PT Savoria Kreasi Rasa, entitas usaha di bawah naungan Grup Djarum, telah mengumumkan langkah strategis besar setelah merampungkan akuisisi unit bisnis teh SariWangi dari PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR). Kesepakatan akuisisi merek legendaris ini mencapai nilai fantastis Rp 1,5 triliun, menandai babak baru bagi kedua perusahaan di pasar domestik.
Langkah korporasi ini bukan sekadar transaksi biasa, melainkan wujud nyata komitmen jangka panjang Savoria Group dalam memperkuat pondasi industri teh nasional. Akuisisi SariWangi diharapkan dapat mendorong pertumbuhan merek-merek ikonik asli Indonesia, sejalan dengan visi Grup Djarum untuk memperkokoh sektor minuman melalui aset yang telah melekat kuat di hati masyarakat.
CEO Savoria Group, Ihsan Mulia Putri, menegaskan bahwa fokus utama perusahaan saat ini adalah mengembangkan variasi produk SariWangi dan menghadirkan kualitas terbaik yang sesuai dengan harapan konsumen. Lebih dari itu, Ihsan juga berencana membangun kembali interaksi kreatif dengan para pelanggan, memastikan bahwa warisan nilai SariWangi yang kaya akan terus dihormati dan dikembangkan. “Kami akan pastikan SariWangi terus bertumbuh dengan tetap menghormati warisan nilainya yang kaya. SariWangi adalah merek yang telah melekat di hati masyarakat Indonesia,” ujar Ihsan Mulia Putri dalam keterangannya, dikutip Rabu (14/1).
Bagi Grup Djarum, akuisisi SariWangi menjadi tonggak penting dalam ekspansi Savoria Group. Langkah ini secara signifikan memperkuat portofolio bisnis perseroan yang kini membentang luas, mencakup berbagai kategori produk mulai dari kopi, susu, minuman isotonik, permen, hingga pastri. Dalam kurun waktu dua bulan ke depan, seiring dengan rampungnya proses akuisisi, SariWangi akan secara resmi bergabung dan melengkapi jajaran merek-merek utama Savoria Group yang telah dikenal luas, seperti Kopi Tubruk Gadjah, Caffino, MilkLife, HydroPlus, FOX’S Candy, dan 5Days Croissant. Savoria Group melihat peluang pertumbuhan jangka panjang yang kuat pada segmen teh celup, dan menilai SariWangi memiliki posisi strategis untuk terus menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian rumah tangga di Indonesia. Untuk mencapai pertumbuhan ke tahap berikutnya, perusahaan akan mengandalkan strategi pengembangan produk yang agresif, eksplorasi pasar domestik, serta penguatan jaringan distribusi nasional yang luas.
Di sisi lain, Sekretaris Perusahaan Unilever Indonesia, Padwestiana Kristanti, menjelaskan bahwa transaksi tersebut direncanakan rampung pada 2 Maret 2026 mendatang. “Harga yang disepakati adalah sebesar Rp 1,5 triliun di luar pajak yang berlaku,” tulis Padwestiana Kristanti dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (7/1). Penilaian bisnis independen yang dilakukan oleh Kantor Jasa Penilai Publik Suwendho Rinaldy dan Rekan menetapkan nilai pasar SariWangi sebesar Rp 1,48 triliun. Nilai transaksi tersebut setara dengan 45% dari ekuitas perseroan berdasarkan Laporan Keuangan Perseroan per 30 September 2025 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik (KAP).
Unilever Indonesia juga mencatat bahwa total aset bisnis teh bermerek “SariWangi” hanya setara dengan 2,5% dari total aset perusahaan. Kontribusi laba bersih bisnis tersebut tercatat sebesar 3,1% terhadap laba bersih, sementara pendapatan usaha dari bisnis teh SariWangi hanya menyumbang sekitar 2,7% terhadap total pendapatan usaha Unilever Indonesia. Menurut Padwestiana, transaksi ini tidak akan memberikan dampak material yang signifikan terhadap kegiatan operasional, aspek hukum, maupun kelangsungan usaha Perseroan. Penjualan bisnis teh ini justru akan memungkinkan Perseroan untuk merealisasikan nilai investasinya dalam bisnis teh di Indonesia dan mengembalikan nilai tersebut kepada para pemegang sahamnya dalam jangka pendek, seraya “(perusahaan) berfokus pada bisnis inti Perseroan yang tersisa guna meningkatkan nilai bagi para pemegang saham dalam jangka panjang,” ujarnya lagi.
Baca juga:
- Trump Sebut Bakal Kirim Bantuan Setelah 2.403 Demonstran Tewas di Iran
- Astra International (ASII) Setop Buyback Saham Rp 2 Triliun Lebih Awal
- Saham Emiten Tambang Emas ARCI-PSAB-ANTM Melesat, Kerek IHSG ke Level 9.000
Prospek Unilever Usai Lepas Bisnis Teh
Menurut analis CGS International Sekuritas Indonesia, Baruna Arkasatyo, langkah divestasi yang dilakukan UNVR ini kemungkinan besar merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk menyempurnakan portofolio bisnisnya. Apalagi, fokus Unilever Indonesia kini tertuju pada lini-lini yang menawarkan potensi pertumbuhan terbesar dan mampu menciptakan nilai jangka panjang yang berkelanjutan.
Arkasatyo mengamati bahwa divestasi yang dilakukan Unilever sebelumnya, seperti pelepasan bisnis selai Blue Band serta es krim Walls maupun Magnum, dipicu oleh beberapa alasan krusial. Salah satu alasan utama adalah melambatnya pertumbuhan pendapatan di beberapa lini produk tersebut. Pertimbangan lain adalah upaya untuk memaksimalkan imbal hasil bagi pemegang saham dengan merealisasikan investasi lama. Selain itu, alasan ketiga yang tak kalah penting adalah menjalankan mandat yang diberikan oleh induk global, Unilever (ULVR LN). Dari sisi valuasi, Arkasatyo mencatat bahwa SariWangi dijual dengan rasio harga terhadap laba (P/E) sebesar 10,8 kali, yang tergolong lebih rendah dibandingkan valuasi UNVR secara keseluruhan yang diperkirakan sekitar 22 kali untuk tahun 2026. Berdasarkan laporan UNVR ke bursa, bisnis SariWangi memang hanya menyumbang sekitar 2,7% dari total pendapatan dan 3,1% dari laba bersih per September 2025. “Oleh karena itu, kami memangkas perkiraan laba per saham untuk tahun buku 2026–2027 hanya sebesar 2,3–2,4% untuk mencerminkan divestasi SariWangi,” demikian tertulis dalam risetnya, dikutip Selasa (13/1).