
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan pada perdagangan Senin (4/5) pagi. Sentimen negatif yang dipicu oleh ketidakpastian kondisi geopolitik di Timur Tengah dinilai menjadi faktor utama di balik pelemahan mata uang Garuda tersebut.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah di level Rp 17.331 per dolar AS. Tekanan terhadap rupiah terus berlanjut hingga pukul 09.48 WIB, di mana nilai tukarnya merosot ke level Rp 17.459 per dolar AS.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa gejolak geopolitik global menjadi pemicu utama fluktuasi ini. Menurutnya, faktor tersebut menyumbang sekitar 50% terhadap tekanan pasar saat ini, meskipun terdapat variabel pendukung lainnya.
Baca juga:
- Tiga Risiko Besar Mengintai Ekonomi RI: Rupiah Lemah, Biaya Utang, Defisit APBN
- Rupiah Hari Ini Diproyeksikan Melemah, Masih Tertekan Sentimen Global
- Rupiah Jeblok Lagi ke Level 17.300 per Dolar AS Jelang Pengumuman Bunga The Fed
Selain isu geopolitik, Ibrahim memaparkan beberapa indikator lain yang turut mempengaruhi pergerakan rupiah, di antaranya fluktuasi harga minyak mentah dan logam mulia, dinamika politik di Amerika Serikat, kebijakan bank sentral global, serta mekanisme supply and demand di pasar uang.
Kondisi kian pelik mengingat eskalasi konflik antara Iran, AS, dan Israel berpotensi berlangsung dalam jangka panjang. Ketegangan ini semakin dipertegas dengan langkah Presiden AS Donald Trump yang dilaporkan tengah menyiapkan armada misil.
Ibrahim memprediksi potensi perang berkepanjangan dapat segera terjadi dalam waktu dekat. Hal ini terlihat dari tren penguatan dolar AS, lonjakan harga minyak, serta pelemahan harga emas dunia. Situasi semakin diperkeruh oleh serangan Israel ke Lebanon yang mengindikasikan bahwa upaya gencatan senjata saat ini sangat rapuh.
Di sisi lain, dinamika politik di internal AS juga memberikan dampak signifikan terhadap pasar. Pemerintahan Trump dikabarkan membutuhkan dana besar untuk membiayai kebutuhan perang. Keputusan mengenai anggaran ini tengah digodok di Kongres AS. Ibrahim menilai loyalitas Partai Republik di Kongres kemungkinan besar akan memuluskan persetujuan anggaran perang tersebut dalam waktu dekat.
Terkait kebijakan bank sentral global, Ibrahim memproyeksikan adanya kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan mendatang, terutama jika harga minyak menembus angka US$ 150 per barel. Lonjakan harga minyak tersebut dipastikan akan memicu inflasi, yang kemudian mendorong bank sentral mengambil kebijakan pengetatan moneter.
Meski demikian, Ibrahim menambahkan bahwa jika harga minyak tetap berada di bawah level US$ 150 per barel, besar kemungkinan bank sentral global akan tetap mempertahankan suku bunga acuannya saat ini.
Ringkasan
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami pelemahan signifikan hingga mencapai level Rp 17.459 pada perdagangan Senin pagi. Kondisi ini dipicu utama oleh ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah akibat eskalasi konflik antara Iran, Israel, dan AS yang berpotensi berlangsung dalam jangka panjang.
Selain faktor geopolitik, tekanan terhadap mata uang Garuda turut dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak mentah, dinamika politik internal AS terkait pendanaan perang, serta kebijakan moneter bank sentral global. Pengamat ekonomi memproyeksikan bahwa potensi kenaikan suku bunga akan tetap bergantung pada pergerakan harga minyak dunia di masa depan.