Saham bank jumbo BBCA, BBRI hingga BMRI melawan IHSG saat kursi bos BEI kosong

Pada perdagangan saham Senin (2/2), saham-saham perbankan raksasa di Indonesia menunjukkan daya tahan luar biasa, berjuang keras melawan derasnya arus zona merah yang menyelimuti Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). IHSG sendiri, pada penutupan sesi pertama hari itu, terpantau anjlok signifikan sebesar 5,31% ke level 7.887, dengan kapitalisasi pasar keseluruhan yang turut terkoreksi menjadi Rp 14.205 triliun.

Advertisements

Di tengah tekanan pasar yang begitu kuat, empat pilar perbankan jumbo di Indonesia, yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), berupaya keras mempertahankan posisinya. Pergerakan saham bank-bank besar ini menjadi sorotan karena cukup kontras dengan mayoritas saham milik konglomerat lainnya yang justru melorot tajam, bahkan banyak yang menyentuh batas auto rejection bawah (ARB).

Meski menghadapi gejolak, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) berhasil ditutup menguat 0,68% pada sesi I, mencapai harga Rp 7.450 per lembar saham. Pencapaian ini patut diapresiasi mengingat pada pukul 09:17 WIB, saham BBCA sempat tergelincir 1% ke level Rp 7.325. Data orderbook menunjukkan optimisme investor dengan antrean beli sebanyak 346,17 ribu lot, meskipun antrean jual tercatat sedikit lebih tinggi, yakni 384,89 ribu lot.

Lain halnya dengan saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang menunjukkan volatilitas sebelum akhirnya stagnan di harga Rp 3.810. Saham BBRI sempat menguat ke Rp 3.880 namun kemudian anjlok 1,31% hingga menyentuh Rp 3.750 pada pukul 09:16 WIB. Struktur orderbook-nya mencatat antrean beli sejumlah 239,55 ribu lot, yang jauh lebih rendah dibandingkan antrean jual sebanyak 659,7 ribu lot.

Advertisements

Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mengalami koreksi tipis sebesar 0,45% pada sesi pertama, ditutup di level Rp 4.470. Saham BBNI sempat menyentuh angka Rp 4.560 sebelum kemudian anjlok 1,56% ke Rp 4.420 pada pukul 09:17 WIB. Antrean beli pada orderbook BBNI tercatat 37,61 ribu lot, sedangkan antrean jual mencapai 78,94 ribu lot.

Tak ketinggalan, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga tak luput dari tekanan, tergelincir 0,83% ke Rp 4.780. Meskipun sempat mencapai puncak intraday di Rp 4.900, saham BMRI kemudian merosot hingga Rp 4.730 atau terkoreksi 1,87% pada pukul 09:17 WIB. Data orderbook menunjukkan antrean beli sebanyak 187,59 ribu lot, sementara antrean jual berada di angka 134,10 ribu lot.

Kursi Pucuk Pimpinan BEI Masih Kosong

Pergerakan berat IHSG yang melemah pada sesi pertama perdagangan hari ini diduga kuat berkaitan dengan masih kosongnya posisi Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI). Hingga penutupan perdagangan siang, BEI belum juga mengumumkan Penjabat Sementara (Pjs) Direktur Utama yang akan menggantikan Iman Rachman, setelah yang bersangkutan mengundurkan diri pada Jumat (30/1) lalu.

Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Kautsar, dalam keterangannya yang dikutip pada Senin (2/2), menjelaskan bahwa pihak bursa belum dapat mengeluarkan pernyataan resmi terkait posisi tersebut karena adanya proses internal yang masih perlu dijalankan. Pernyataan ini muncul setelah sebelumnya BEI berjanji akan mengumumkan nama Direktur Utama baru sebelum perdagangan hari ini dibuka, sebuah janji yang belum terpenuhi.

Meski demikian, Kautsar menegaskan bahwa “Kami memastikan proses pengambilan keputusan dan operasional masih berjalan dengan normal dan tidak terganggu terkait hal ini.” Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sempat menyebut nama Direktur BEI Jeffrey Hendrik sebagai kandidat kuat pengisi kursi Iman, namun hingga kini belum ada pengumuman resmi dari pihak bursa.

Merujuk pada data perdagangan Bursa Efek Indonesia, aktivitas pasar sepanjang sesi pertama mencatat volume transaksi mencapai 35,35 miliar saham dengan frekuensi perdagangan sebanyak 2,08 juta kali. Total kapitalisasi pasar tercatat stabil di angka Rp 14.205 triliun, sementara nilai transaksi siang ini mencapai Rp 18,94 triliun.

Secara keseluruhan, kondisi pasar menunjukkan dominasi sentimen negatif, di mana sebanyak 715 saham ditutup anjlok, hanya 65 saham yang berhasil menguat, dan 33 saham lainnya terpantau tidak bergerak atau stagnan.

Advertisements