Ekspor produk ekonomi kreatif Rp 486,3 triliun, belum termasuk produk digital

Sektor ekonomi kreatif Indonesia menunjukkan performa yang membanggakan dengan nilai ekspor yang mencapai sekitar US$29,21 miliar atau setara Rp486,3 triliun (dengan kurs Rp16.670 per US$ pada akhir tahun lalu) sepanjang periode Januari hingga November 2025. Pencapaian luar biasa ini bahkan belum memperhitungkan kontribusi dari ekspor produk digital, yang mengindikasikan potensi pertumbuhan yang jauh lebih besar di masa mendatang.

Advertisements

Angka fantastis US$29,21 miliar tersebut bersumber dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang terklasifikasi dalam kode Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 264. Capaian ini sukses melampaui target tahunan yang ditetapkan sebesar US$26,4 miliar, dengan realisasi mencapai 110% dari target, menegaskan kekuatan sektor ekonomi kreatif nasional.

Meski demikian, Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, mengungkapkan bahwa data ekspor yang tercatat saat ini masih didominasi oleh produk kreatif dalam bentuk fisik. “Ini masih ekspor kreatif berbentuk fisik. Yang digital belum bisa tercatat,” ujar Teuku Riefky Harsya saat melakukan kunjungan ke kantor Katadata di kawasan Blok M, Jakarta, pada Jumat (27/3).

Produk ekonomi kreatif digital yang dimaksud mencakup beragam inovasi seperti desain grafis, animasi, pengembangan aplikasi, hingga berbagai pekerjaan kreatif yang berbasis pada platform digital. Kategori-kategori ini merepresentasikan wajah ekonomi masa depan yang belum sepenuhnya terwadahi dalam sistem pencatatan ekspor nasional.

Advertisements

Merespons tantangan ini, Kementerian Ekonomi Kreatif tengah berkoordinasi secara intensif dengan Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta berbagai pihak terkait lainnya. Upaya ini bertujuan untuk merumuskan mekanisme agar transaksi ekspor digital dapat tercatat secara resmi dan akurat dalam data nasional.

Pencatatan yang komprehensif ini menjadi sangat vital. Pasalnya, menurut Teuku Riefky, banyak pelaku ekonomi kreatif Indonesia yang telah menerima pesanan atau pekerjaan dari luar negeri melalui platform digital. Namun, kontribusi signifikan mereka belum sepenuhnya terintegrasi dalam data ekspor nasional, menyebabkan potensi ekonomi yang sesungguhnya belum sepenuhnya terungkap.

Secara rinci, nilai ekspor dari masing-masing subsektor ekonomi kreatif menunjukkan dominasi produk fisik sebagai penopang utama:

  • Fesyen: US$16.370,5 juta
  • Kriya: US$12.034,1 juta
  • Kuliner: US$720,8 juta
  • Pengembang Game: US$60,8 juta
  • Penerbitan: US$16,1 juta
  • Seni Rupa: US$8,6 juta
  • Fotografi: US$0,8 juta
  • Musik: US$0,07 juta

Data tersebut secara gamblang memperlihatkan bahwa struktur ekspor ekonomi kreatif Indonesia masih sangat bertumpu pada produk berbasis barang fisik. Subsektor fesyen dan kriya secara konsisten menjadi komoditas ekspor utama yang menopang angka-angka pertumbuhan ini.

Adapun, pasar terbesar bagi produk ekonomi kreatif Indonesia tersebar di beberapa negara utama, menunjukkan jangkauan global yang luas:

  • Amerika Serikat (AS): US$9,14 miliar
  • Swiss: US$3,70 miliar
  • Jepang: US$1,53 miliar
  • Thailand: US$1,43 miliar
  • Uni Emirat Arab: US$1,32 miliar
  • Negara lainnya: US$12,06 miliar

Sebaran pasar ini mengindikasikan bahwa produk ekonomi kreatif Indonesia memiliki daya saing dan penerimaan yang kuat, baik di negara-negara maju maupun di kawasan Asia. Ini menunjukkan diversifikasi pasar yang sehat dan kemampuan produk lokal untuk menembus pasar global.

Secara keseluruhan, kontribusi sektor ekspor ekonomi kreatif patut diacungi jempol. Menurut Teuku Riefky, sektor ini menyumbang sekitar 12% dari total ekspor nonmigas nasional, menegaskan perannya yang krusial dalam pertumbuhan ekonomi dan diversifikasi sumber pendapatan negara.

Advertisements