
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa percaya diri bahwa kurs rupiah berpotensi menguat dalam waktu dekat. Ia meminta pelaku pasar dan pihak lainnya tidak perlu khawatir.
“Jadi enggak usah panik, rupiah akan segera menguat dalam waktu dua minggu ke depan,” kata Purbaya saat ditemui kawasan Jakarta Selatan, Rabu (14/1).
Pergerakan rupiah terus mendekati Rp 17.000 per dolar AS. Pada perdagangan kemarin (14/1) rupiah ditutup melemah pada level Rp 16.860 per dolar AS atau terdepresiasi hingga 1,04% secara year to date.
Purbaya beralasan, rupiah akan menguat berkat fondasi ekonomi Indonesia yang terus membaik ke depan. Saat ekonomi RI membaik maka akan menarik modal asing masuk ke Indonesia.
Baca juga:
- Mengapa Rupiah Tak Bangkit saat IHSG Tembus 9.000?
- Dolar AS Dekati Rp 17.000, BI Ungkap Penyebabnya dan Strategi Jaga Rupiah
“Mereka akan masuk ke tempat negara yang menjanjikan pertumbuhan lebih tinggi,” ujarnya.
Purbaya memproyeksikan ekonomi RI pada kuartal IV 2025 memang hanya 5,45%. Namun ia yakin pertumbuhan ekonomi pada tahun ini bisa mencapai 6%.
“Kami akan dorong ke arah sana (ekonomi 6%). Enggak usah takut fondasi kita kuat, rupiah akan masuk karena modal asing akan masuk ke sini,” kata Purbaya.
BI Terus Intervensi
Untuk mengatasi pelemahan rupiah ini, Bank Indonesia (BI) memastikan akan terus melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin G. Hutapea mengatakan pihaknya konsisten menjaga stabilitas nilai tukar sehingga dapat menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
Erwin menjelaskan, pergerakan mata uang global pada awal 2026 ini termasuk Indonesia, banyak dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan di pasar keuangan dunia. “Tekanan tersebut bersumber dari eskalasi tensi geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed ke depan, di tengah kebutuhan valuta asing domestik yang meningkat pada awal tahun,” kata Erwin.
Meskipun demikian, Erwin mengatakan pelemahan rupiah tersebut masih sejalan dengan pergerakan nilai tukar regional yang juga terdampak sentimen global. Hal ini antara lain Won Korea yang melemah sebesar 2,46% dan Peso Filipina sebesar 1,04%.
Menurutnya, stabilitas nilai tukar Rupiah tetap terjaga berkat konsistensi kebijakan stabilisasi Bank Indonesia yang terus dilakukan secara berkesinambungan melalui intervensi NDF di pasar off shore di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika. Selain itu juga intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot, DNDF, dan pembelian SBN di pasar sekunder.