Jakarta, IDN Times – Kabar mengenai akuisisi saham perusahaan ride hailing Gojek oleh Danantara Indonesia tengah menjadi sorotan. Meskipun isu ini mencuat ke publik, Kepala Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Rosan Roeslani, masih enggan memberikan konfirmasi mendalam terkait pernyataan tersebut.
“Sudah dong, nanti ya kalau itu,” ujar Rosan singkat saat ditemui di kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Senin (4/5/2026).
Isu akuisisi ini pertama kali diungkapkan oleh Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad. Pernyataan tersebut disampaikan sebagai respons atas tuntutan Aliansi Gerakan Buruh Bersama Rakyat dalam peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) pada Jumat (1/5/2026), di mana para serikat buruh mendesak pemerintah untuk lebih memperhatikan kesejahteraan mitra pengemudi.
1. Komitmen Investasi Strategis Danantara

Menanggapi kabar tersebut, Tim Komunikasi Danantara Indonesia memberikan pernyataan tertulis yang menegaskan bahwa setiap langkah investasi mereka dilakukan dengan penuh kedisiplinan. Pihaknya menyatakan selalu melakukan evaluasi mendalam berdasarkan kesesuaian strategis, fundamental perusahaan, profil risiko-imbal hasil, serta penciptaan nilai jangka panjang sesuai mandat yang ada.
“Danantara Indonesia secara berkelanjutan mengevaluasi beragam peluang untuk melaksanakan mandat kami dalam memberikan dampak sosial-ekonomi yang bermakna bagi Indonesia,” tulis pihak Danantara dalam keterangan resminya.
2. Penegakan Kebijakan bagi Mitra Pengemudi Ojol

Merujuk pada pernyataan Dasco, langkah pemerintah mengakuisisi saham aplikator menjadi bagian dari upaya untuk memperbaiki nasib mitra pengemudi ojek dan taksi online. Hal ini juga selaras dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 27 Tahun 2026 tentang Perlindungan Pekerja Transportasi Online, yang mewajibkan penyediaan BPJS Kesehatan dan pembatasan potongan komisi aplikator maksimal 8 persen.
“Sistem kebijakan akan disesuaikan secara perlahan tapi pasti karena menyangkut sistem yang kompleks. Langkah pertama adalah menurunkan potongan aplikator dari sebelumnya 20 atau 10 persen, menjadi maksimal 8 persen,” jelas Dasco di Gedung DPR RI, Jumat (1/5/2026).
Dasco menekankan bahwa pemerintah kini memiliki posisi tawar yang lebih kuat untuk memperjuangkan keadilan bagi mitra pengemudi karena telah masuk sebagai pemegang saham di perusahaan aplikator tersebut. Pemerintah juga berjanji untuk terus melibatkan organisasi pengemudi dalam proses pengambilan keputusan di masa depan.
3. Danantara Incar Saham Gojek dan Potensi Ekspansi ke Grab

Dalam keterangannya, Dasco memastikan bahwa saat ini saham yang telah dibeli oleh Danantara adalah saham Gojek. Ia menegaskan bahwa pembelian dilakukan secara langsung oleh Danantara, bukan melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Hal ini berbeda dengan kepemilikan saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk melalui anak usahanya, Telkomsel, yang saat ini menguasai sekitar 2 persen saham PT Gojek Tokopedia Tbk (GoTo).
“Pembelian langsung oleh Danantara,” tegas Dasco.
Meski mengonfirmasi masuknya Danantara sebagai pemegang saham, Dasco mengaku tidak memiliki informasi rinci mengenai kapan transaksi tersebut efektif dilakukan. Selain Gojek, beredar pula bocoran bahwa Danantara juga membidik peluang investasi pada perusahaan transportasi online lainnya, yakni Grab, sebagai bagian dari strategi investasi mereka ke depan.
Ringkasan
Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara dikabarkan telah mengakuisisi saham Gojek sebagai langkah strategis pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan mitra pengemudi transportasi daring. Kepala BPI Danantara, Rosan Roeslani, belum memberikan konfirmasi detail, namun pihak Danantara menegaskan bahwa setiap keputusan investasi dilakukan melalui evaluasi mendalam untuk memberikan dampak sosial-ekonomi yang bermakna. Langkah ini sejalan dengan regulasi pemerintah terkait pembatasan potongan komisi aplikator serta kewajiban perlindungan bagi pekerja transportasi online.
Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, memastikan bahwa pembelian saham tersebut dilakukan langsung oleh Danantara dan bukan melalui BUMN. Pemerintah bertujuan memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam mengawal kebijakan yang berpihak pada keadilan bagi mitra pengemudi. Selain kepemilikan saham di Gojek, terdapat informasi bahwa Danantara juga berpotensi membidik peluang investasi pada perusahaan transportasi online lainnya, yakni Grab, sebagai bagian dari strategi investasi jangka panjang.