Strategi Purbaya Stabilkan Rupiah Tembus Rp17.500: Dari BSF hingga Doa

Di tengah tekanan pasar global yang berdampak pada fluktuasi nilai tukar rupiah, pemerintah menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Purbaya Yudhi Sadewa, mengungkapkan bahwa strategi utama pemerintah saat ini berfokus pada penguatan pasar obligasi atau bond market, alih-alih melakukan intervensi langsung ke pasar valuta asing.

Advertisements

Purbaya menekankan bahwa menjaga stabilitas Surat Berharga Negara (SBN) menjadi langkah krusial untuk mencegah aksi jual besar-besaran oleh investor. Dengan menjaga kepercayaan pelaku pasar di sektor obligasi, pemerintah berupaya menahan arus keluar modal asing yang menjadi salah satu pemicu tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

“Kami tidak masuk langsung ke pasar dolar, tetapi fokus menjaga stabilitas bond market. Upaya ini memerlukan waktu, namun kami terus memantau kondisinya,” ujar Purbaya saat ditemui di Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, Rabu (13/5).

Optimisme pemerintah mulai terlihat seiring dengan sinyal perbaikan di pasar obligasi. Purbaya mencatat bahwa investor asing perlahan kembali masuk ke pasar SBN, yang pada gilirannya memberikan sentimen positif bagi penguatan rupiah. Meski sempat berseloroh bahwa pemerintah turut mengandalkan “doa” dalam proses ini, ia menegaskan bahwa langkah nyata tetap dijalankan melalui arahan kepada Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR).

Advertisements

Salah satu instrumen yang diaktifkan pemerintah untuk meredam volatilitas adalah mekanisme Bond Stabilization Fund (BSF). Menurut Purbaya, stabilitas harga obligasi sangat penting agar investor tidak merasa khawatir terhadap risiko capital loss. Ketika harga obligasi menguat, investor tidak hanya menikmati keuntungan dari kupon, tetapi juga berpotensi mendapatkan capital gain, yang menjadi daya tarik tersendiri bagi investor untuk tetap bertahan di pasar domestik.

“Jika pasar obligasi stabil dan menguat, investor cenderung tidak akan melepas asetnya. Ini adalah langkah kami dalam membantu bank sentral menjaga stabilitas keuangan,” jelasnya.

Terkait kondisi nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level 17.500 per dolar AS, Purbaya memastikan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), khususnya untuk subsidi energi, tetap dalam kondisi aman. Ia menegaskan bahwa perhitungan sebelumnya, yang menggunakan asumsi harga minyak di kisaran US$120 per barel dengan tingkat kurs saat ini, menunjukkan bahwa subsidi energi masih berada dalam batas yang terkendali sehingga tidak memerlukan perhitungan ulang secara mendesak.

Ke depan, pemerintah akan terus melakukan koordinasi intensif dengan Bank Indonesia (BI) untuk memastikan langkah-langkah stabilisasi ini berjalan secara berkelanjutan. Upaya ini diharapkan dapat memberikan kepastian bagi pasar dan menjaga daya tahan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.

Ringkasan

Pemerintah Indonesia, melalui Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa, berfokus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dengan memperkuat pasar obligasi alih-alih melakukan intervensi langsung ke pasar valuta asing. Strategi ini dilakukan dengan mengoptimalkan mekanisme Bond Stabilization Fund (BSF) untuk menjaga kepercayaan investor agar tidak melakukan aksi jual besar-besaran. Dengan menjaga harga Surat Berharga Negara (SBN) tetap stabil, arus keluar modal asing dapat diredam sekaligus memberikan sentimen positif bagi penguatan mata uang nasional.

Selain langkah tersebut, pemerintah memastikan bahwa APBN tetap aman meski kurs rupiah sempat menyentuh level Rp17.500 per dolar AS, termasuk anggaran untuk subsidi energi yang masih terkendali. Koordinasi intensif dengan Bank Indonesia akan terus dilakukan guna memastikan stabilitas keuangan tetap terjaga di tengah ketidakpastian ekonomi global. Langkah nyata ini diharapkan mampu memberikan kepastian pasar serta menjaga ketahanan ekonomi Indonesia secara berkelanjutan.

Advertisements