Membanding Rapor Emiten Boy Thohir ADRO, AADI dan ADMR, Mana yang Menarik??

Tiga emiten di bawah naungan Garibaldi “Boy” Thohir telah merilis laporan keuangan untuk kuartal pertama tahun 2026. Perusahaan tersebut meliputi PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR), dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI). Menariknya, ketiga emiten ini menunjukkan performa keuangan yang variatif sepanjang tiga bulan pertama tahun ini.

Advertisements

Kinerja ADRO Paling Moncer

Di antara ketiganya, ADRO mencatatkan pertumbuhan laba paling impresif. Perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar US$ 128,13 juta atau sekitar Rp 2,17 triliun (dengan kurs Rp 16.993 per dolar AS). Angka ini melonjak 67,07% secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan perolehan pada kuartal pertama 2025 yang sebesar US$ 76,69 juta.

Lonjakan profitabilitas ADRO didorong oleh kenaikan pendapatan yang mencapai US$ 470,90 juta, naik dari US$ 381,61 juta pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan tersebut disumbang oleh penjualan ekspor dan impor kepada pihak ketiga sebesar US$ 169,62 juta, serta kontribusi dari pihak berelasi melalui jasa pertambangan sebesar US$ 194,34 juta dan penjualan hasil tambang sebesar US$ 96,39 juta. Meski pendapatan naik, beban pokok pendapatan perseroan juga meningkat menjadi US$ 292,34 juta dari sebelumnya US$ 271,28 juta. Di lantai bursa, saham ADRO mencatatkan kenaikan signifikan secara year-to-date (ytd) sebesar 38,67%, meski sempat terkoreksi 0,40% ke level Rp 2.510.

Advertisements

Laba ADMR Tumbuh 34 Persen

Tren positif juga dirasakan oleh ADMR. Perseroan melaporkan laba bersih sebesar US$ 87,70 juta, naik 33,99% dibandingkan kuartal pertama 2025 yang berada di angka US$ 65,45 juta. Pendapatan ADMR tercatat tumbuh 33,79% menjadi US$ 267,49 juta dibandingkan US$ 199,93 juta pada tahun sebelumnya.

Komposisi pendapatan ADMR berasal dari penjualan kepada pihak ketiga sebesar US$ 169,63 juta, dengan pelanggan utama seperti PT Kinxiang New Energy, Posco International Corporation, dan PT Risun Wei Shan Indonesia. Sementara itu, penjualan kepada pihak berelasi, yakni Adaro International (Singapore) Pte. Ltd., mencapai US$ 96,82 juta. Sejalan dengan pertumbuhan bisnisnya, beban pokok pendapatan meningkat menjadi US$ 142,32 juta. Respons pasar terhadap kinerja ini cukup positif, di mana saham ADMR menguat 4,05% ke posisi Rp 1.925 dan mencatatkan kenaikan 23,40% secara ytd.

Kinerja AADI Tertekan

Berbeda dengan dua entitas lainnya, AADI mencatatkan penurunan performa pada kuartal awal 2026. Laba bersih perseroan terkoreksi 27,02% menjadi US$ 143,03 juta atau setara Rp 2,43 triliun, dari US$ 195,99 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan laba ini selaras dengan pendapatan yang menyusut menjadi US$ 1,04 miliar dari US$ 1,16 miliar pada kuartal I 2025.

Penurunan pendapatan AADI terjadi pada lini penjualan batu bara dan logistik kepada pihak ketiga yang turun menjadi US$ 928,14 juta. Begitu pula pendapatan dari pihak berelasi yang tercatat sebesar US$ 108,9 juta. Meski pendapatan menurun, perseroan berhasil menekan beban pokok pendapatan menjadi US$ 786,63 juta dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar US$ 817,02 juta. Di pasar saham, harga saham AADI sempat melemah 5,39% ke level Rp 10.975, namun secara akumulatif sejak awal tahun (ytd), sahamnya masih mencatatkan kenaikan impresif sebesar 57,35%.

Ringkasan

Tiga emiten di bawah naungan Boy Thohir, yakni ADRO, ADMR, dan AADI, menunjukkan kinerja keuangan yang bervariasi pada kuartal pertama 2026. ADRO mencatatkan pertumbuhan laba paling impresif sebesar 67,07% menjadi US$ 128,13 juta yang didorong oleh kenaikan pendapatan signifikan. Senada dengan itu, ADMR juga membukukan kenaikan laba bersih sebesar 33,99% menjadi US$ 87,70 juta berkat peningkatan penjualan kepada pihak ketiga dan relasi.

Berbeda dengan kedua entitas lainnya, AADI mengalami tekanan kinerja dengan penurunan laba bersih sebesar 27,02% menjadi US$ 143,03 juta akibat penyusutan pendapatan. Meskipun demikian, secara akumulatif sejak awal tahun (ytd), saham AADI tetap mencatatkan penguatan paling tinggi dibandingkan ADRO dan ADMR. Ketiga perusahaan ini menghadapi dinamika beban pokok pendapatan yang bervariasi seiring dengan fluktuasi operasional di pasar domestik maupun internasional.

Advertisements