
Ketegangan di jalur maritim strategis kembali memanas. Iran saat ini tengah merancang mekanisme baru untuk mengatur lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Rencana ini mencakup penentuan rute khusus bagi kapal yang melintas sekaligus penerapan biaya untuk layanan yang diklaim sebagai bentuk layanan khusus dari otoritas Iran.
Ebrahim Azizi, Ketua Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, menegaskan bahwa skema biaya ini hanya akan memberikan keuntungan bagi kapal komersial dan pihak-pihak yang menjalin kerja sama resmi dengan Teheran. Ia juga menyatakan bahwa rute tersebut akan tetap tertutup bagi operator yang terlibat dalam proyek bertajuk ‘proyek kebebasan’. Rencana terperinci mengenai kebijakan ini dijadwalkan akan segera diumumkan oleh pemerintah Iran dalam waktu dekat.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan peringatan keras kepada Iran agar segera menempuh jalur negosiasi terkait program nuklir dan konflik yang terus berlangsung. Dalam wawancara telepon dengan stasiun televisi Prancis BFMTV pada Sabtu (16/5), Trump menyatakan keraguannya mengenai peluang tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat.
“Saya tidak tahu. Jika mereka tidak melakukannya, mereka akan menghadapi masa yang sangat sulit. Mereka memiliki kepentingan besar untuk mencapai kesepakatan ini,” ujar Trump kepada koresponden BFMTV. Situasi ini diperkeruh dengan laporan bahwa Trump tengah mempertimbangkan langkah strategis selanjutnya, menyusul kebuntuan dalam perundingan yang bertujuan meredam eskalasi konflik dan membatasi ambisi nuklir Iran.
Konflik ini memiliki latar belakang yang panjang, dimulai dari serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu. Aksi tersebut memicu serangan balasan dari Teheran terhadap Israel dan sekutu AS di kawasan Teluk, yang berujung pada penutupan Selat Hormuz. Meskipun sempat terjadi gencatan senjata pada 8 April melalui mediasi Pakistan, pembicaraan di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan damai yang permanen.
Hingga saat ini, Trump telah memperpanjang status gencatan senjata tanpa batas waktu, namun tetap mempertahankan blokade terhadap kapal-kapal yang berlayar menuju atau keluar dari pelabuhan Iran. Sejak 13 April, blokade angkatan laut AS secara intensif menyasar lalu lintas maritim Iran di jalur air vital tersebut.
Sebelumnya, pada awal Mei, Presiden Trump sempat menginisiasi ‘Proyek Kebebasan’ yang menjanjikan pengawalan bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, meski Iran bersikeras bahwa setiap transit memerlukan izin resmi dari otoritas mereka. Namun, inisiatif pengawalan tersebut akhirnya diputuskan untuk ditangguhkan oleh pihak AS.
Ringkasan
Iran berencana memberlakukan mekanisme baru berupa rute khusus dan biaya tambahan bagi kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. Kebijakan ini akan membatasi akses bagi operator yang terlibat dalam proyek keamanan yang diprakarsai Amerika Serikat, sementara perincian resminya segera diumumkan oleh pemerintah Iran dalam waktu dekat.
Presiden Donald Trump menanggapi situasi tersebut dengan memberikan peringatan keras agar Iran segera menempuh jalur negosiasi terkait program nuklir dan konflik yang sedang berlangsung. Ketegangan di kawasan ini masih tinggi akibat kebuntuan diplomatik, berlanjutnya blokade angkatan laut AS, serta kegagalan mencapai kesepakatan damai permanen sejak gencatan senjata pada April lalu.