Saham Samsung Cetak Rekor Tertinggi Berkat Lonjakan Permintaan Chip AI

Saham raksasa teknologi asal Korea Selatan, Samsung Electronics, mencatatkan lonjakan impresif lebih dari 15% pada perdagangan Rabu (6/5). Kenaikan signifikan ini dipicu oleh tingginya permintaan chip untuk kecerdasan buatan (AI) yang kini mulai memicu kekhawatiran akan terjadinya krisis pasokan semikonduktor di tingkat global.

Advertisements

Berkat reli harga saham tersebut, kapitalisasi pasar Samsung kini berhasil menembus angka US$ 1 triliun atau setara dengan Rp 17.405 triliun (dengan asumsi kurs Rp 17.405 per dolar AS). Pencapaian ini menobatkan Samsung sebagai perusahaan Asia kedua yang sukses menembus valuasi tersebut, menyusul jejak TSMC.

Optimisme investor terhadap bisnis chip memori AI menjadi katalis utama kenaikan ini, terutama setelah perusahaan merilis laporan kinerja kuartal pertama yang melampaui ekspektasi pasar. Tercatat, laba operasional Samsung melonjak lebih dari delapan kali lipat menjadi 57,2 triliun won atau Rp 687,5 triliun, sementara pendapatan perusahaan mencapai rekor tertinggi di angka 133,9 triliun won atau setara Rp 1.608,2 triliun. Hal ini semakin menegaskan posisi produsen chip memori sebagai salah satu penerima manfaat utama dari pesatnya investasi AI dunia.

Para analis menilai bahwa lonjakan permintaan chip AI saat ini tidak hanya mendongkrak pasar GPU, tetapi juga memicu kebutuhan mendesak akan memori DRAM dan NAND. Komponen-komponen tersebut kini menjadi tulang punggung utama dalam mendukung infrastruktur pusat data AI.

Advertisements

Yu Jing Jie, analis ekuitas teknologi di Morningstar, menyatakan dalam laporannya sebagaimana dikutip dari CNBC Global, Rabu (6/5), bahwa saat ini terjadi kekurangan pasokan yang sangat besar pada chip memori DRAM dan NAND. Kondisi ini dipicu oleh kebutuhan AI yang sangat tinggi akan bandwidth besar dan kapasitas penyimpanan yang mumpuni.

Kondisi pasar yang ketat ini membuat investor memprediksi bahwa harga chip memori akan tetap berada di level tinggi setidaknya dalam satu hingga dua tahun ke depan. Selain Samsung, saham produsen chip Korea Selatan lainnya, SK Hynix, juga mengalami kenaikan lebih dari 10%. Reli harga saham kedua perusahaan ini turut membawa indeks Kospi menembus level 7.000 untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Saat ini, persaingan antara Samsung dan SK Hynix semakin memanas di pasar high bandwidth memory (HBM), yakni jenis memori berkecepatan tinggi yang menjadi komponen vital bagi server AI generasi terbaru. Samsung sendiri baru saja mengumumkan telah memulai produksi massal chip HBM4, generasi teknologi memori AI terbaru yang diperkirakan akan diintegrasikan ke dalam arsitektur AI Vera Rubin milik Nvidia.

Langkah strategis ini dianggap sebagai upaya serius Samsung untuk mengejar ketertinggalan dari SK Hynix. Saat ini, SK Hynix masih mendominasi pasar HBM global dengan pangsa pasar sekitar 55%, sementara Samsung menguasai sekitar 25%.

Di sisi lain, sentimen positif terhadap saham Samsung juga diperkuat oleh laporan Bloomberg yang menyebutkan bahwa Apple mulai menjajaki pembicaraan dengan Samsung dan Intel untuk kebutuhan produksi chip di Amerika Serikat. Menanggapi dinamika pasar tersebut, analis semikonduktor dari The Futurum Group, Rolf Bulk, menambahkan bahwa harga memori yang tinggi dan kuatnya permintaan AI akan terus menopang pendapatan Samsung dalam jangka panjang. Menurutnya, respons pelanggan yang positif terhadap chip HBM4 Samsung menjadi sinyal kuat bahwa perusahaan mulai berhasil memperkecil jarak teknologi dengan SK Hynix.

Ringkasan

Saham Samsung Electronics melonjak lebih dari 15% hingga mencapai kapitalisasi pasar sebesar US$ 1 triliun akibat tingginya permintaan chip AI. Kenaikan ini didukung oleh performa keuangan kuartal pertama yang impresif dengan laba operasional yang melonjak lebih dari delapan kali lipat. Lonjakan tersebut memposisikan Samsung sebagai perusahaan Asia kedua setelah TSMC yang berhasil menembus valuasi besar tersebut.

Saat ini, Samsung mulai memproduksi massal chip HBM4 untuk bersaing di pasar memori berkecepatan tinggi dan memenuhi kebutuhan infrastruktur pusat data. Perusahaan juga dikabarkan tengah menjalin pembicaraan dengan Apple terkait produksi chip di Amerika Serikat. Analis memperkirakan harga memori akan tetap tinggi dalam beberapa tahun ke depan karena terbatasnya pasokan DRAM dan NAND di pasar global.

Advertisements