Pemimpin Iran sebut demo besar-besaran sebagai sabotase dan didukung pihak asing

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei, menegaskan bahwa pemerintahannya tidak akan pernah surut dalam menghadapi gejolak sosial dan tuntutan publik yang kian memuncak. Dengan nada tegas, ia menuduh aksi-aksi ini sebagai sabotase yang direkayasa pihak asing, secara spesifik menunjuk Amerika Serikat (AS).

Advertisements

Dalam pidato yang disampaikannya pada Jumat (9/1), Khamenei tidak ragu melabeli para peserta demonstrasi sebagai ‘perusak’ dan ‘penyabotase’. Ia secara terang-terangan menggambarkan gelombang protes massal tersebut sebagai upaya sabotase yang diinspirasi oleh kekuatan eksternal.

Ia bahkan mengeluarkan pernyataan tajam, “Para demonstran merusak jalanan mereka sendiri hanya untuk menyenangkan presiden negara lain.” Pernyataan ini, yang merujuk pada Presiden AS Donald Trump sebagaimana dilaporkan sejumlah media asing dan dikutip oleh Deutsche Welle pada Sabtu (10/1), menunjukkan ketegangan diplomatik yang mendalam.

Merujuk pada konflik singkat antara Iran dan Israel yang didukung AS pada bulan Juni, Khamenei tak segan menyatakan bahwa tangan Trump ‘berlumuran darah lebih dari seribu warga Iran‘, sebuah tuduhan serius yang semakin memanaskan situasi. Lebih lanjut, ia memprediksi bahwa presiden AS yang disebutnya ‘arogan’ itu akan menemui nasib serupa dengan Shah Iran, monarki yang digulingkan dalam Revolusi 1979 yang kemudian melahirkan rezim ulama saat ini.

Advertisements

Di hadapan para pendukungnya, Khamenei mengklaim, “Semalam di Teheran, sekelompok perusak datang dan menghancurkan suatu bangunan milik mereka untuk menyenangkan presiden AS.” Seruan ‘Matilah Amerika’ pun membahana dari kerumunan, mengiringi setiap perkataannya.

Sejalan dengan pernyataan Khamenei, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, juga menegaskan bahwa pemerintahnya menuduh Israel dan Amerika Serikat sebagai dalang di balik gelombang protes anti-pemerintah yang terus menyebar di penjuru negeri. Dalam kunjungan resminya ke Lebanon, Araghchi menyatakan dengan lugas, “Amerika dan Israel secara langsung ikut campur dalam protes, berusaha mengubah protes damai menjadi aksi yang memecah belah dan penuh kekerasan.”

Meski demikian, Araghchi meremehkan kemungkinan adanya aksi militer dalam waktu dekat dari AS atau Israel. Ia menambahkan, “Kami yakin kemungkinan hal ini terjadi sangat kecil, karena upaya mereka sebelumnya benar-benar gagal,” mencerminkan kepercayaan diri Iran terhadap ketahanan mereka. Perlu diingat, pada musim panas lalu, Israel dengan dukungan AS memang melancarkan perang singkat melawan Iran, yang menurut pejabat kedua negara, bertujuan untuk melumpuhkan kemampuan nuklir Iran.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah melontarkan peringatan keras kepada para pemimpin Iran akan adanya ‘konsekuensi berat’ jika mereka berani menindak tegas gerakan protes yang berkobar di negara berjuluk Persia itu. Dalam pernyataannya kepada wartawan di Gedung Putih pada Jumat (9/1) waktu setempat, seperti dikutip Reuters pada Sabtu (10/1), Trump secara blak-blakan mengancam, “Sebaiknya kalian jangan mulai menembak (demonstran), karena kami juga akan mulai menembak.”

Tuduhan ini bukan tanpa dasar, sebab berbagai kelompok hak asasi manusia telah melaporkan bahwa pasukan keamanan Iran diduga telah menewaskan dan melukai sejumlah demonstran dalam upaya pembubaran. Namun demikian, para pengamat politik berpendapat bahwa Trump tampaknya masih menahan diri, menunggu perkembangan krisis di Iran sebelum memutuskan untuk memberikan dukungan kepada seorang pemimpin oposisi. Pandangan ini diperkuat oleh pernyataannya yang tidak berniat bertemu dengan Reza Pahlavi, putra mahkota yang diasingkan dan anak mendiang Shah Iran.

