Masuknya Danantara bisa membuka babak baru pengembangan panas bumi


Pengembangan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) di Indonesia bersiap memasuki babak baru yang krusial dengan kehadiran Danantara. Keikutsertaan entitas ini diharapkan mampu membuka jalan bagi potensi energi panas bumi yang selama ini terkendala.

Advertisements

Makky Jaya, Principal Geophysicist Petronas, menjelaskan bahwa tantangan utama dalam mengembangkan energi panas bumi terletak pada kebutuhan belanja modal (capital expenditure/capex) yang sangat besar di fase awal. Tingginya risiko kegagalan eksplorasi dan pengeboran secara signifikan meningkatkan biaya investasi awal, menjadikannya lebih tinggi dibandingkan investasi pada pembangkit listrik tenaga batu bara atau surya. Ini sering kali menjadi hambatan utama bagi investor.

Namun, Makky Jaya menegaskan dalam diskusi yang diselenggarakan Center for Strategic Development Studies (CSDS) MITI, bahwa jika dilihat dari perspektif jangka panjang, biaya operasional panas bumi justru paling stabil dan kompetitif. Keunggulan ini karena energi panas bumi tidak terpengaruh oleh fluktuasi harga komoditas global seperti energi fosil, menawarkan prediktabilitas dan ketahanan ekonomi.

Dalam konteks ini, peran Danantara menjadi sangat vital untuk menarik investor dan lembaga keuangan agar berani berinvestasi di sektor ini. “Hambatan utama investasi energi terbarukan selama ini adalah profil risiko yang seringkali tidak sejalan dengan skema perbankan konvensional,” jelasnya. Di sinilah Danantara hadir sebagai instrumen ‘penjamin risiko’ yang dapat menumbuhkan kepercayaan diri bagi investor global, menjembatani kesenjangan antara risiko dan skema pendanaan tradisional.

Advertisements

Saat ini, komitmen Danantara terlihat nyata dalam proyek peningkatan kapasitas PLTP di Ulubelu, Lampung, dan Lahendong, Sulawesi Utara. Proyek-proyek ini akan menggunakan teknologi cogeneration inovatif dan disebut-sebut akan menjadi proyek percontohan yang melibatkan Danantara dalam urusan pendanaannya, menandai langkah konkret menuju pemanfaatan optimal.

Guru Besar Geothermal Universitas Indonesia, Yunus Daud, menekankan bahwa Indonesia harus serius mengembangkan PLTP jika ingin mencapai swasembada energi. Ia menyebut “Potensi 24 gigawatt yang kita miliki adalah harta karun yang terkubur,” sebuah aset raksasa yang menunggu untuk dimanfaatkan demi kemandirian energi nasional.

Yunus menjelaskan lebih lanjut, tenaga panas bumi memiliki keunggulan signifikan dibandingkan sumber energi terbarukan lainnya. Kapasitas atau capacity factor-nya mencapai 80-90 persen, jauh melampaui energi surya atau angin yang bersifat intermiten dan bergantung pada kondisi cuaca. Ini menjadikannya sumber energi yang sangat andal dan stabil.

Selain keandalannya, energi panas bumi juga menghasilkan emisi karbon yang sangat rendah, berkisar antara 34-330 gram CO2 per kilowatt-jam. “Menjadikannya solusi paling bersih dan stabil untuk dekarbonisasi industri,” ujarnya. Keunggulan lainnya adalah masa operasional fasilitas panas bumi yang sangat panjang, bahkan bisa bertahan hingga lebih dari 40 tahun dengan pemeliharaan yang tepat, menjadikannya investasi jangka panjang yang berkelanjutan.

Namun, tantangannya adalah bagaimana Indonesia berani melakukan terobosan teknologi, seperti penerapan cogeneration, untuk mengekstraksi energi dari aset yang sudah ada tanpa harus selalu memulai dari nol. Inovasi semacam ini akan menjadi kunci untuk mengoptimalkan potensi energi panas bumi Indonesia secara lebih efisien dan berkelanjutan.

Advertisements