Kenapa akhir ini siang panas dan sore hujan? Ini kata BMKG

Dalam beberapa waktu terakhir, cuaca di berbagai wilayah Indonesia menunjukkan pola yang serupa: terik matahari yang menyengat sejak pagi hingga siang hari, yang kemudian berganti dengan guyuran hujan pada sore hingga malam hari. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan ciri khas masa peralihan musim atau pancaroba dari musim hujan menuju musim kemarau.

Advertisements

Berdasarkan keterangan resmi BMKG yang dirilis pada 3 dan 4 Mei 2026, kondisi cuaca ekstrem ini terpantau meluas di banyak daerah, termasuk Jabodetabek, sepanjang akhir April hingga awal Mei 2026.

Mengapa Cuaca Terasa Sangat Panas di Siang Hari?

Fenomena suhu udara yang melonjak tinggi dipicu oleh radiasi matahari yang maksimal akibat minimnya tutupan awan. Data BMKG mencatat, pada periode 27–29 April 2026, suhu maksimum harian di beberapa wilayah sempat menembus angka di atas 35 derajat Celsius. Misalnya, Sumatra Utara mencatat suhu hingga 36,8°C, Aceh mencapai 36,6°C, dan Banten berada di angka 36,2°C.

Advertisements

Kondisi ini terjadi karena menguatnya monsun Australia yang membawa massa udara relatif kering, sehingga tutupan awan di langit berkurang drastis. Akibatnya, sinar matahari leluasa mencapai permukaan bumi dan meningkatkan suhu udara secara signifikan.

Proses di Balik Hujan Sore Hari

Meskipun siang hari terasa terik, hujan sering kali turun pada sore hari. Hal ini disebabkan oleh proses konveksi, di mana pemanasan kuat pada siang hari menyebabkan udara panas di permukaan bumi bergerak naik ke atmosfer. Udara tersebut kemudian mendingin dan membentuk awan cumulonimbus yang memicu hujan.

BMKG menjelaskan bahwa perbedaan suhu yang tajam antara pagi dan siang hari memperkuat proses pembentukan awan ini. Umumnya, hujan yang terjadi bersifat lokal dengan durasi singkat, namun berintensitas sedang hingga lebat yang sering kali disertai kilat dan angin kencang.

Dinamika Atmosfer dan Peringatan Kewaspadaan

Selain pemanasan lokal, fenomena ini didorong oleh dinamika atmosfer global dan regional. Selain pengaruh monsun Australia, awal Mei 2026 juga dipengaruhi oleh Madden-Julian Oscillation (MJO) di fase 2 wilayah Samudra Hindia, serta aktifnya Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuatorial di berbagai titik di Indonesia.

Pertumbuhan awan hujan juga diperkuat oleh adanya sirkulasi siklonik di Samudra Hindia barat Sumatera dan Samudra Pasifik utara Maluku Utara. Kondisi ini menciptakan daerah konvergensi dan konfluensi yang mendukung terbentuknya awan-awan hujan di wilayah Indonesia, mulai dari Sulawesi Selatan, Maluku, Bali, hingga Jabodetabek.

Khusus untuk wilayah Jabodetabek, BMKG telah mengeluarkan peringatan dini cuaca untuk periode 4-7 Mei 2026. Pada 4 Mei 2026, sejumlah wilayah seperti Jakarta Timur, Jakarta Selatan, serta Kota dan Kabupaten Bogor berstatus Siaga karena potensi hujan lebat. Sementara itu, wilayah Depok, Tangerang, dan Jakarta Pusat berada dalam status Waspada.

Mengingat potensi terjadinya banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang, masyarakat diimbau untuk tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama pada sore hingga malam hari. BMKG menegaskan bahwa meskipun sebagian wilayah mulai memasuki musim kemarau, kondisi atmosfer yang masih aktif membuat potensi hujan tetap tinggi setidaknya dalam sepekan ke depan. Masyarakat disarankan untuk terus memantau informasi cuaca resmi secara berkala guna mengantisipasi perubahan cuaca yang dinamis.

Ringkasan

Fenomena cuaca panas terik saat siang hari yang diikuti hujan pada sore hari disebabkan oleh masa peralihan musim atau pancaroba. Suhu udara yang melonjak tinggi terjadi karena minimnya tutupan awan akibat pengaruh monsun Australia, sementara hujan pada sore hari dipicu oleh proses konveksi yang membentuk awan cumulonimbus dari pemanasan permukaan bumi.

Selain pemanasan lokal, dinamika atmosfer seperti MJO, Gelombang Kelvin, dan Rossby Ekuatorial turut mendukung terbentuknya awan hujan di berbagai wilayah Indonesia. BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat, banjir, dan angin kencang yang diprediksi masih akan terjadi dalam sepekan ke depan.

Advertisements