Iran diduga kuat menggunakan sistem pengacak sinyal militer canggih dari Rusia, atau yang dikenal sebagai jammers, untuk secara agresif memutus akses internet Starlink di wilayahnya. Starlink, yang dikenal menyediakan layanan internet gratis di area-area yang terdampak bencana alam atau saat terjadi pemutusan akses oleh pemerintah, kini menjadi target utama dalam upaya sensor digital yang dilakukan di Iran.
Operasi pemblokiran ini berdampak pada puluhan ribu unit Starlink yang beroperasi di negara tersebut. Menurut laporan dari Iran Wire, pada awal implementasi jammers asal Rusia, sekitar 30% lalu lintas uplink dan downlink Starlink mengalami gangguan signifikan. Angka ini kemudian melonjak tajam, mencapai lebih dari 80% hanya dalam hitungan jam, menunjukkan efektivitas sistem tersebut dalam melumpuhkan konektivitas.
Situasi krusial ini dikonfirmasi oleh NetBlocks, sebuah observatorium internet global, yang melaporkan bahwa konektivitas internet di Iran nyaris lumpuh. “Grafik hanya mendatar di sekitar 1% selama lebih dari 60 jam,” demikian NetBlocks mengutip dari Circle.id pada Senin (12/1). Observatorium internet tersebut menggambarkan kondisi di Iran sebagai salah satu pemadaman paling komprehensif yang pernah terjadi dalam sejarah baru-baru ini.
Otoritas digital Iran sendiri mengklaim telah berhasil mengganggu 90% lalu lintas Starlink melalui skema perang elektronik. Amir Rashidi, Direktur Hak dan Keamanan Digital di Miaan Group sekaligus pakar sensor internet Iran, berhasil mendeteksi adanya sinyal tingkat militer yang menargetkan satelit Starlink di tengah meningkatnya demonstrasi di negara tersebut.
Rashidi menyatakan bahwa jenis gangguan yang ditimbulkan oleh peralatan militer seperti pengacak sinyal atau jammers ini belum pernah ia saksikan dalam 20 tahun penelitiannya. Ia menambahkan bahwa Pemerintah Iran kini menggunakan metode yang lebih canggih daripada sekadar pengacauan GPS, mirip dengan taktik yang diterapkan Rusia di Ukraina untuk mengganggu Starlink. Laporan dari Times of Israel juga menyebutkan bahwa Iran berupaya memblokir sinyal GPS, yang sangat vital bagi terminal Starlink untuk dapat terhubung dengan satelit.
Menanggapi gangguan ini, SpaceX telah merilis pembaruan perangkat lunak. Langkah tersebut berhasil mengurangi dampak pemutusan akses di beberapa lokasi, seperti Teheran, dari semula 35% menjadi 10%. Namun, metode pengacauan sinyal Iran, yang kemungkinan besar memanfaatkan sistem Rusia seperti Murmansk-BN atau Krasukha-4, terus beradaptasi dan berevolusi seiring waktu.
Untuk memahami lebih dalam, mari kita telaah teknologi Rusia yang diduga dipakai Iran untuk memblokir Starlink.
Mengutip TechRadar, Iran diperkirakan menggunakan teknologi militer Rusia yang sangat canggih untuk mengacak sinyal, khususnya sistem seperti Murmansk-BN atau Krasukha-4. Kedua sistem ini, menurut Army Recognition, adalah bagian dari sistem peperangan elektronik (EW) buatan Rusia yang dirancang untuk mendeteksi, mengintersep, dan mengganggu sinyal radar serta komunikasi lawan—baik itu radar udara, komunikasi militer, maupun satelit.
Murmansk-BN merupakan sistem peperangan elektronik mobile tingkat strategis yang dipasang pada beberapa kendaraan truk berat. Kemampuannya mencakup deteksi dan jamming komunikasi gelombang pendek yang digunakan oleh radar, kapal perang, pesawat, kapal selam, dan drone pada jarak yang sangat jauh. Jangkauan operasional Murmansk-BN diklaim mencapai ribuan kilometer, dengan beberapa sumber menyebutkan efektivitas hingga sekitar 5.000 kilometer dan potensi mencapai 8.000 kilometer dalam kondisi atmosfer yang mendukung.
Sementara itu, Krasukha-4 adalah jammer peperangan elektronik mobile yang dirancang khusus untuk menonaktifkan radar udara, radar darat, serta radar dan komunikasi satelit dalam radius puluhan hingga ratusan kilometer. Perangkat ini secara spesifik menargetkan sistem peringatan dini di udara seperti radar AWACS, pesawat pengintai, dan radar pesawat tempur lawan. Selain itu, Krasukha-4 juga mampu mengganggu sistem radar pada pesawat, UAV atau drone, dan satelit pengintai orbit rendah (LEO) seperti Starlink.
Perbedaan utama antara keduanya terletak pada fokusnya; Krasukha-4 lebih berorientasi pada penyasaran radar dan sistem elektronik musuh di lingkungan medan perang, misalnya untuk memblokir radar lawan selama operasi militer, sedangkan Murmansk-BN dirancang untuk mengganggu komunikasi dan radar lawan pada skala strategis yang lebih luas.
Simon Migliano, seorang peneliti yang baru saja merampungkan laporan komprehensif mengenai pemblokiran internet di Iran, mengemukakan bahwa langkah Pemerintah Iran saat ini adalah instrumen tumpul yang bertujuan untuk meredam perbedaan pendapat di masyarakat. “Ini menimbulkan kerugian besar bagi Iran, yang secara jelas menunjukkan keputusasaan rezim,” ujar Simon, dikutip dari Forbes pada Rabu (14/1). Pendekatan “tombol pemutus” ini, menurutnya, datang dengan harga yang mengejutkan, menguras US$ 1,56 juta dari ekonomi Iran setiap jam akses internet terputus.