Presiden Donald Trump mengungkapkan niatnya untuk mempertimbangkan penarikan Amerika Serikat dari Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Pernyataan kontroversial ini muncul menyusul kritik berulang Trump terhadap kurangnya dukungan dari negara-negara anggota NATO dalam konfrontasi militer melawan Iran.
Saat diwawancarai oleh surat kabar Inggris, Telegraph, Trump bahkan secara blak-blakan menyebut NATO tak lebih dari “macan di atas kertas,” sebuah kiasan yang menggambarkan kurangnya kekuatan atau pengaruh nyata di balik penampilan yang mengesankan. “Presiden Putin juga tahu itu,” tambah Trump, seperti dikutip dari Reuters pada Rabu (1/4), menggarisbawahi persepsi kelemahan aliansi tersebut.
Keresahan Trump ini berakar pada keengganan anggota NATO, yang dikenal sebagai aliansi militer defensif, untuk mengerahkan aset militer mereka guna membantu AS membuka kembali Selat Hormuz. Jalur pelayaran minyak vital itu secara efektif ditutup oleh Iran sebagai respons terhadap serangan yang dilancarkan AS dan Israel terhadap negaranya. Situasi ini memperparah ketegangan geopolitik di kawasan tersebut.
Komentar Trump pada Rabu (1/4) merupakan bagian terbaru dari serangkaian teguran keras yang ditujukan kepada anggota NATO yang dianggap tidak membantu AS. Sehari sebelumnya, pada Selasa (31/3), ia bahkan menyarankan negara-negara yang menghadapi kesulitan bahan bakar jet akibat penutupan Selat Hormuz untuk “mengumpulkan keberanian” dan secara mandiri mengambil bahan bakar dari jalur tersebut.
Melalui platform Truth Social, Trump menegaskan, “Kalian harus mulai belajar bagaimana berjuang untuk diri sendiri, AS tidak akan ada lagi untuk membantu kalian, sama seperti kalian tidak ada untuk kami.” Pernyataan ini memperjelas sikap kerasnya yang menuntut timbal balik dari para sekutu.
Sikap Trump ini menimbulkan kebingungan di kalangan anggota NATO, yang fondasinya dibangun di atas prinsip pertahanan kolektif. Pasal 5 aliansi tersebut secara tegas menyatakan bahwa serangan terhadap satu negara dianggap sebagai serangan terhadap semua negara anggota. Namun, pasal ini baru diaktifkan sekali sepanjang sejarah NATO, yakni pasca-serangan 11 September 2001 terhadap AS, di mana lebih dari 1.100 tentara non-AS tewas setelah sekutu bergabung dalam perang AS di Afghanistan.
Terlepas dari pengorbanan sekutu pada masa lalu, Trump telah lama mempertanyakan komitmen mereka jika AS membutuhkan bantuan. Skeptisisme terhadap aliansi tersebut semakin intensif sejak AS dan Israel melancarkan perang melawan Iran pada 28 Februari. “Saya tidak melakukan upaya besar, hanya berkata, ‘Hei,’ Anda tahu, saya tidak terlalu memaksa. Saya hanya berpikir itu seharusnya otomatis,” tutur Trump kepada Telegraph, mengungkapkan harapannya akan dukungan spontan.
Trump juga mengklaim telah mendukung Ukraina, meskipun ia menegaskan bahwa konflik tersebut bukan masalah langsung bagi Amerika Serikat. “Ukraina bukanlah masalah kami. Itu adalah ujian, dan kami ada di sana untuk mereka, dan kami akan selalu ada di sana untuk mereka. Mereka tidak ada di sana untuk kami,” katanya. Meskipun AS telah memberikan beberapa intelijen militer kepada Ukraina dan mengizinkan negara-negara Eropa membeli senjata Amerika atas nama Kyiv, pemerintah AS belum mengesahkan paket dukungan militer atau keuangan baru untuk Ukraina sejak masa kepresidenan Joe Biden.
Dalam serangan terbarunya terhadap NATO, Trump secara khusus menargetkan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer. Starmer awalnya menolak permintaan presiden untuk menggunakan pangkalan militer Inggris dalam operasi ofensif terhadap Iran, yang menurut pandangan Inggris adalah tindakan ilegal. Namun, Starmer kemudian bergabung dalam pertahanan melawan pembalasan Iran setelah aset militer Inggris di Timur Tengah diserang.
Dalam wawancara dengan Telegraph, Trump bahkan mengejek armada kapal perang Inggris. “Kalian tidak memiliki angkatan laut. Kalian terlalu tua dan memiliki kapal induk yang tidak berfungsi,” ujarnya. Menanggapi komentar Trump tersebut, Starmer menekankan bahwa NATO tetap menjadi “aliansi militer paling efektif yang pernah ada di dunia.” Ia juga menegaskan kembali bahwa Inggris tidak akan “terlibat” dalam perang dengan Iran.