
Nama Reza Pahlavi kembali menarik perhatian publik setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melabelinya sebagai figur yang bersahabat. Pernyataan ini muncul di tengah gejolak konflik domestik yang mengguncang Iran sejak akhir tahun lalu, menempatkan sosoknya di garis depan sorotan global.
Meskipun demikian, Trump dengan tegas menyatakan tidak akan bertemu dengan Reza Pahlavi, yang menyebut dirinya sebagai Putra Mahkota Iran. Sikap hati-hati Washington ini mencerminkan keengganan AS untuk memberikan dukungan politik eksplisit, apalagi jika menyangkut potensi keruntuhan rezim yang berkuasa saat ini di Iran.
Reza Pahlavi adalah putra mahkota terakhir Iran dan figur krusial di kalangan oposisi terhadap Republik Islam Iran, yang saat ini dipimpin oleh Ayatollah Ali Khamenei. Jejak sejarahnya sebagai pewaris takhta monarki yang digulingkan memberinya posisi unik dalam dinamika politik Iran.
Lahir pada 31 Oktober 1960 di Teheran, Reza Pahlavi merupakan anak sulung dari Mohammad Reza Shah Pahlavi, sang shah terakhir Iran, dan Permaisuri Farah Pahlavi. Ia secara resmi dinobatkan sebagai Putra Mahkota Iran pada tahun 1967, bertepatan dengan penobatan ayahnya sebagai shah.
Pendidikan awalnya ditempuh di Iran, namun ketegangan politik yang memuncak pada akhir 1970-an mengubah jalan hidupnya. Pada usia 17 tahun di tahun 1978, ia meninggalkan Iran untuk menjalani pelatihan jet tempur Angkatan Udara Amerika Serikat di Reese Air Force Base, Texas.
Ketika gejolak kerusuhan semakin meluas, revolusi Islam yang dipimpin Ayatollah Khomeini pada Januari 1979 menggulingkan monarki dan memaksa keluarga kerajaan angkat kaki dari Iran. Sejak saat itu, Reza Pahlavi tidak pernah lagi menginjakkan kaki di tanah kelahirannya, memulai babak hidupnya dalam pengasingan.
Selama di pengasingan, ia melanjutkan pendidikan tinggi dan berhasil meraih gelar ilmu politik dari University of Southern California. Sebagai pilot jet tempur profesional, Reza Pahlavi bahkan sempat menawarkan diri untuk mengabdi dalam militer Iran sebagai penerbang tempur selama Perang Iran–Irak, sebuah tawaran yang sayangnya ditolak oleh rezim yang berkuasa kala itu.
Setelah menyelesaikan studinya, Pahlavi tampil sebagai pendukung vokal bagi perubahan politik fundamental di Iran, mengarahkan fokusnya pada masa depan negaranya dari jauh.
Bermukim di Washington, D.C., bersama keluarganya, ia secara konsisten menyerukan transisi damai menuju demokrasi sekuler. Agendanya mencakup advokasi kuat untuk hak asasi manusia, kebebasan sipil, serta penyelenggaraan referendum nasional yang memungkinkan rakyat Iran secara mandiri menentukan bentuk pemerintahan mereka di masa depan.
Melansir laman pribadinya, rezapahlavi.org, Reza Pahlavi dengan tegas menolak gagasan restorasi monarki klasik. Ia justru menekankan pentingnya demokrasi dan kedaulatan rakyat, menilai bahwa rakyat Iran saat ini menginginkan sistem pemerintahan yang jauh lebih representatif dan akuntabel.
Reli Warga Iran di Tokyo (David Mareuil / Anadolu via Reuters Connect)
Selama lebih dari empat dekade dalam pengasingan, Pahlavi telah menjadi tokoh sentral dan pengadvokasi gigih prinsip-prinsip kebebasan, demokrasi, serta hak asasi manusia bagi rakyat Iran. Ia menjaga komunikasi intensif dengan sesama warga Iran dan berbagai kelompok oposisi, baik yang berada di dalam maupun luar negeri.
Dalam upaya menyuarakan kondisi rakyat Iran di bawah cengkeraman rezim Islam, ia tak jarang berkeliling dunia. Pertemuan dengan kepala negara, anggota legislatif, pembuat kebijakan, kelompok kepentingan, hingga komunitas mahasiswa menjadi bagian dari upayanya memperjuangkan nasib bangsanya.
Pahlavi secara konsisten mengecam praktik pelanggaran dan penindasan yang meluas terhadap rakyat Iran. Ia tak henti-hentinya menyerukan pembentukan sistem demokrasi sekuler yang dapat menjamin keadilan dan kebebasan bagi semua warganya.
Lebih lanjut, ia mendorong perubahan rezim melalui jalur pembangkangan sipil dan penyelenggaraan referendum yang bebas serta terbuka. Tujuannya adalah untuk membentuk pemerintahan baru Iran yang benar-benar mewakili aspirasi rakyatnya.
Selain aktif menulis berbagai artikel, Reza Pahlavi juga telah menerbitkan tiga buku penting yang mendalami kondisi Iran, yaitu Gozashteh va Ayandeh (Kayhan Publishing, 2000); Winds of Change: The Future of Democracy in Iran (Regnery, 2002); serta IRAN: L’Heure du Choix [Iran: The Deciding Hour] (Denoël, 2009).
Presiden AS Donald Trump pada Kamis (8/1) kembali menyinggung Pahlavi, menyebutnya sebagai sosok yang baik dan menyenangkan. Namun, Trump menambahkan bahwa sebagai seorang presiden, kurang tepat baginya untuk bertemu langsung dengan Pahlavi.
Dalam siniar The Hugh Hewitt Show yang dikutip dari Al Jazeera, Trump menjelaskan, “Saya pikir sebaiknya kita membiarkan semua pihak bergerak dan melihat siapa yang akan muncul.” Pernyataan ini menegaskan posisi AS yang memilih untuk mengamati perkembangan dinamika politik Iran tanpa intervensi langsung.