4 hal yang perlu dipertimbangkan sebelum membeli saham IPO

Saham IPO (Initial Public Offering), atau yang dalam Bahasa Indonesia dikenal sebagai Penawaran Umum Perdana, merupakan momen ketika sebuah perusahaan swasta pertama kali menjual sahamnya kepada publik di bursa efek. Melalui proses ini, perusahaan membuka gerbang bagi masyarakat luas untuk turut serta memiliki sebagian dari bisnisnya. Tidak heran jika saham IPO kerap menarik perhatian banyak investor, khususnya karena statusnya yang masih baru dan seringkali diasosiasikan dengan potensi keuntungan besar di awal.

Advertisements

Namun, daya tarik saham perdana ini sering kali menjebak. Banyak individu tergoda untuk membeli tanpa benar-benar menyelami fundamental bisnis di baliknya. Mengingat tingginya risiko IPO, diperlukan pertimbangan matang sebelum memutuskan untuk ikut membeli saham IPO. Berikut adalah beberapa hal krusial yang patut direnungkan sebelum Anda berinvestasi dalam Penawaran Umum Perdana.

1. Memahami bisnis dan model pendapatan perusahaan

Langkah pertama yang esensial adalah memahami secara mendalam bisnis inti perusahaan yang akan melantai di bursa. Penting untuk mengetahui dengan pasti dari mana perusahaan memperoleh pendapatan utamanya dan seberapa berkelanjutan sumber-sumber tersebut di masa depan. Sebuah bisnis yang tampak populer di permukaan belum tentu memiliki arus kas yang kuat atau stabil dalam jangka panjang. Seringkali, tren sesaat bisa membuat suatu usaha terlihat sangat menarik, padahal fondasinya rapuh.

Advertisements

Lebih lanjut, telusuri apakah produk atau layanan perusahaan memang dibutuhkan pasar secara berkelanjutan. Ambil contoh banyak perusahaan teknologi yang memiliki basis pengguna masif, namun belum mampu membukukan laba yang konsisten. Tanpa pemahaman model bisnis yang jelas dan prospek jangka panjang yang realistis, membeli saham IPO bisa berubah menjadi aksi spekulasi murni yang sarat risiko tinggi.

2. Membaca dokumen prospektus dengan cermat

Prospektus adalah dokumen resmi yang menyajikan penjelasan komprehensif tentang perusahaan yang akan melepas sahamnya ke publik. Dokumen ini sering kali diabaikan oleh investor karena dianggap terlalu tebal dan sulit dipahami. Padahal, prospektus adalah kunci yang memuat informasi vital mengenai kondisi keuangan perusahaan, rencana penggunaan dana hasil IPO, serta beragam risiko bisnis yang mungkin dihadapi.

Dengan menganalisis prospektus secara saksama, Anda dapat mengetahui apakah dana yang dihimpun dari IPO akan dialokasikan untuk ekspansi bisnis yang sehat dan produktif, atau justru sekadar untuk menutup utang-utang lama. Informasi mengenai jajaran manajemen dan struktur kepemilikan juga terpapar jelas di dalamnya. Ini semua akan membantu Anda menilai keseriusan, tingkat keterbukaan, dan arah bisnis perusahaan ke depan dengan lebih objektif dan terukur.

3. Menilai harga penawaran dan valuasi

Harga saham IPO tidak selalu merefleksikan nilai intrinsik perusahaan. Dalam banyak kasus, harga penawaran sudah dipatok cukup tinggi, didorong oleh ekspektasi pasar yang terlalu optimistis. Jika harapan tersebut tidak terpenuhi setelah saham mulai diperdagangkan, tidak jarang harga bisa anjlok. Kondisi ini sering mengejutkan investor pemula yang belum siap menghadapi pergerakan harga yang tajam dan tak terduga.

Oleh karena itu, menilai kewajaran harga menjadi sangat penting agar Anda tidak membeli saham di harga yang terlalu mahal. Melakukan perbandingan dengan perusahaan sejenis yang sudah melantai di bursa dapat memberikan gambaran kasar mengenai skala bisnis, proyeksi pendapatan, dan potensi pertumbuhannya. Pendekatan ini membantu Anda menghindari keputusan emosional yang hanya didorong oleh rasa takut ketinggalan (fear of missing out) dan ikut-ikutan tren sesaat di pasar.

4. Memperhatikan sentimen pasar dan periode lock up

Pergerakan awal saham IPO sangat dipengaruhi oleh sentimen pasar secara umum. Jika kondisi pasar sedang lesu atau penuh ketidakpastian, saham perusahaan yang bagus sekalipun bisa ikut tertekan. Sebaliknya, antusiasme berlebihan juga dapat membuat harga melonjak cepat tanpa didukung oleh kinerja fundamental perusahaan. Kondisi ini sering memicu fluktuasi harga yang tajam di awal perdagangan, sehingga memerlukan kehati-hatian ekstra.

Selain itu, penting juga untuk memahami periode lock up bagi pemegang saham lama. Lock up adalah suatu masa di mana pemilik awal saham dilarang untuk menjual kepemilikannya. Setelah masa ini berakhir, sejumlah pemegang saham bisa mulai menjual untuk merealisasikan keuntungan. Situasi ini berpotensi menambah tekanan jual di pasar dan memengaruhi pergerakan harga saham dalam beberapa bulan pertama setelah IPO.

Membeli saham IPO sebaiknya tidak dilakukan secara terburu-buru. Setiap keputusan harus didasarkan pada pemahaman yang solid mengenai bisnis perusahaan, kewajaran harga, dan kondisi pasar secara menyeluruh. Fokus utama Anda harus tetap pada kualitas fundamental perusahaan, bukan sekadar sensasi sesaat yang diciptakan oleh IPO. Dengan memperhatikan setiap hal yang perlu dipertimbangkan sebelum membeli saham IPO, instrumen ini dapat menjadi bagian berharga dari strategi investasi jangka panjang Anda.

5 Alasan untuk Tidak Membeli Saham IPO Meski Menguntungkan, Tunggu! BRI, BNI, Mandiri Alihkan Saham Seri B Milik Danantara ke BP BUMN

Advertisements