Mengawali babak baru yang menjanjikan, kinerja PT Amman Mineral Tbk (AMMN) diproyeksikan akan pulih secara signifikan mulai tahun 2026. Pemulihan ini didorong oleh normalisasi operasi penambangan emas dan tembaga di Tambang Batu Hijau pasca-transisi ke Phase 8. Dengan volume penjualan tembaga dan emas yang meningkat, diharapkan terjadi efisiensi penyerapan biaya tetap, penurunan biaya per unit, serta perbaikan substansial pada margin dan profitabilitas perseroan.
Emiten yang berada di bawah kendali Bapak Agoes Projosasmito ini diperkirakan akan menunjukkan perbaikan fundamental yang solid, berpotensi kuat mendorong kenaikan harga saham AMMN di pasar. Phintraco Sekuritas, melalui risetnya, merekomendasikan buy untuk saham AMMN dengan target harga mencapai Rp 8.700 per saham. Angka ini mencerminkan potensi kenaikan 11,53% dari posisi penutupan terakhir di Rp 7.800 pada Senin (23/2).
Saat ini, kapitalisasi pasar AMMN tercatat sebesar Rp 551,13 triliun. Rekomendasi beli dari Phintraco Sekuritas didasarkan pada kombinasi metode discounted cash flow (DCF) dan perbandingan relatif. Rasio Price to Book Value (P/BV) AMMN saat ini masih berada di bawah rata-rata lima tahun yang sebesar 6,97 kali. Secara valuasi, estimasi ini mencerminkan 9,39 kali Price to Earnings Ratio (P/E) dan 5,12 kali P/BV, mengindikasikan peluang investasi yang menarik bagi investor.
Meskipun AMMN belum merilis laporan keuangan tahun 2025 secara penuh, Phintraco Sekuritas memproyeksikan kinerja AMMN di tahun tersebut masih akan menghadapi tekanan. Pendapatan di 2025 diperkirakan mencapai US$ 1,14 miliar, menurun 57% secara tahunan dibandingkan US$ 2,66 miliar pada tahun sebelumnya. Penurunan ini diakibatkan oleh rendahnya output pada fase awal Phase 8, di mana kegiatan penambangan masih didominasi di area permukaan dengan kadar bijih yang belum optimal.
Namun, Phintraco optimis bahwa tahun kuda api ini akan menjadi titik balik krusial bagi kinerja AMMN. Normalisasi produksi di Tambang Batu Hijau untuk tembaga dan emas diperkirakan akan memulihkan volume penjualan dan secara signifikan menekan biaya per unit. “Dengan cadangan Phase 8 yang masih besar dan pipeline Proyek Elang, kami menilai AMMN memiliki visibilitas pertumbuhan tembaga emas jangka panjang sekaligus umur tambang yang lebih panjang,” demikian disampaikan Phintraco Sekuritas dalam risetnya yang dikutip pada Selasa (24/2).
Prospek perbaikan ini semakin diperkuat oleh strategi hilirisasi melalui fasilitas smelter Precious Metal Refinery (PMR) yang mulai berkontribusi pada produksi bernilai tambah. Selain itu, ekspansi konsentrator yang ditargetkan mulai beroperasi (commissioning) pada awal tahun 2026 turut menopang penguatan rantai nilai AMMN.
Meskipun proyeksi AMMN terlihat cerah, Phintraco Sekuritas juga mengingatkan beberapa risiko yang patut dicermati. Risiko-risiko tersebut mencakup potensi keterlambatan dalam peningkatan produksi Phase 8, volatilitas harga tembaga dan emas di pasar global, serta risiko eksekusi proyek hilirisasi dan ekspansi yang bisa berdampak pada margin keuntungan dan arus kas perseroan.
Operasi Batu Hijau dan Proyek Elang AMMN Dorong Pemulihan
PT Amman Mineral Tbk (AMMN) saat ini menjalankan kegiatan operasionalnya melalui entitas anak, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT). AMNT merupakan operator utama Tambang Batu Hijau yang berlokasi di Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Tambang terbuka ini, yang telah berproduksi sejak tahun 2000, menghasilkan konsentrat tembaga dengan kandungan emas dan perak.
