AS hingga tahun 2026. Optimisme ini didasari oleh pertumbuhan laba yang kuat dan adopsi kecerdasan buatan (AI) yang terus meluas. “Kami mencatat bahwa rasio forward price-to-earnings hanya sedikit lebih tinggi dibanding awal tahun, yang menegaskan bahwa kenaikan pasar didorong oleh pertumbuhan laba, bukan oleh gelembung valuasi,” papar para strategi UBS. Mereka memproyeksikan laba per saham S&P 500 akan tumbuh sekitar 10 persen secara tahunan, dengan target indeks mencapai 7.700 pada akhir 2026. Pandangan serupa turut diutarakan oleh analis dari Goldman Sachs. Pada Oktober lalu, bank investasi terkemuka ini menyatakan bahwa pasar saham belum berada dalam kondisi bubble karena kenaikan saham teknologi lebih banyak ditopang oleh pertumbuhan fundamental yang solid, bukan semata-mata spekulasi berlebihan. Goldman Sachs juga menyoroti fakta bahwa sektor AI masih didominasi oleh segelintir pemain besar, berbeda dengan ciri khas gelembung yang biasanya melibatkan lonjakan partisipasi dari banyak pendatang baru.

Advertisements

Partisipasi Pasar Diproyeksikan Akan Meluas di Luar Saham “Magnificent 7”
Meskipun pertumbuhan laba sepanjang tahun ini sebagian besar didominasi oleh tujuh saham terbesar dalam indeks S&P 500 yang dikenal sebagai “Magnificent 7”, Goldman Sachs memprediksi bahwa partisipasi pasar akan semakin meluas di masa mendatang. “Kami memperkirakan dorongan makro dari percepatan pertumbuhan ekonomi dan berkurangnya tekanan tarif terhadap margin akan mendukung percepatan pertumbuhan laba bagi 493 saham lainnya,” jelas Ben Snider dari Goldman Sachs. Senada dengan pandangan ini, Joseph Shaposhnik, pendiri Rainwater Equity, juga menyatakan bahwa peningkatan produktivitas yang didorong oleh kecerdasan buatan (AI) berpotensi mendorong kinerja perusahaan-perusahaan di luar kelompok “Magnificent 7”. “Saya pikir sebagian akan melambat, sementara sebagian lainnya akan tampil baik,” ujar Shaposhnik. Ia menambahkan, “Namun, peluang imbal hasil yang lebih besar tahun depan justru akan berada di luar tujuh perusahaan tersebut,” mengisyaratkan potensi diversifikasi investasi yang menjanjikan.

FAQ Seputar Pasar Saham AS

Pertanyaan: Apakah Wall Street melihat pasar saham AS sedang berada dalam gelembung (bubble)?

Jawaban: Sebagian besar ahli strategi investasi menilai pasar saham AS belum berada dalam kondisi gelembung saat ini, meskipun ada potensi di masa depan.

Pertanyaan: Sektor apa yang paling mendorong kenaikan pasar saham?

Jawaban: Saham teknologi, khususnya sektor semikonduktor dan AI, menjadi pendorong utama reli pasar.

Pertanyaan: Bagaimana proyeksi S&P 500 untuk tahun 2026?

Jawaban: Beberapa analis memproyeksikan indeks S&P 500 bisa mencapai level sekitar 7.700 pada akhir tahun 2026.

Baca Juga:

  • Aksi Warner Bros Akuisisi Netflix 72 Miliar Dolar Gegerkan Wall Street
  • Peristiwa Black Monday, Saat Wall Street Runtuh dalam Sehari
  • 5 Transformasi Pasar Saham akibat AI dan Dampaknya untuk Keuanganmu

Advertisements