Pasar saham Asia kompak rontok usai harga minyak melejit ke USD 116 per barel

Pagi yang kelabu menyelimuti pasar saham Asia pada Senin, 30 Maret 2026, ketika indeks-indeks utama di kawasan ini kompak tergelincir. Pelemahan ini terjadi seiring dengan lonjakan harga minyak mentah global yang sempat menyentuh angka USD 116 per barel.

Advertisements

Gelombang kenaikan harga tidak hanya terbatas pada minyak, namun juga melanda berbagai komoditas vital lainnya. Penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis dunia, memicu lonjakan harga yang signifikan untuk gas, pupuk, plastik, dan aluminium. Diperkirakan, dampak berantai ini juga akan menyeret naik biaya bahan bakar pesawat dan pelayaran, harga pangan, obat-obatan, serta produk petrokimia.

Kondisi ini, seperti dilaporkan Reuters pada Senin (30/3), berpotensi besar untuk memicu lonjakan inflasi yang tajam sekaligus meningkatkan risiko resesi di sebagian besar negara di dunia, menciptakan tantangan ekonomi yang serius.

Di antara bursa-bursa regional, Indeks Nikkei Jepang mengalami penurunan signifikan sebesar 3,4 persen pada hari itu, menambah total kerugiannya sepanjang bulan Maret menjadi hampir 13 persen. Senada, pasar saham Korea Selatan juga menunjukkan tren negatif dengan penurunan 3 persen pada hari Senin, sementara indeks saham-saham unggulan di China melemah tipis 0,2 persen. Secara keseluruhan, Indeks MSCI terluas untuk saham Asia-Pasifik di luar Jepang mencatatkan koreksi sebesar 1,3 persen, mencerminkan sentimen pasar yang bearish di kawasan tersebut.

Advertisements

Bruce Kasman, Kepala Ekonomi Global JPMorgan, memberikan pandangan serius mengenai kondisi ini. Menurutnya, “Semakin lama Selat Hormuz tetap tertutup, semakin tajam penarikan pasokan penyangga yang ada, dan hal ini dapat memicu peningkatan drastis harga minyak mentah, gas alam, serta komoditas vital lainnya.” Kasman lebih lanjut memperingatkan bahwa skenario di mana Selat tersebut tetap tidak dapat diakses untuk satu bulan tambahan akan sangat konsisten dengan proyeksi kenaikan harga minyak yang merangkak menuju USD 150 per barel, diiringi oleh potensi pembatasan signifikan bagi konsumen energi di sektor industri.

Di tengah gejolak pasar ini, harga emas terlihat mendapat sedikit dukungan. Komoditas logam mulia ini diperdagangkan pada level USD 4.493 per troy ounce, berfungsi sebagai aset aman dan lindung nilai potensial terhadap risiko inflasi yang membayangi. Laporan dari oilprice.com menunjukkan bahwa harga minyak mentah jenis Brent melonjak ke USD 116 per barel pada perdagangan hari ini, mencatatkan kenaikan impresif sebesar 3,66 persen. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami kenaikan signifikan sebesar 3,18 persen, menempatkan harganya pada level USD 102,80 per barel.

Advertisements