Hingga 31 Desember 2024, Tambang Batu Hijau telah mencatat produksi kumulatif sekitar 10.065 juta pon tembaga dan 10,8 juta ons emas. Pada tahun 2024 saja, total material yang ditambang mencapai 322 juta ton, menunjukkan peningkatan 2% dibandingkan tahun sebelumnya, sekaligus menjadi volume tertinggi sejak awal operasi. Seiring dengan itu, total tonase material yang diproses juga naik 6% menjadi 39 juta ton, menandakan peningkatan efisiensi operasional.
Saat ini, Tambang Batu Hijau sedang berada di fase akhir Phase 7 dan siap memasuki transisi menuju Phase 8. Produksi bijih dari Phase 8 diperkirakan akan dimulai pada tahun 2025, menyusul aktivitas pengupasan batuan penutup yang telah berlangsung sejak 2021. Dengan beroperasinya Fase 8, Batu Hijau diproyeksikan akan terus menjadi pilar utama penopang produksi AMMN dalam jangka menengah.
Di samping Tambang Batu Hijau, AMMN juga memiliki aset strategis lainnya berupa proyek eksplorasi ambisius yang dikenal sebagai Proyek Elang. Berlokasi sekitar 60 kilometer di timur Batu Hijau, studi kelayakan proyek ini telah berhasil diselesaikan pada tahun 2025. Rencananya, Proyek Elang akan memanfaatkan infrastruktur yang sudah ada di Batu Hijau, termasuk fasilitas pengolahan, utilitas energi, Pelabuhan Benete, dan akses jalan, sehingga menjanjikan sinergi operasional yang optimal.
Berdasarkan pembaruan standar JORC 2024, Proyek Elang memiliki sumber daya mineral yang sangat besar, sekitar 3,8 miliar ton, dengan cadangan bijih mencapai 2,5 miliar ton. Proyeksi jadwalnya, tahap pengupasan batuan penutup akan berlangsung antara tahun 2026 hingga 2031, diikuti fase produksi pada tahun 2031 hingga 2050. Ini menjadikan Proyek Elang sebagai jaminan keberlanjutan produksi AMMN pasca-Phase 8, memperpanjang umur tambang perusahaan secara signifikan.
Dari sudut pandang yang berbeda, Mirae Asset Sekuritas juga menunjukkan optimisme terhadap AMMN, memberikan target harga saham AMMN di kisaran Rp 8.000 hingga Rp 8.575. Broker ini berpandangan bahwa prospek kinerja perseroan akan ditopang kuat oleh transformasi model bisnis dan momentum positif di sektor komoditas.
Nafan Aji Gusta Utama, Senior Market Analyst dari Mirae Asset Sekuritas, menyoroti bahwa beroperasinya smelter tembaga AMMN di Sumbawa dengan kapasitas penuh telah mengubah secara fundamental model bisnis perseroan. AMMN kini tidak lagi hanya menjadi produsen konsentrat, melainkan telah beralih menjadi produsen katoda tembaga dengan nilai tambah yang jauh lebih tinggi melalui proses hilirisasi yang komprehensif.
Menurut Nafan, kegiatan penambangan di Batu Hijau pada Phase 7 saat ini menghasilkan bijih tembaga dan emas dengan kadar yang melebihi rata-rata historis. Lebih lanjut, pengembangan Phase 8 dinilai sangat krusial untuk menjaga kesinambungan produksi hingga beberapa dekade ke depan, memberikan kepastian investasi jangka panjang, terutama bagi investor institusi.
Prospek kinerja AMMN juga semakin cerah berkat tren defisit permintaan tembaga global yang diproyeksikan berlanjut hingga tahun 2026. Kondisi ini tak lepas dari ekspansi masif infrastruktur kendaraan listrik (EV) dan pembangunan pusat data yang mendukung perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI). Selain itu, emas sebagai produk sampingan turut memberikan kontribusi signifikan dalam memperkuat arus kas perseroan. “Dengan harga emas global yang bertahan di atas US$ 5000 per ons, emas menjadi mesin kas tambahan yang sangat kuat bagi AMMN,” pungkas Nafan dalam risetnya, menegaskan posisi strategis emas bagi keuangan perusahaan.