Intip barisan saham incaran asing jelang Lebaran

JAKARTA – Di tengah volatilitas pasar yang terus membayangi, saham-saham emiten komoditas emas dan batu bara berhasil mencuri perhatian investor asing. Saham-saham ini mendominasi daftar dengan net buy asing terbesar, bahkan ketika pasar secara keseluruhan mencatat neraca transaksi asing yang negatif. Beberapa emiten, seperti AADI dan ARCI, tetap membukukan nilai beli bersih yang signifikan, menunjukkan kepercayaan investor terhadap sektor ini.

Advertisements

Pada perdagangan Selasa, 17 Maret 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,2% meskipun diwarnai aksi net sell asing sebesar Rp679,22 miliar. Secara year to date (YtD), level IHSG yang berada di 7.106,83 ini mencerminkan koreksi 17,81%, dengan total net sell asing mencapai Rp8,51 triliun.

PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS) menjadi primadona di hari perdagangan tersebut, mencatat net buy asing fantastis sebesar Rp727,82 miliar. Minat beli yang kuat ini mendorong harga saham EMAS melonjak 4,68%, ditutup pada level Rp9.500 per saham.

Menyusul EMAS, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) dari sektor batu bara juga menarik perhatian investor global. Saham AADI ditutup menguat 1,45% ke Rp10.500, didukung oleh net buy asing senilai Rp113,64 miliar. Tak ketinggalan, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) turut mencatatkan nilai beli bersih asing sebesar Rp73 miliar, dengan penguatan harga saham 3,04% menjadi Rp3.050.

Advertisements

Daftar saham incaran asing berlanjut dengan PT Indo Tambangraya Tbk. (ITMG), yang membukukan net buy asing Rp54,70 miliar dan menguat 0,63% ke Rp28.000. Di posisi berikutnya, PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI) juga menarik minat beli asing sebesar Rp53,99 miliar, meskipun harga sahamnya sedikit terkoreksi 5,33% menjadi Rp1.600.

Dalam kondisi IHSG yang bergejolak, analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan, memberikan rekomendasi saham strategis, menyarankan investor untuk melirik saham-saham diskon dengan potensi dividen tinggi. Untuk AADI, Nafan menetapkan target harga 1 di Rp10.575, target harga 2 di Rp10.900, dan target harga 3 di Rp12.000. Menurutnya, secara fundamental AADI mampu mencetak laba yang tebal, bahkan saat harga batu bara dunia berada di level moderat US$100 hingga US$120 per ton.

Nafan juga merekomendasikan ARCI dengan target harga 1 di Rp1.880, target harga 2 di Rp2.020, dan target harga 3 di Rp2.490. Emiten emas ini dinilai diuntungkan oleh harga emas global yang sempat menyentuh rekor tertinggi di atas US$5.000 per ons pada awal 2026. Situasi ini membuat margin keuntungan ARCI melebar secara eksponensial. “Setiap kenaikan harga emas langsung tercermin pada pendapatan dan laba bersih perusahaan,” ujar Nafan kepada Bisnis, Selasa (17/3/2026).

Namun, Nafan menambahkan bahwa masuknya investor asing secara selektif ini kurang kuat untuk menopang laju IHSG secara keseluruhan. Secara teknikal, dalam skenario positif, Nafan memprediksi IHSG akan menguji level 8.394 tahun ini. Sebaliknya, dalam skenario negatif, IHSG bisa tertekan hingga menguji level 6.746.

Menurutnya, sentimen pasar saat ini lebih banyak didominasi oleh kondisi fiskal dan geopolitik global. Pasar mengapresiasi langkah Bank Indonesia dalam mempertahankan BI-Rate di level 4,75% demi menjaga stabilitas rupiah dan arus modal asing di tengah ketidakpastian global, apalagi terkait dengan dampak perang AS-Iran. Selain itu, keputusan Presiden Prabowo untuk menahan skenario pelebaran defisit APBN di atas 3% dianggap sebagai langkah yang tepat dan dapat menjadi momentum untuk berefisiensi serta realokasi anggaran. Hal ini diharapkan memberikan efek positif bagi IHSG sebelum libur panjang.

“Jika ke depan pemerintah menjalankan kebijakan pro-pasar, capital inflow pasti akan mengalir ke pasar modal Tanah Air. Oleh karena itu, BEI dan OJK, bersama seluruh stakeholders, juga harus menjalankan reformasi pasar modal secara menyeluruh,” tandas Nafan, menekankan pentingnya kebijakan yang mendukung investasi.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Advertisements