Respons rencana Trump caplok Greenland, Eropa siap boikot Piala Dunia 2026?

Sentimen negatif terhadap rencana Presiden Donald Trump untuk mengakuisisi Greenland kini merambah dunia sepak bola. Para petinggi sepak bola di Eropa telah menggelar diskusi serius mengenai respons yang tepat dari olahraga ini terhadap kebijakan kontroversial Trump.

Advertisements

Pembahasan ini muncul saat para petinggi asosiasi sepak bola Eropa berkumpul di Budapest, Hungaria, pada Senin (19/1) dalam rangka merayakan ulang tahun ke-125 federasi sepak bola Hungaria. Agenda ini juga bertepatan dengan desakan kuat untuk memboikot gelaran Piala Dunia yang akan diselenggarakan di Amerika Serikat, seandainya situasi Greenland—wilayah milik Denmark—semakin memanas.

Dikutip dari The Guardian, implikasi dari langkah agresif Trump untuk mencaplok Greenland menjadi salah satu topik utama yang diangkat dalam pertemuan tersebut. Mereka mulai menjajaki kemungkinan respons kolektif dari negara-negara Eropa jika Trump terus memperkeruh keadaan.

Beberapa tokoh senior yang hadir meyakini bahwa potensi agresi militer oleh Amerika Serikat akan menjadi pemicu bagi Induk Organisasi Sepak Bola Eropa (UEFA) untuk melancarkan boikot sebagai bentuk protes keras terhadap pemerintahan AS.

Advertisements

Hingga saat ini, otoritas sepak bola Eropa belum mengeluarkan tanggapan resmi secara publik terkait situasi Denmark dan Greenland. Namun, bukan tidak mungkin reaksi akan semakin memanas dan berdampak signifikan, mengingat Amerika Serikat akan menjadi tuan rumah Piala Dunia pada Juni hingga Juli 2026.

Seruan boikot Piala Dunia telah menggema di Eropa dalam beberapa hari terakhir. Politikus Jerman, Jurgen Hardt, secara terbuka menyatakan bahwa penolakan untuk hadir di AS bisa menjadi pilihan terakhir. Senada dengan itu, lebih dari 90 ribu masyarakat Belanda telah menandatangani petisi yang menyerukan boikot Piala Dunia.

Mayoritas federasi sepak bola kemungkinan besar akan mengambil sikap yang selaras dengan kebijakan resmi pemerintah mereka terhadap isu Greenland. Kendati demikian, sejumlah sumber mengindikasikan bahwa ada pertimbangan untuk mengadopsi pendekatan yang lebih proaktif.

Diskusi terkait isu ini diprediksi akan terus berlanjut mengingat situasi yang berkembang dengan sangat cepat. Komite eksekutif UEFA dijadwalkan akan bertemu secara resmi di Brussels pada 11 Februari mendatang, sehari sebelum kongres tahunan badan pengatur sepak bola tersebut diselenggarakan.

Tekanan untuk FIFA

Situasi pelik ini berpotensi besar menimbulkan tekanan serius bagi Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA). Jika boikot benar-benar terjadi, Presiden FIFA, Gianni Infantino, diprediksi akan menghadapi krisis terbesar sepanjang sejarah organisasi tersebut.

“Akan sangat mengejutkan jika para pemimpin Eropa tidak serius membahas boikot sebagai sebuah opsi yang realistis,” tegas Nick McGeehan, seorang advokat pekerja olahraga sekaligus pendiri lembaga swadaya masyarakat FairSquare, seperti dikutip dari Independent.

Infantino sendiri memiliki rekam jejak sering menghadiri acara bersama Trump. Ia bahkan pernah menganugerahkan penghargaan perdamaian kepada Trump saat acara pengundian grup Piala Dunia 2026 di Washington DC pada Desember 2025.

“Kami ingin melihat persatuan, kami ingin melihat masa depan. Inilah yang ingin kami lihat dari seorang pemimpin, dan Anda benar-benar layak mendapatkan Penghargaan Perdamaian FIFA yang pertama,” kata Infantino kepada Trump kala itu.

Kabarnya, beberapa kalangan internal FIFA merasa malu atas pemberian penghargaan Gianni Infantino kepada Trump pada bulan Desember. Meski demikian, FIFA secara resmi menanggapi polemik tersebut dengan menyatakan bahwa mereka tetap mendukung keputusan penghargaan tersebut.

Advertisements