
Harga minyak acuan global mencatat penurunan pada Senin (16/3), sebuah respons langsung setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyerukan bantuan internasional untuk mengamankan Selat Hormuz. Jalur maritim strategis ini, yang krusial bagi kelancaran pengiriman minyak dan gas dunia, kini menjadi sorotan utama di tengah ketegangan geopolitik.
Penurunan tersebut tercermin pada minyak mentah Brent, yang melemah 24 sen atau 0,23% menjadi US$ 102,90 per barel, setelah sebelumnya sempat melonjak US$ 2,68 pada Jumat. Senada, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga bergerak turun menjadi US$ 97,64 per barel, menyusul kenaikan hampir US$ 3 di sesi sebelumnya. Fluktuasi ini menandakan sensitivitas pasar terhadap perkembangan di kawasan Timur Tengah.
Sebelumnya, kedua kontrak minyak mentah tersebut telah mengalami lonjakan signifikan, lebih dari 40% sepanjang bulan ini, mencapai level tertinggi sejak tahun 2022. Kenaikan drastis ini dipicu oleh eskalasi konflik pasca-serangan AS-Israel terhadap Iran, yang berujung pada penghentian pengiriman minyak oleh pemerintah Iran melalui Selat Hormuz. Kondisi ini secara mengejutkan mengganggu seperlima dari total pasokan minyak global, menjadikannya salah satu disrupsi terbesar dalam sejarah.
Di tengah situasi genting ini, Presiden Trump aktif menjalin komunikasi dengan berbagai negara untuk mencari solusi pengamanan jalur Selat Hormuz. Ironisnya, di saat bersamaan, Amerika Serikat juga berupaya berkomunikasi dengan Iran, meskipun ada keraguan besar dari pihak AS mengenai kesediaan Teheran untuk serius bernegosiasi demi mengakhiri konflik yang sedang berlangsung.
Serangan di Pulau Kharg dan Fujairah: Titik Panas Baru Konflik Minyak
Ketegangan semakin memuncak setelah Presiden Trump pada akhir pekan melontarkan ancaman serangan lanjutan terhadap Pulau Kharg, pusat ekspor minyak Iran yang sangat vital. Ancaman ini sontak memicu reaksi keras dari pemerintah Iran, mengingat Pulau Kharg merupakan tulang punggung yang bertanggung jawab atas 90% dari total ekspor minyak negara tersebut.
Menyusul serangan awal di Pulau Kharg, Iran kemudian melancarkan serangan balasan ke terminal minyak utama di Fujairah, Uni Emirat Arab (UEA). Kabar terbaru dari empat sumber yang dikutip Reuters pada Senin (16/3) menyebutkan bahwa “operasi pemuatan minyak di Fujairah telah dilanjutkan kembali,” memberikan sedikit kelegaan di tengah kekhawatiran pasar.
Meskipun demikian, rincian mengenai apakah operasional telah sepenuhnya kembali normal masih belum jelas. Fujairah, yang secara geografis berada di luar Selat Hormuz, memiliki peran strategis sebagai gerbang utama bagi produksi 1 juta barel minyak mentah Murban, komoditas unggulan UEA. Volume produksi dari terminal ini setara dengan sekitar 1% dari total permintaan minyak global, menegaskan pentingnya stabilitas di kawasan tersebut bagi pasokan energi dunia.
Analis SEB, Erik Meyersson, mengungkapkan bahwa Amerika Serikat tengah mempertimbangkan berbagai “opsi darat berisiko tinggi.” Ini termasuk kemungkinan serangan terhadap fasilitas nuklir uranium Iran, perebutan pusat minyak di Pulau Kharg, bahkan pendudukan wilayah selatan Iran untuk mengamankan Selat Hormuz. Meyersson memperingatkan bahwa langkah-langkah ekstrem ini akan menandakan eskalasi konflik yang sangat signifikan, menuntut tingkat toleransi risiko yang jauh lebih tinggi dari semua pihak.
Cadangan Minyak Global: Solusi Darurat di Tengah Lonjakan Harga
Menanggapi lonjakan harga minyak yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah, Badan Energi Internasional (IEA) mengumumkan rencana pelepasan 400 juta barel cadangan minyak mentah strategis ke pasar. Ini merupakan salah satu pelepasan cadangan terbesar yang pernah dilakukan, ditujukan untuk menstabilkan pasar dan meredakan tekanan harga.
IEA lebih lanjut merinci bahwa cadangan minyak dari negara-negara di Asia dan Oseania akan segera mengalir, sementara pasokan dari Eropa dan Amerika dijadwalkan akan tersedia pada akhir Maret. Langkah terkoordinasi ini diharapkan dapat memberikan bantalan terhadap gejolak pasokan.
Erik Meyersson dari SEB kembali menyoroti kekhawatiran pasar, menyatakan, “Seiring dengan konflik yang kini memasuki minggu ketiga, ketidakpastian mengenai penyelesaiannya telah membuat pasar global semakin cemas akan potensi spiral eskalasi yang tak terkendali.”
Namun, di tengah ketegangan ini, sebuah pandangan yang lebih optimis disampaikan oleh Menteri Energi AS, Chris Wright. Ia menyatakan pada hari Minggu bahwa dirinya memperkirakan konflik antara AS dan Iran akan mereda dalam beberapa minggu ke depan, mengisyaratkan pemulihan pasokan minyak dan penurunan biaya energi setelahnya. Ini membawa harapan akan stabilisasi yang sangat dinantikan oleh pasar minyak global.