Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, menyoroti realitas target kunjungan wisatawan ke Pulau Bali yang belum terpenuhi, meskipun secara keseluruhan, tren kedatangan wisatawan mancanegara ke Indonesia menunjukkan peningkatan yang positif.
Menurut penjelasan Widiyanti, hingga saat ini, Pulau Dewata telah menyambut sekitar 6,8 juta pelancong. Angka ini masih sedikit di bawah target ambisius 7 juta wisatawan yang ditetapkan untuk tahun ini. “Meskipun demikian, peningkatan jumlah wisatawan mancanegara secara umum tetap terlihat. Untuk Bali sendiri, kami mencatat 6,8 juta kunjungan, sementara target kami adalah 7 juta,” tutur Widiyanti dalam keterangannya di Monsieur Spoon, Pondok Indah Mall, Jakarta Selatan, pada Jumat (26/12).
Sekretaris Jenderal Yayasan Jantung Indonesia periode 2018-2024 tersebut kemudian menguraikan beberapa faktor utama yang berkontribusi pada dinamika kunjungan turis di Bali. Salah satu pemicu utamanya adalah penurunan signifikan pada angka kunjungan wisatawan nusantara.
Widiyanti menduga bahwa kondisi ini tidak lepas dari gencarnya informasi mengenai cuaca ekstrem. Isu cuaca buruk yang tersebar luas disinyalir menjadi alasan sebagian wisatawan domestik memutuskan untuk menunda rencana perjalanan mereka ke Bali. “Mungkin karena masifnya informasi yang beredar tentang kondisi cuaca yang kurang kondusif,” jelasnya.
Selain faktor cuaca, Widiyanti juga mengidentifikasi adanya pergeseran signifikan dalam pola destinasi wisata pilihan wisatawan domestik. Sejumlah wilayah di Pulau Jawa, seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Daerah Istimewa Yogyakarta, kini menjadi magnet baru dan alternatif tujuan liburan. “Peningkatan kunjungan ke Yogyakarta, misalnya, terlihat luar biasa,” tambahnya, menyoroti dinamika preferensi perjalanan ini.
Meskipun mengakui bahwa target kunjungan turis belum optimal, Widiyanti menegaskan bahwa Bali sama sekali tidak dalam kondisi sepi. Ia memastikan bahwa aktivitas pariwisata di Pulau Dewata tetap bergeliat dan ramai, dengan penurunan kunjungan yang relatif minim, yakni sekitar dua persen. “Bali masih sangat ramai, hanya saja ada sedikit penurunan dari proyeksi,” pungkasnya, memberikan perspektif yang lebih positif mengenai kondisi pariwisata di sana.