Modal asing keluar, defisit neraca pembayaran RI tahun lalu terburuk sejak 2010

Bank Indonesia (BI) mengumumkan bahwa Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada tahun 2025 membukukan defisit sebesar US$ 7,84 miliar. Angka ini menandai kinerja terburuk sejak 2010, sekaligus menjadi pembalikan drastis dibandingkan surplus US$ 7,2 miliar yang dicapai pada tahun sebelumnya, 2024.

Advertisements

Defisit NPI yang terjadi pada tahun lalu, menurut laporan BI, utamanya dipicu oleh neraca transaksi modal dan finansial yang mengalami defisit mencapai US$ 4,2 miliar. Kondisi ini sangat kontras dengan surplus signifikan sebesar US$ 16,4 miliar yang tercatat pada tahun 2024.

Meski demikian, terdapat kabar baik dari neraca transaksi berjalan atau current account Indonesia. Neraca ini menunjukkan perbaikan signifikan dengan mencatat defisit yang lebih rendah, yakni sebesar US$ 1,5 miliar atau setara 0,1% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Capaian ini jauh membaik dibandingkan defisit pada tahun sebelumnya yang mencapai US$ 8,6 miliar atau 0,6% dari PDB.

Baca juga:

  • Larangan Ekspor Timah Menguat, TINS Ungkap Potensi Risiko dan Dampak ke Bisnis
  • IHSG Sesi I Parkir di Zona Merah, Saham Prajogo CUAN, PTRO hingga CDIA Longsor
Advertisements

Perbaikan defisit transaksi berjalan tersebut didorong oleh peningkatan surplus neraca perdagangan barang, seiring dengan kinerja ekspor yang semakin menguat, terutama pada ekspor produk manufaktur. Selain itu, surplus neraca pendapatan sekunder juga turut meningkat berkat lonjakan remitansi dari Pekerja Migran Indonesia (PMI). Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, dalam pernyataan resminya pada Jumat (20/2), mengonfirmasi, “Perbaikan defisit transaksi berjalan didorong peningkatan surplus neraca perdagangan barang seiring kinerja ekspor yang meningkat, terutama ekspor produk manufaktur. Surplus neraca pendapatan sekunder juga naik berkat meningkatnya remitansi dari Pekerja Migran Indonesia (PMI).”

Namun, di tengah lonjakan surplus perdagangan, neraca jasa justru mengalami peningkatan defisit pada tahun lalu. Hal ini disebabkan oleh kenaikan defisit jasa telekomunikasi, sejalan dengan ekspansi pesat sektor informasi dan komunikasi. Begitu pula, defisit neraca pendapatan primer melebar, terutama akibat kenaikan pembayaran dividen.

Adapun defisit pada transaksi modal dan finansial, yang menjadi pendorong utama keseluruhan defisit NPI, sebagian besar dipicu oleh keluarnya aliran modal asing. Kondisi ini terlihat pada investasi portofolio dan investasi lainnya, yang terjadi di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan global sepanjang tahun 2025.

Kendati demikian, di tengah tantangan tersebut, posisi cadangan devisa Indonesia justru menunjukkan peningkatan. Dari US$ 155,7 miliar pada akhir Desember 2024, cadangan devisa naik menjadi US$ 156,5 miliar pada akhir Desember 2025. Jumlah ini sangat memadai, setara dengan pembiayaan 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta jauh melampaui standar kecukupan internasional yang umumnya sekitar tiga bulan impor.

Melihat ke depan, BI memperkirakan kinerja NPI akan tetap baik pada tahun mendatang. Defisit transaksi berjalan diproyeksikan tetap rendah, berada dalam kisaran 0,9% hingga 0,1% dari PDB,” tutup pernyataan tersebut.

Advertisements