
JAKARTA – Di tengah lesunya kinerja pasar saham domestik, pelaku pasar kini menerapkan strategi yang lebih terukur. Mengedepankan kehati-hatian sembari tetap memantau peluang akumulasi menjadi kunci utama dalam menghadapi dinamika pasar saat ini.
Managing Director PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk. (AMOR), Arief Wana, mengungkapkan bahwa pihaknya mengadopsi pendekatan yang berhati-hati namun tetap oportunistik dalam merespons ketidakpastian ekonomi global. Menurut Arief, tekanan pada pasar saham Indonesia masih cukup signifikan akibat lonjakan harga minyak dunia yang dipicu konflik geopolitik, berlanjutnya arus keluar modal asing, serta risiko melambatnya pertumbuhan laba emiten.
Baca Juga: Ashmore (AMOR) Guyur Dividen Pemegang Saham Rp28,6 Miliar di Tengah Aksi Buyback
“Kami menerapkan dua filosofi utama, yaitu cautious dan opportunistic. Kami tidak bisa menyatakan terlalu optimis karena situasi saat ini diwarnai oleh terlalu banyak ketidakpastian,” ujar Arief dalam acara SMBC Indonesia Economic Forum 2026, Selasa (19/5/2026).
Arief menjelaskan bahwa harga minyak dunia telah melonjak sejak Februari akibat ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Kondisi ini diprediksi akan bertahan cukup lama seiring dengan perubahan lanskap geopolitik global. Berdasarkan simulasi Ashmore terhadap episode oil shock dalam 45 tahun terakhir, dibutuhkan waktu sekitar enam hingga tujuh bulan agar harga minyak kembali normal. Ashmore memperkirakan harga minyak akan sulit kembali ke kisaran US$50 hingga US$60 per barel dalam waktu dekat.
Baca Juga: Ashmore Asset Management (AMOR) Bakal Buyback Saham Rp7 Miliar
Kenaikan harga minyak menjadi salah satu risiko terbesar bagi pasar saham domestik karena berpotensi menekan pertumbuhan laba perusahaan. Dalam simulasi perusahaan, pertumbuhan laba per saham (EPS) emiten pada 2026 berisiko turun dari proyeksi 12,2 persen menjadi stagnan apabila harga minyak terus mendaki hingga menembus level US$100 per barel.
Meski begitu, Arief melihat masih ada celah peluang pada sektor tertentu. Sektor energi dan material dasar (basic materials) dinilai dapat memberikan keuntungan lebih dari kenaikan harga komoditas. “Di situasi seperti ini, kami melihat potensi EPS yang lebih besar. Sektor energi dan basic materials dapat tumbuh lebih cepat saat harga minyak naik,” tambahnya.
Baca Juga: Ashmore Asset (AMOR) Putuskan Tebar Dividen Final Rp18,5 per Saham
Selain faktor komoditas, Ashmore juga menyoroti tekanan akibat arus keluar dana asing. Arief mencatat bahwa keluarnya sejumlah saham dari indeks MSCI turut memberikan tekanan pada indeks domestik belakangan ini. Namun, ia menilai proses rebalancing MSCI justru dapat meningkatkan kredibilitas pasar saham Indonesia sebagai tujuan investasi. Dari sisi valuasi, transparansi, dan tata kelola, pasar modal Indonesia kini dianggap jauh lebih menarik dibandingkan sebelumnya.
Menghadapi kondisi ini, Ashmore mengombinasikan strategi jangka pendek yang bersifat teknikal dengan pendekatan investasi jangka panjang yang berbasis fundamental. Bagi Ashmore, fokus pada fundamental yang lebih jelas menjadi prioritas utama meskipun harus menghadapi volatilitas pasar jangka pendek.
“Dalam jangka panjang, kami tetap fokus pada outlook fundamental yang lebih jelas dibandingkan kondisi pasar saat ini,” tutup Arief.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Ringkasan
PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk menerapkan strategi investasi yang berhati-hati sekaligus oportunistik di tengah ketidakpastian ekonomi global. Kondisi ini dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik, arus keluar modal asing, serta risiko perlambatan pertumbuhan laba emiten. Ashmore memprediksi tekanan harga minyak akan berlangsung lama dan berpotensi menghambat pertumbuhan laba per saham perusahaan di pasar domestik.
Meskipun pasar saham sedang tertekan, Ashmore tetap melihat peluang pada sektor energi dan material dasar yang dinilai mampu tumbuh lebih cepat seiring kenaikan harga komoditas. Selain itu, perusahaan memandang proses rebalancing indeks MSCI dapat memperkuat kredibilitas pasar modal Indonesia dalam jangka panjang. Strategi utama perusahaan tetap mengombinasikan pendekatan teknikal jangka pendek dengan fokus pada fundamental investasi yang kuat.