
Indonesia dan Amerika Serikat (AS) telah mencapai tonggak penting dalam hubungan ekonomi bilateral dengan resmi menandatangani The Agreement on Reciprocal Trade (ART) atau kesepakatan tarif resiprokal pada 19 Februari 2026. Perjanjian dagang strategis ini menggarisbawahi komitmen kedua negara untuk memperkuat kemitraan ekonomi, salah satunya melalui klausul penting yang menetapkan pembelian 50 unit pesawat produksi perusahaan AS, Boeing, oleh Indonesia.
Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, memastikan bahwa seluruh rencana importasi 50 unit pesawat Boeing ini akan diemban oleh maskapai nasional, Garuda Indonesia. Kendati demikian, Dudy belum memerinci secara pasti kapan proses impor armada baru tersebut akan direalisasikan. “Saya tidak beli pesawatnya, harus tanya ke Garuda Indonesia (mereka beli semuanya),” ujar Dudy saat ditemui di Stasiun Gambir pada Selasa (24/2), menegaskan peran sentral Garuda Indonesia dalam inisiatif ini.
Upaya untuk mewujudkan pembelian pesawat Boeing ini telah dimulai sejak September 2025, ketika perwakilan Garuda Indonesia, maskapai berstatus Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut, bertolak ke Amerika Serikat untuk membicarakan detail rencana akuisisi. Namun, hingga kini, publik masih menanti kelanjutan informasi terkait progres diskusi penting tersebut, mengingat signifikansi penambahan armada bagi Garuda Indonesia.
Bagian dari Restrukturisasi
Pembelian pesawat Boeing ini bukan sekadar penambahan armada biasa, melainkan merupakan komponen krusial dari program restrukturisasi Garuda Indonesia yang lebih luas. Hal ini ditegaskan oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia. “Restrukturisasi Garuda Indonesia sudah menjadi prioritas utama kami,” ungkap Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, saat berdiskusi di Kompleks Parlemen Senayan pada Rabu (23/7/25).
Dony Oskaria lebih lanjut menjelaskan bahwa serangkaian aksi korporasi, baik yang bersifat tunai maupun non-tunai, akan dilakukan untuk memperkuat fundamental maskapai penerbangan kebanggaan Indonesia ini. “Ini termasuk ekspansi dan penambahan jumlah pesawat kami,” katanya, menyoroti pentingnya modernisasi dan peningkatan kapasitas armada. Penambahan pesawat ini diharapkan mampu mengatasi keterbatasan jumlah armada saat ini yang seringkali berdampak pada penurunan kualitas layanan yang dirasakan oleh penumpang. “Kami berharap penambahan pesawat mampu mendongkrak standar layanan sekaligus memperkuat posisi Garuda Indonesia menjadi perusahaan yang sehat dan berdaya saing,” tambah Dony, mengukuhkan visi jangka panjang Garuda Indonesia.
Diskon Tiket Pesawat
Selain pembahasan mengenai impor pesawat Boeing, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi juga menyoroti kebijakan pemerintah terkait diskon tiket pesawat yang akan diberlakukan menjelang momentum Idulfitri 2026. Dudy mengumumkan bahwa pemerintah telah menetapkan persentase diskon yang lebih menarik tahun ini, mencapai 18% dari harga tiket normal, melampaui diskon 14% yang diterapkan pada tahun sebelumnya.
Meski terdapat peningkatan persentase diskon, Dudy memastikan bahwa kebijakan ini tidak akan membebani keuangan maskapai penerbangan nasional. “Pemerintah sudah memberikan keringanan pajak, biaya penanganan di bandara, sampai diskon avtur. Jadi itu semua stimulus pemerintah, bukan beban maskapai,” jelasnya. Ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk mendukung sektor penerbangan, menjaga stabilitas finansial maskapai, sekaligus memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk melakukan perjalanan selama periode Idulfitri 2026.