Kepada pembawa acara radio konservatif Hugh Hewitt pada Kamis (8/1), Trump mengungkapkan strateginya, “Saya pikir kita harus membiarkan semua orang keluar dan melihat siapa yang akan muncul. Saya tidak yakin apakah itu hal yang tepat untuk dilakukan,” mengisyaratkan pendekatan yang lebih observasional. Sementara itu, Reza Pahlavi, yang kini menetap di dekat Washington, terus menyerukan demonstrasi massal secara berkelanjutan melalui platform media sosial. Dalam unggahannya pada Jumat (9/1), ia secara langsung meminta Trump untuk terlibat lebih aktif dalam krisis ini dengan ‘perhatian, dukungan, dan tindakan’ konkret. Pahlavi memohon, “Anda (Trump) telah membuktikan dan saya tahu Anda adalah seorang pria yang cinta damai dan seorang yang menepati janji. Mohon bersiaplah untuk turun tangan membantu rakyat Iran,” menyoroti harapannya akan intervensi AS.

Puluhan Orang Dilaporkan Meninggal Dunia dalam Demonstrasi di Iran

Di tengah ketegangan politik, gelombang protes besar-besaran kembali pecah di berbagai kota utama Iran, termasuk ibu kota, Teheran, dan kota terpadat kedua, Mashhad. Sejumlah video yang tersebar luas di media sosial memperlihatkan kerumunan besar masyarakat berkumpul di area-area pusat kota, menyuarakan ketidakpuasan. Di distrik Sadatabad, Teheran, warga setempat terlihat memukul-mukul panci dan meneriakkan slogan-slogan anti-pemerintah yang provokatif, termasuk ‘matilah Khamenei‘. Di saat yang sama, deretan mobil membunyikan klakson panjang, memberikan sinyal dukungan moral kepada para pengunjuk rasa. Meskipun demikian, validitas sebagian rekaman lain tidak dapat diverifikasi secara independen, dan skala protes secara keseluruhan awalnya masih sulit dipastikan.

Pusat Hak Asasi Manusia di Iran yang bermarkas di New York melaporkan bahwa mereka menerima kesaksian yang dapat dipercaya mengenai kondisi rumah sakit di Teheran, Mashhad, dan Karaj yang kewalahan menangani banyaknya demonstran yang terluka. Sebuah video yang disebarkan oleh aktivis menunjukkan pemandangan kacau di distrik Saadat Abad, Teheran, dengan kobaran api yang membakar. Masjid dikabarkan dibakar, sementara para pengunjuk rasa terus meneriakkan ‘Matilah diktator!’

Laporan dari kalangan mahasiswa menggambarkan situasi keamanan yang sangat ketat. Buletin mahasiswa Amirkabir menyebutkan bahwa pasukan khusus bersenjata senapan Kalashnikov ditempatkan di setiap 10 meter di sepanjang jalan-jalan utama, menciptakan suasana mencekam. Wali Kota Teheran, Alireza Zakani, mengonfirmasi bahwa kerusuhan pada Kamis (8/1) malam telah mengakibatkan pembakaran lebih dari 50 bank dan sejumlah gedung pemerintahan. Ia menambahkan, “Lebih dari 30 masjid terbakar,” dalam sebuah video yang disiarkan oleh kantor berita Mehr yang berafiliasi dengan pemerintah.

Sementara itu, Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di AS melaporkan bahwa sedikitnya 62 orang telah tewas akibat protes anti-pemerintah yang telah berlangsung hingga hari ke-13. Menurut HRANA, korban meninggal dunia termasuk 14 personel keamanan dan 48 demonstran, terhitung sejak dimulainya protes pada 28 Desember. HRANA juga mencatat bahwa sekitar 2.300 orang telah ditahan di Iran seiring dengan tindakan keras pemerintah dalam menumpas demonstrasi.

LSM lain, Iran Human Rights (IHRNGO), memberikan data yang sedikit berbeda, menyebutkan 51 demonstran tewas, termasuk sembilan anak-anak. IHRNGO menguraikan bahwa kematian terjadi tidak hanya di Teheran, tetapi juga di kota-kota lain seperti Mashad, Karaj, dan Hamedan. Ratusan orang lainnya juga dilaporkan terluka sejak awal demonstrasi.

Direktur IHRNGO, Mahmood Amiry-Moghaddam, mengungkapkan kekhawatirannya, “Pemadaman internet nasional mengingatkan kita pada penindakan berdarah terhadap protes November 2019, ketika beberapa ratus demonstran tewas.” Ia melanjutkan, “Selama 13 hari terakhir, tingkat penggunaan kekerasan oleh pemerintah terhadap para demonstran semakin meningkat, dan risiko peningkatan kekerasan serta pembunuhan massal terhadap para demonstran setelah pemadaman internet sangat serius,” menandakan eskalasi situasi. Oleh karena itu, Amiry-Moghaddam menyerukan komunitas internasional untuk segera menyampaikan pesan tegas kepada pemerintah Iran bahwa “dunia tidak akan menoleransi pembunuhan para demonstran,” demi mencegah jatuhnya lebih banyak korban.

Advertisements