Pengusaha: Tingkat hunian hotel saat libur Nataru 2026 tak sesuai harapan

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mengungkapkan bahwa tingkat keterisian atau okupansi hotel selama musim libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) jauh dari ekspektasi. Prediksi awal yang menargetkan okupansi mencapai 100% selama empat hari libur tidak terwujud; rata-rata okupansi di atas 70% hanya tercapai pada 25 dan 31 Desember 2025.

Advertisements

Kondisi yang kurang memuaskan ini diproyeksikan akan kembali terulang pada libur Imlek 2026. “Peningkatan daya beli masyarakat tidak dapat dilakukan dalam waktu sebulan,” ujar Sekretaris Jenderal PHRI, Maulana Yusran, kepada Katadata.co.id pada Rabu (7/1). Hal ini mengindikasikan tantangan berulang bagi sektor perhotelan.

Maulana memperkirakan puncak okupansi hotel selama Imlek 2026 hanya akan menyentuh angka 70% pada pekan ketiga Februari 2026. Peningkatan signifikan dalam keterisian kamar hotel diperkirakan hanya terjadi di wilayah-wilayah yang menjadi pusat pariwisata atau komunitas Khonghucu, seperti Bali dan Medan.

Selain belum pulihnya daya beli masyarakat, faktor lain yang turut menekan okupansi hotel adalah momentum Ramadan 2026. Maulana memprediksi masyarakat cenderung akan menahan daya belinya selama libur Imlek 2026 demi mengalokasikannya untuk kebutuhan selama libur Lebaran 2026.

Advertisements

Perjalanan mudik Lebaran telah menjadi tradisi yang mengakar kuat di kalangan masyarakat Indonesia. “Konsumen akan mengutamakan perjalanan mudik pada Lebaran 2026 meskipun daya beli menurun. Oleh karena itu, perjalanan wisata akan berkurang, sehingga tidak akan ada lonjakan okupansi yang besar selama Imlek 2026,” jelas Maulana, menggarisbawahi prioritas pengeluaran masyarakat.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tingkat okupansi hotel umumnya mencapai puncaknya setiap bulan November. Namun, pada November 2025, tingkat keterisian hotel hanya mencapai 53,89%. Angka ini lebih rendah dibandingkan capaian pada tahun 2024 yang sebesar 55%, bahkan jauh di bawah 56,7% pada tahun 2023, menandakan tren penurunan yang berkelanjutan.

Sebanyak 10 provinsi mencatatkan penurunan okupansi hotel secara bulanan pada November 2025. Salah satu penurunan terbesar terjadi di Bali, di mana tingkat okupansi merosot dari 64,57% pada Oktober 2025 menjadi 57,97% pada November 2025.

Sebelumnya, Maulana menjelaskan bahwa penurunan jumlah wisatawan, khususnya di Bali, disebabkan oleh berkurangnya kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). PHRI sendiri belum bisa memastikan data apakah memang terjadi pergeseran destinasi pelesir oleh wisatawan domestik (wisnus) dari Bali ke Yogyakarta selama Nataru 2025/2026.

Menurut Maulana, mayoritas wisatawan yang berkunjung ke Bali adalah turis asing. Saat ini, kunjungan wisman ke Pulau Dewata tidak setinggi pada musim puncak yang biasanya terjadi selama Juli-Agustus atau musim panas.

Selain itu, kunjungan wisman ke Bali saat ini turut tertahan oleh sentimen negatif akibat bencana banjir yang sempat melanda. Sementara itu, kunjungan wisnus ke Pulau Dewata diproyeksikan minim akibat daya beli yang belum pulih dan tingginya harga tiket pesawat.

Harga tiket pesawat ke Bali saat ini cukup mahal, sekitar Rp 3,5 juta untuk perjalanan pulang-balik dari Jakarta. Namun, pendorong utama penurunan jumlah wisatawan di Bali adalah rendahnya kunjungan wisman,” pungkas Maulana.

Advertisements