Prabowo sebut banyak kepala negara khawatirkan Perang Dunia Ke-3 di WEF

Presiden Prabowo Subianto menyoroti kekhawatiran global terhadap potensi pecahnya perang dunia ketiga, sebuah sentimen yang ia tangkap kuat dalam kunjungannya ke World Economy Forum di Davos, Swiss. Di hadapan para pemimpin dunia, Prabowo mengungkapkan bagaimana isu penggunaan nuklir menjadi momok utama, membayangi diskusi antar kepala negara.

Advertisements

Kekhawatiran tersebut tidak berlebihan, mengingat potensi mengerikan dari perang nuklir yang dapat memicu musim dingin nuklir (nuclear winter) dan kontaminasi radiasi berskala masif dari partikel-partikel radioaktif pasca-ledakan bom atom. “Bahkan Indonesia yang tidak terlibat langsung pun,” terang Prabowo melalui saluran resmi Sekretariat Presiden pada Senin (2/2), “pasti akan merasakan dampak parah dari partikel-partikel radioaktif. Sumber daya laut kita, seperti ikan-ikan, sangat mungkin terkontaminasi secara menyeluruh.”

Konteks kekhawatiran ini semakin mendalam mengingat forum bergengsi WEF 2026 tersebut menjadi ajang pertemuan bagi 65 kepala negara, 400 pimpinan politik, serta 850 pimpinan perusahaan multinasional terkemuka. Secara keseluruhan, hampir 3.000 peserta dari lebih dari 130 negara berkumpul untuk membahas berbagai isu krusial global.

Baca juga:

  • Prabowo Tegaskan Kelapa Sawit sebagai “Miracle Crop” yang Diinginkan Banyak Negara
  • Prabowo Beri Peringatan Keras kepada Mantan Pemimpin BUMN: Siap-siap Hadapi Panggilan Kejaksaan
  • Evaluasi Program Satu Tahun Pemerintahan Prabowo akan Dilakukan dalam Rakornas Sentul
Advertisements

Dampak destruktif dari perang nuklir, khususnya fenomena nuclear winter yang diperkirakan bisa berlangsung puluhan tahun, memang menjadi salah satu sumber kegelisahan utama. Prabowo menambahkan, kondisi global yang tidak stabil ini akan semakin memperumit posisi Indonesia, terutama dengan ideologi politik luar negeri non-blok yang kita anut.

Sebagai mantan Anggota TNI, Prabowo memaparkan bahwa gerakan non-blok mendorong Indonesia untuk menerapkan politik luar negeri bebas-aktif. Prinsip ini menegaskan komitmen Indonesia untuk tidak memihak blok kekuatan manapun, semata-mata demi menjaga stabilitas dan menghindari terlibat dalam konflik internasional.

Namun, di balik prinsip netralitas tersebut, tersimpan sebuah dilema. “Apabila kita diancam atau diserang, kita tidak bisa berharap ada pihak yang akan datang membantu,” ucapnya, menggemakan kembali adagium Presiden Soekarno yang menekankan pentingnya untuk “berdiri di atas kaki kita sendiri.”

Menyimak dinamika global, Prabowo mensinyalir adanya upaya dari negara asing yang kerap mengganggu kepentingan Indonesia di kancah global. Meski demikian, ia menegaskan pentingnya menanggapi situasi ini dengan sikap yang pragmatis, jauh dari emosional atau idealisme berlebihan, demi mengamankan kepentingan nasional yang fundamental.

Kebijakan yang realistis dan tidak terjebak idealisme, menurut Prabowo, krusial agar setiap langkah pemerintah selaras dengan kondisi nyata di lapangan. “Saya senantiasa mengingatkan, hukum rimba masih berlaku di dunia saat ini: yang kuat akan bertindak sesuai kehendak mereka, sementara yang lemah akan menanggung derita. Fenomena ini kita saksikan di mana-mana,” tegasnya.

Sebagai Ketua Partai Gerindra, Prabowo menganalisis bahwa intervensi dan gangguan di kancah global terhadap Indonesia seringkali berakar pada kekayaan sumber daya alam yang melimpah di tanah air. Oleh karena itu, ia menekankan bahwa pemerintah harus senantiasa siap dan waspada dalam menghadapi segala kemungkinan, termasuk kesiapan untuk berperang demi mempertahankan kedaulatan.

Sejarah mencatat, “negara-negara di Eropa dan belahan utara dunia telah mengeksploitasi sumber daya alam kita selama ratusan tahun,” paparnya, merujuk pada kekuatan kolonial seperti Belanda, Portugis, Spanyol, Perancis, Inggris, hingga Jepang dan Mongolia yang pernah mengambil keuntungan dari kekayaan bumi pertiwi.

Advertisements