Rupiah Anjok ke Rp17.409, Ini Strategi Pemerintah dan BI

JAKARTA — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memimpin rapat koordinasi bersama anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) pada Selasa (5/5/2026). Pertemuan strategis ini secara khusus membahas dinamika nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level sekitar Rp16.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Advertisements

Airlangga menegaskan bahwa pelemahan mata uang tidak hanya dialami oleh Indonesia, melainkan juga terjadi secara global di banyak negara lainnya. Ia menjelaskan bahwa depresiasi rupiah saat ini dipicu oleh tingginya permintaan terhadap mata uang dolar AS, salah satunya didorong oleh kebutuhan selama musim ibadah haji.

Baca Juga: Perkuat Rupiah, Pemerintah Siapkan Penerbitan Panda Bond

“Terkait dengan kondisi rupiah, berbagai negara memang sedang mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Selain itu, biasanya pada masa ibadah haji, permintaan terhadap dolar meningkat,” ungkap Airlangga saat memberikan keterangan pers di kantor Kemenko Perekonomian, Selasa (5/5/2026).

Advertisements

Lebih lanjut, pemerintah akan terus memantau pergerakan nilai tukar secara intensif. Menurut Airlangga, tekanan permintaan terhadap dolar AS diprediksi akan terus berlanjut hingga kuartal II/2026, terutama dipicu oleh periode pembayaran dividen perusahaan-perusahaan besar.

“Biasanya di kuartal kedua ada pembayaran dividen, sehingga permintaan terhadap dolar cukup tinggi. Kami tetap memantau bagaimana perbandingannya dengan negara-negara lain,” tambah pria yang menjabat sebagai Menko Perekonomian sejak 2019 tersebut.

Baca Juga: Disinggung soal Kurs Rp17.407, Purbaya: Perbaikan Rupiah Tugas Bank Sentral

Dalam upaya meredam dampak kenaikan dolar AS terhadap sektor pembiayaan, pemerintah bersama Bank Indonesia telah menyiapkan sejumlah instrumen mitigasi. Salah satu langkah konkret yang akan diambil adalah melalui mekanisme cross-currency swap, yakni perjanjian derivatif untuk menukar arus kas pokok dan bunga dalam mata uang berbeda selama periode tertentu.

Strategi cross-currency swap ini rencananya akan dijalankan dengan menggandeng sejumlah mitra strategis di Asia, seperti China, Jepang, dan Korea Selatan.

Baca Juga: Prabowo Panggil KSSK Hingga Menko Kabinet Merah Putih, Bahas Rupiah?

“Dengan langkah ini, kami berharap ke depan dapat terus menyiapkan komposisi utang yang lebih stabil. Kami juga akan mengoptimalkan penerbitan surat berharga negara dalam mata uang lain, seperti Yen, guna menjaga tekanan terhadap dolar AS,” pungkas Airlangga.

Ringkasan

Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan yang dipicu oleh tingginya permintaan dolar AS, terutama akibat kebutuhan musim ibadah haji serta periode pembayaran dividen perusahaan besar. Pemerintah menegaskan bahwa kondisi depresiasi ini merupakan fenomena global yang turut dialami oleh banyak negara lain di tengah dinamika pasar saat ini.

Untuk memitigasi dampak tersebut, pemerintah bersama Bank Indonesia menerapkan strategi melalui mekanisme cross-currency swap dengan mitra strategis di Asia seperti Jepang, China, dan Korea Selatan. Selain itu, pemerintah berencana mengoptimalkan penerbitan surat berharga negara dalam mata uang selain dolar, seperti Yen, guna menjaga stabilitas komposisi utang nasional.

Advertisements